Ahmadiyah dan Kepeduliannya Untuk Lombok

#PeduliGempaLombok

Ahmadiyah dan Kepeduliannya Untuk Lombok

15 orang yang tergabung dalam Tim Humanity First Indonesia (HF Indonesia) bergerak menuju Lombok Timur. Sepanjang jalan, tampak rumah-rumah telah rata dengan tanah. Bau menyengat sesekali tercium. Banyak orang terlihat berlindung di bawah langit yang cerah. Mereka menjauhi bangunan-bangunan yang masih berdiri.

Tidak jauh dari pemandangan itu, nampak HF Indonesia membawa paket sembako untuk dibagikan di beberapa desa, di Kecamatan Sambelia. Sebuah mobil pick up berwarna hitam nampak penuh muatan. Sembako yang dibawa dari Kota Mataram ini akan disalurkan di tiga Desa, Desa Belanting, Desa Obel-Obel, dan Desan Madayin.

Menggunakan atribut HF Indonesia, tim mulai mempersiapkan aksi kemanusiaan. Semua tampak semangat. Sebab, kemanusiaanlah yang menjadi alasan banyak orang datang ke Lombok, memberi bantuan, hingga menyampaikan rasa simpati kepada para korban. Para korban yang siap menerima bantuan nampak menyembunyikan sesuatu di balik raut wajah malu-malu. Meski demikian, tidak dapat dibohongi, raut wajah bahagia mereka tampakkan. Tidak henti rasa terima kasih terucap. Pesan syukur kepada Tuhan Yang Maha Melindungi selintas dipanjatkan dalam gerak bibir yang amat tipis.

Motto Love For All Hatred For None mereka aplikasikan dalam kerja kemanusiaan di Lombok. Masih teringat jelas, bagaimana mereka terusir di daerahnya karena menjadi Muslim Ahmadiyah. Kejadian itu ternyata mereka lupakan karena misi kemanusiaan. Saat ditanya, alasan mereka mau membantu korban yang telah menyerang bahkan mengusir dari tempatnya berlindung dan mencari nafkah, “Love for all, Hatred for none” adalah motto hidup kami,” ujar salah seorang relawan. “Soal mereka pernah menyerang kami, mengusir kami, itu urusan mereka (sama Yang Kuasa), tapi saat mereka kena musibah tugas kami adalah menolong mereka, membantu mereka,” tuturnya.

Seorang relawan HF Indonesia bernama Supardi, sangat menikmati momen saat mereka menolong para korban. Supardi belum lama ini terusir dari kampungnya, karena ia menjadi anggota Ahmadiyah. Kini ia mengungsi di Transito (tempat pengungsian warga Ahmadiyah di Mataram). Ia tak pernah dendam. Bahkan, ia meyakini bahwa menjadi pengungsi adalah takdir yang harus dijalani.

Humanity First (HF) memang dikenal sebagai sebuah badan kemanusian milik Ahmadiyah. Meskipun diasosiasikan dengan Ahmadiyah, HF tidak pernah memakai atau membawa atribut Ahmadiyah. Apalagi hingga menyebarkan faham Ahmadiyah dibalik aksi kemanusiannya.  Seorang dokter muda bernama dr. Rasidah berjalan dari dusun ke dusun untuk mencari korban yang perlu perawatan. Kebanyakan penyakit yang ia tangani adalah luka sobek di bagian tubuh korban. Berkilo-kilometer ia berjalan, 40 lebih orang yang mendapat penanganan medis darinya.

Karena Duka Saudara Kita di Lombok adalah Duka Kita Semua.


Muhammad Nurdin

Mubaligh Ahmadiyah keturunan Lombok

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.