Pengkhidmatan Tanpa Batas

Mengenal dr. Madeeha Chaudry Lebih Dekat
Pengkhidmatan Tanpa Batas: Mengenal dr. Madeeha Chaudry Lebih Dekat

Pengkhidmatan Tanpa Batas: Mengenal dr. Madeeha Chaudry Lebih Dekat

Ada sebuah percakapan menarik antara dr. Madeeha dengan ayahnya, sewaktu dr. Madeeha memberitahukan rencananya untuk berangkat ke Indonesia.

“Pak, saya mau ke Indonesia, lho. Bapak tahu Indonesia itu di mana?” tanya dr. Madeeha.

“Ya, tahu, dong,” jawab ayahnya. “Memangnya, kamu tidak tahu?”

Dr. Madeeha tertawa sewaktu menceritakan peristiwa tersebut kepada Tim Humanity First Indonesia. Dr. Madeeha bilang, ia pernah mendengar tentang Indonesia, tapi tidak tahu di mana lokasi pastinya.

“Awalnya, saya mengira Indonesia ada di dekat Pakistan, India, atau Cina,” tuturnya dengan bahasa Inggris dengan aksen Prancis dan Pakistan yang kental. “Tapi, ayah saya menjawab, ‘Bukan! Indonesia itu ada di dekat Australia.’ Hahaha.”

Begitulah. Kendati tidak terlalu banyak mengetahui tentang negara yang didatanginya itu, toh hal tersebut tidak menghalanginya untuk berkhidmat di Indonesia, tepatnya di Klinik Asih Sasama, Desa Ngloro, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta.

AWAL MULA

Madeeha Chaudry, lahir di Prancis 28 tahun yang lalu, adalah seorang dokter lulusan Universitas Paris Diderot. Ia lulus pada tahun 2014, setelah menempuh pendidikan dan koasistensi selama 9 tahun.

Sehari-harinya, dr. Madeeha bekerja di rumah sakit dan klinik di kota Paris. Di luar kegiatannya sebagai dokter profesional, dr. Madeeha pun membaktikan dirinya sebagai relawan di Humanity First. Kebetulan, adiknya adalah chairman Humanity First Prancis. Sayangnya, keahliannya sebagai dokter tidak terlalu banyak terpakai, sebab program Humanity First Prancis tidak mencakup pelayanan medis. Mereka lebih fokus ke program-program yang berkaitan dengan tuna wisma, orang miskin, dan lansia dengan memberikan bantuan berupa pembagian makanan gratis, baju, buku, dan lain-lain. Maka, sewaktu dr. Madeeha sedang libur di tengah kegiatannya sebagai general practitioner, ia bertanya pada adiknya.

“Saya ingin berkhidmat, nih. Enaknya ke mana, ya?”

“Bagaimana kalau ke Indonesia?” jawab adiknya, menawarkan. “Saya punya rencana ke Indonesia juga, tapi belum tahu kapan akan ke sananya. Sepertinya, saya mau ke Afrika dulu, untuk mengerjakan proyek di sana.”

“Oke,” dr. Madeeha mengangguk-angguk. “Sepertinya menarik.”

NYARIS KE AFRIKA

Memang, Humanity First Prancis telah beberapa kali mengadakan program kemanusiaan di Afrika. Namun, ketika ditanya kenapa dr. Madeeha tidak ke Afrika saja, apalagi jarak Afrika dan Prancis tidak terlampau jauh, dr. Madeeha menjawab ia belum merasa aman untuk tinggal di Afrika. Kebetulan pula, saat itu Humanity First Prancis sedang berhubungan dengan Humanity First Indonesia. Jadi, sewaktu diberikan tawaran untuk berkhidmat di Indonesia, dr. Madeeha segera menyanggupi, tanpa pikir panjang lagi.

Tapi, masalahnya, dr. Madeeha tidak tahu banyak tentang Indonesia, sehingga terjadilah peristiwa lucu dengan ayahnya. Oleh karena itulah, supaya bisa mengetahui lebih jauh tentang Indonesia, dr. Madeeha banyak melakukan browsing tentang negara tersebut, sembari mengurusi tiket pesawat, surat-surat keberangkatan, dan keperluan lainnya.

“Ternyata, Indonesia itu jauh sekali,” katanya kepada tim Humanity First Indonesia.

Dan memang, perjalanannya ke Indonesia sangatlah jauh. Jarak 12.000 kilometer ditempuhnya dalam waktu lebih dari 15 jam. Pesawatnya dari Paris harus transit terlebih dahulu di Abu Dhabi, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, ia terbang lagi ke Yogyakarta.  Seluruh perjalannya tersebut dilakukannya seorang diri.

Apa tidak takut?

“Tentu saja ada perasaan cemas dan khawatir. Tapi, saya yakin Allah Taala melindungi saya. Apalagi, saya berangkat dengan niat yang baik. Alhamdulillah, perjalanan berlangsung aman dan lancar.”

PENGKHIDMATAN TANPA BATAS

Bagi dr. Madeeha Chaudry, ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi relawan bidang kesehatan di luar negeri. Ini pun pertama kalinya ia datang ke Asia Tenggara, terutama ke Indonesia. Sewaktu ditanya apa yang memotivasinya untuk berkhidmat hingga ke tempat yang sangat jauh, dr. Madeeha menjawab, “Sederhana saja, saya suka membantu orang. Sekecil apa pun itu, semampunya saya.” Jadi, bagi dr. Madeeha, jarak bukanlah penghambat. Di mana pun tenaganya dibutuhkan, ke sanalah ia akan berikan bantuannya.

Dan, tampaknya, memanglah jarak 7000 miles bukan penghalang bagi dr. Madeeha untuk melakukan pengkhidmatan kepada manusia lainnya. (.red)

2 Responses

Leave a Reply