News

Klinik Asih Sasama

Agar Senyum Mbah Sehat Kembali

Oleh: Husna Farah

HARI beranjak siang, Nouviya datang bersama kedua orang tuanya. Ayahnya memberikan kartu Jamkesmas ke petugas pendaftaran. Ia pasien baru. Ayahnya mengatakan bahwa Nouviya sakit karena ada benjolan di gusi. Nouviya diantar ke ruang pemeriksaan.

Tak sedikit pasien datang dengan keluhan di gigi dan mulut ke Klinik Asih Sasama di Desa Ngloro, Gunungkidul, Yogyakarta. Rerata keluhan yang disampaikan bukan kasus penyakit gigi dan mulut yang umum dan mudah. Cara hidup, sanitasi, dan kepedulian akan kesehatan di Desa Ngloro ini memang masih cukup jauh dari layak.

“Coba dibuka mulutnya, Dek,” dr. Gianne Panji Putri mulai memeriksa dengan kaca mulut dan senter seadanya.

Nouviya masih berusia delapan tahun. Ia tak banyak bicara tentang keluhannya. Namun, dokter  Anne—demikian ia kerap disapa—melihat ada benjolan di gusi bagian belakang rahang atas. Ibu Nouviya menjelaskan sejak kapan anaknya merasakan sakit dan timbulnya benjolan itu. Ada kista di gusinya, secara medis disebut  kista gingival. Itu diagnosis dr. Anne. Dengan peralatan seadanya dan tanpa kompetensi dasar, sebagai dokter umum, ia hanya bisa memeriksa dan mendiagnosis secara umum.

“Hanya tindakan pertolongan pertama saja, selanjutnya dirujuk ke dokter gigi yang jaraknya sekitar 30 kilometer dari kecamatan ini,” ungkap Anne ketika ditanya mengenai penanganan pasien gigi dan mulut di sana.

Jumlah dokter gigi di Gunungkidul amat sedikit. Rata-rata setiap dokter gigi harus melayani dua kecamatan. Setiap kecamatan ada 33.000 jiwa. Jadi, bila dihitung, tiap dokter harus melayani sekitar 60 ribu lebih penduduk.

Kegelisahan dokter Anne akhirnya terobati. Pada Rabu, 4 Maret 2015, dental unit yang diharapkan sudah terpasang di salah satu ruangan, di sebelah ruang pemeriksaan umum Klinik Asih Sasama. Atas bantuan para donatur melalui rekening peduli Humanity First Indonesia, dental unit sudah dapat terbeli dan direncanakan akan segera dioperasikan.

Untuk pengoperasian poli gigi, tentunya dibutuhkan dokter gigi dan peralatan yang memadai. Saat ini, drg. Atiatul Muflih telah bergabung bersama Humanity First Indonesia untuk membantu pendirian poli gigi di Klinik Asih Sasama. Namun, untuk pengoperasian poli gigi masih dibutuhkan peralatan-peralatan kedokteran gigi yang cukup banyak dan biayanya tidak sedikit.

Keluhan Pasien Gigi
TIDAK jarang, dr. Anne menerima pasien gigi dengan berbagai tingkat keluhan. Ia bercerita bahwa pernah mendapat pasien yang wajahnya sudah bengkak sebelah. Saat dilihat, ternyata ada benjolan besar berisi nanah di gusi pasien tersebut. Ia menduga bahwa itu adalah abses—infeksi yang disertai dengan nanah. Ia sangat ingin membantu pasien tersebut. Namun, kompetensinya sebagai dokter umum membatasi ia dalam memberikan terapi. Pasien seperti itu sudah tentu harus segera dirujuk ke dokter gigi di kota supaya segera mendapat penanganan yang tepat.

Suatu kali, ada pasien datang ke klinik. Anne dan rekanannya di klinik memanggil ia dengan sapaan akrab mbah. Sebelumnya, Anne telah mengingatkan mbah untuk rutin sikat gigi dua kali sehari agar tak banyak mengalami kerusakan di gigi dan mulutnya. Mbah hendak melaporkan kegiatan rutin sikat gigi tersebut. Namun, apa yang dilaporkan si mbah justru membuat Anne mengelus dada. Si mbah menyikat gigi rutin dua kali sehari sesuai anjuran, tetapi ia menyikat dengan air telaga. Telaga adalah sebuah tempat di Desa Ngloro yang dijadikan penduduknya sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan yang menggunakan air. Mereka mandi, mencuci baju, memelihara ikan, hingga memandikan sapi di telaga. Saat musim kemarau tiba, airnya yang berwarna hijau kian terlihat pekat.

Harapan Dokter Anne
SAAT ditanya mengenai kapan tanggal pastinya pembukaan poli gigi ini, dr.Anne masih belum dapat memastikan karena masih menunggu sejumlah peralatan yang belum tersedia. Ia berharap donasi yang diberikan para sukarelawan bisa cukup untuk membeli peralatan tersebut. Terselip beberapa cita-cita dari dokter Anne yang telah merasakan setahun mengabdi di Gunungkidul. Ia berharap poli gigi ini bersama klinik nantinya bisa menjadi sebuah rumah sakit yang tak hanya melayani pasien warga sekitar, tetapi juga dapat mewadahi para mahasiswa kedokteran maupun kedokteran gigi yang ingin magang atau berlatih skill.

Leave a Reply