Negeri Keta, Negeri Kita

Tiap siang dan malam anak­anak Negeri Keta berkumpul di rumah Kepala Adat untuk belajar baca, tulis, hitung, dan ngaji. Rumah yang berada di pusat negeri itu juga didaulat sebagai Taman Baca Keta, sebuah ruang belajar dan ujud membumikan semangat dan budaya literasi: Membaca dari Pelosok untuk Indonesia Cerdas.

Negeri Keta, Negeri Kita

Mencerdaskan anak bangsa adalah salah satu cita-­cita besar Indonesia. Demi menciptakan generasi cerdas, berbagai regulasi yang memuat model pembelajaran, mekanisme penilaian dan evaluasi hasil belajar, sosialisasi pengentasan buta huruf, sampai metode pemerataan pendidikan pun telah dibuat. Hasilnya? Indonesia menempati posisi 57 dari 115 negara dalam Education Development Index (IDE) yang dirilis oleh UNESCO pada 2015.

Ada kemajuan dari tahun-­tahun sebelumnya, dimana Indonesia bercokol di posisi 60an bahkan 70an. Ukuran yang digunakan EDI adalah angka partisipasi anak ke pendidikan dasar (dan berdasarkan kesetaraan gender), angka melek huruf (untuk usia di atas 15 tahun), serta angka kebertahanan anak di sekolah dasar (atau dengan kata lain tidak putus sekolah setelah SD).

Sejatinya penilaian dari UNESCO tersebut belum final dan masih ada antitesis yang lebih sahih: realita aktual pendidikan di Indonesia, khususnya di pelosok seperti timur Indonesia. Pendekatan pembangunan yang sentralistis terbukti tidak mencuatkan dampak positif bagi pendidikan di timur Indonesia. Pendidikan mungkin saja masih dianggap sebagai hal asing dan hal tak penting, serta disangka sebagai konsumsi orang­-orang kota semata. Memperkenalkan budaya literasi adalah tindakan krusial yang diperlukan guna menciptakan generasi cerdas, dan memulai dari pelosok adalah sebuah keharusan guna mengejar ketertinggalan pelosok.

Kaya Cengkeh, Minim Akses Pendidikan

Negeri Keta merupakan sebuah desa di ujung timur Pulau Seram, Maluku. Sebagai catatan, istilah negeri memiliki arti yang sama dengan desa. Kata ‘Keta’ sendiri berasal dari kata ‘Ket’ yang berarti rotan. Secara filosofis, rotan memiliki sifat lentur namun kuat, melambangkan orang Keta yang fleksibel, terbuka, namun tetap berkepribadian teguh.

IMG_6783

Warga Negeri Keta menggantungkan hidupnya dari produksi cengkeh dan sagu. Cengkeh dipanen dua kali dalam satu tahun. Prosesnya sederhana: petik-­jemur-­jual. Pada musim panen ini, warga Keta akan ada di kebun sejak matahari terbit hingga terbenam. Mama­mama (baca: ibu-­ibu) Keta lalu memisahkan bunga dari tangkai cengkeh, lalu bunga cengkeh kemudian dikeringkan selama empat sampai lima hari.

Saat­-saat panen begini, jalan setapak Keta akan penuh dengan cengkeh sampai-­sampai membuat orang sulit berjalan. Selesai pengeringan, cengkeh lalu dijual ke pengepul. Inilah puncak pendapatan warga Keta dalam satu tahun. Tak dapat dipungkiri bahwa cengkeh (bersama dengan ikan dan sagu) adalah bukti potensi besar yang dimiliki Keta.

Sejak dulu sampai sekarang Negeri Keta masih melestarikan adat­-istiadat yang diwariskan nenek moyang mereka. Dalam 30 tahun belakangan ini Pak Aidin menjabat sebagai Ketua Adat Negeri Keta yang dipilih melalui musyawarah. Hal ini menjadi salah satu dasar pertimbangan untuk menjadikan rumahnya sebagai Taman Baca Keta, disamping adanya dorongan dari Ali Akbar, anak tertuanya yang saat ini kuliah di Ambon.

Ali Akbar, mahasiswa Jurusan Perikanan Universitas Darussalam Ambon, merupakan penggagas berdirinya taman baca ini. Ia gelisah melihat keterbatasan anak­-anak Keta dalam mengakses pendidikan. Tidak adanya sekolah di Keta membuat anak­-anak Keta berjalan ke desa lain untuk menimba ilmu. SD terdekat berada di desa sebelah, dapat dicapai dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit. Sementara SMP dan SMA terdekat yang letaknya lebih jauh, mesti dicapai dengan berjalan kaki kurang lebih satu jam. Bukan sembarang jalan kaki, mereka harus berjalan di jalan setapak menuju dan menyisir pantai lalu kemudian melintasi sungai dan muara yang tak ada jembatannya. Mereka juga mengandalkan pasang-­surut air laut untuk melintasi tiap-­tiap sungai dan muara. Selain itu, fakta bahwa banyak anak Keta yang belum bisa baca padahal sudah masuk masa-masa ujian membuat Ali tak dapat tidur dengan nyenyak pada saat itu.

Kegelisahan Ali terdengar oleh beberapa pemuda asli Keta yang juga berada di Ambon. Setelah melewati diskusi demi diskusi, Ali menghubungi jaringan pemuda Maluku yang sebelumnya telah berhasil mendirikan taman baca di pelosok lain Maluku. Merasa memiliki bekal berupa cerita dan pengalaman orang lain, Ali kemudian pulang ke Keta bertemu ayahnya, Pak Aidin, menyampaikan maksud dan tujuan taman baca. Mufakat pertemuan itu adalah penggunaan ruang tamu rumah Pak Aidin yang berukuran 4x5m sebagai Taman Baca Keta.

Dari Edukasi ke Resolusi Konflik

Potensi besar Keta yang ironisnya memiliki keterbatasan luar biasa dalam mengakses pendidikan setidaknya telah mendapat jalan keluar dengan adanya taman baca. Ali kembali ke Ambon dan bertemu dengan Ridhwan Ibnu Luqman, relawan Humanity First Indonesia (HFIdn) untuk wilayah Maluku. Saat itu juga Ridhwan merasa perlu memfasilitasi Taman Baca Keta, dengan pertimbangan bahwa semangat literasi yang tulus ini muncul dari pemuda Keta sendiri, bukan atas dan demi kepentingan pihak luar.

Akhir Mei 2016, tim HFIdn berkunjung ke Negeri Keta dalam rangka memfasilitasi Taman Baca Keta serta membawa game EDUKATA, sebuah game ciptaan Humanity First Indonesia dan Serrum Jakarta. Game ini merangsang anak untuk giat menimba ilmu dari berbagai bidang. Selain itu, tim HFIdn juga melakukan peningkatan kapasitas pemuda Keta agar taman baca tersebut dapat ajeg dan terprogram dengan baik.

GOPR2041.MP4_snapshot_00.53_[2016.05.24_20.12.02]

Tiga bulan berjalan (sejak Maret), Taman Baca Keta membawa perubahan positif bagi warga Keta. Tak hanya anak­anak tapi juga orang tua. Banyak anak Keta yang mulai mengenal huruf dan belajar membaca. Sementara anak lain yang sudah mahir membaca belajar menghitung dan membaca cepat, kemudian diikuti dengan latihan mengaji dan praktik shalat. Koleksi buku yang didapat melalui penggalangan secara masif di Ambon dan Jakarta mendapat tempat spesial di Taman Baca Keta.

Ali berpendapat bahwa jadwal kegiatan belajar mengajar di taman baca yang dilakukan tiap siang dan malam bertujuan untuk mengalihkan energi anak Keta yang sebelumnya terbuang di depan televisi menonton sinetron serta terlalu banyak bermain. Taman baca ini juga ia harapkan membangkitkan semangat literasi anak Keta demi mencerdaskan Indonesia dari pelosok. Tenaga pengajarnya sendiri adalah remaja Keta yang bersekolah di tingkat SMP dan SMA. Mereka meluangkan waktunya tiap siang dan malam untuk mengajar anak­anak Keta dengan tulus, tanpa pamrih dan tanpa imbalan. Mereka sendiri sadar bahwa dibahunya dan bahu anak-­anak Keta lah masa depan Negeri Keta.

Tidak hanya berdampak positif pada anak dan remaja Keta, taman baca ini juga punya fungsi deeskalasi konflik. Tahun 2010 lalu, sempat terjadi ketegangan antar warga akibat beda pilihan dalam pilkada setempat. Baku hantam hampir terjadi, namun adu mulut tak terhindarkan. Situasi konflik mencuat dengan munculnya kelompok-kelompok kecil dalam struktur sosial Keta. Situasi sempat kondusif setelah Makan Petita (makan besar bersama seluruh warga Keta) dilakukan. Konflik terdeeskalasi, namun prasangka dan stereotip masih hidup. Hingga kemudian Taman Baca Keta hadir, menarik minat anak­-anak Keta untuk belajar, yang mau tak mau membuat orang tua juga kembali bertemu dan berinteraksi secara asosiatif di ruang publik. Bukan sebagai lawan politik, namun sebagai penjaga Taman Baca Keta.

Negeri Keta punya potensi besar untuk berkembang, namun memiliki keterbatasan luar biasa dalam mengakses pendidikan. Melalui pendidikan, atau setidaknya Taman Baca Keta, perubahan sosial di masa yang akan datang niscaya terjadi. Bukan pembangunan sosial yang sifatnya eksploitatif, melainkan pembangunan sosial berbasis komunitas. Negeri Keta adalah negeri kita. Butuh atensi dan tindak nyata, sama seperti negeri-negeri lain di pelosok Indonesia. Semangat dan budaya literasi mesti terus didengungkan untuk Indonesia cerdas. (PR)

MVI_7080.MOV_snapshot_00.11_[2016.05.24_21.08.26]

1 Response

Leave a Reply