Judul Artikel

Caption artikel lebih spesifik

Yang Tersisa dari Pesta Akhir Tahun.

PAGI belum terang benar, di lapangan Monumen Nasional petugas membersihkan sampah sisa perayaan tahun baru semalam. Beberapa relawan turut membantu, dari pramuka dan relawan berbaju biru. Ini adalah kali kedua Surtiwa merasakan pagi setelah akhir tahun di Monas. Hampir dua tahun ia bekerja sebagai petugas kebersihan di Monas.

“Alhamdulillah kuranglah (kotornya) dibanding tahun lalu.” Menurut Surtiwa kebijakan tahun ini di mana pedagang tak boleh masuk dan panggung acara musik tak diizinkan diadakan di dalam lapangan Monas, mengurangi tingkat banyaknya sampah dan kerusakan taman. Biasanya bila ada panggung grup musik di dalam lapangan, taman di sepanjang dari gerbang hingga cawan taman Monas, habis. Rumput dan tumbuhan rusak diinjak dan diduduki pengunjung.

“Padahal kan ini pemeliharaan tamannya lama tahun-tahunan. Berapa tahun jadinya bagus.”

Monumen Nasional sendiri dibangun pada 1961 di bawah pemerintahan Soekarno. Ia menginginkan didirikannya sebuah tugu seperti Menara Eiffel di Perancis yang melambangkan perjuangan masa revolusi. Frederich Silababan dan R.M. Soedarsono ditunjuk sebagai arsitek. Tugu setinggi 132 meter dengan puncak berbentuk lidah api bersepuh emas ini selesai dibangun pada 1975, dan mulai dibuka untuk umum. Pembangunan memakan waktu cukup lama, dibagi dalam beberapa tahap sebab memakan biaya yang besar.

Soekarno menghendaki tugu Monas berbentuk Lingga  Yoni, bangunan yang banyak ditemukan di candi-candi Hindu. Lingga merupakan simbol kelamin laki-laki, Yoni kelamin perempuan.  Dalam mitologi Hindu, Yoni merupakan gambaran dari Dewi Uma, salah satu istri Siwa, dewa utama. Persatuan Lingga dan Yoni melambangkan kesuburan.

Tugu Monas dilengkapi dengan kolam air dan lapangan. Di sekeliling lapangan ini pedagang biasa berjualan dan penggung acara diadakan.

PAGI setelah malam tahun baru sudah terlihat beberapa pedagang asongan di lapangan Monas. Salah satunya Khadijah, 22 tahun. Sudah tiga tahun ia berdagang di sekitaran Monas. Khadijah berasal dari Madura. Ada banyak pedagang Madura di Monas. Khadijah menjual minuman dan makanan kecil; kopi, teh, mie gelas instan. Khadijah membuang sampah dagangannya: plastik minuman, gelas plastik ke kantong kresek. Kantong kresek tersebut ia taruh di tanah lapangan, tidak dimasukkan ke tong sampah. Ini banyak dilakukan oleh pedagang lain. Petugas kebersihan menyapunya. Sebagian dari pedagang ada yang tak mengumpulkan sampah ke dalam kantong kresek, mereka buang begitu saja.

Sampah dari pedagang dan pembeli ini yang membuat Unit Pengelola Teknis (UPT) Monas harus bekerja keras menjaga Monas tetap bersih. Terlebih  bila akhir pekan atau hari libur, pengunjung membludak. Sularno, bagian Pengawasan Taman UPT Monas menaksir bahwa sampah di hari-hari biasa sekitar lima truk, sementara di hari-hari khusus seperti pesta akhir tahun bisa mencapai puluhan truk.

Kebijakan pesta akhir tahun ini pedagang tak boleh masuk lapangan Monas. Seminggu sebelum akhir tahun, petugas telah mengupayakan sterilisasi Monas. “Dua hari sebelum hari H benar-benar sterilnya,” ujar Surtiwa.

Di tahun-tahun sebelumnya kebijakan pedagang tak boleh masuk sudah ada, tapi tahun ini penertiban lebih ketat. Di hari H beberapa pedagang asongan tetap nekad masuk, tapi tidak ada pedagang gerobak. Lebih mudah bagi pedagang asongan melarikan diri saat petugas satuan pamong praja datang melakukan penertiban.

Masalah kebersihan dan kepentingan pedagang ini diakui Dewi sulit. “Saya sedih, di satu sisi pengen bersih, tapi juga lahan untuk cari duit (pedagang).”

Dewi kepala UPT Monas, Rini Haryani, menangani kebersihan.

Menurut Dewi, keuntungan tiap pedagang bisa seratus lima puluh ribu per hari. Perdebatan Dewi dengan para pedagang kerap terjadi. “Ini Monas bukan punya ibu, ini punya Tuhan,” debat pedagang kepada Dewi.

Beberapa kejadian sering membuat Dewi tak habis pikir. Malam tahun baru ini misal, pagar besi yang mengelilingi lapangan taman Monas ada yang dipotong hampir selebar dua meter oleh para pedagang karena mereka tak diizinkan masuk. Ada juga yang menjual jasa penyewaan tangga supaya pedagang bisa masuk.

Selain pedagang yang tak kooperatif dengan urusan kebersihan, perilaku pengunjung juga pasal. “Saya pusing lihat perilaku pengunjung. Sama dengan di Ragunan, saya pegang Ragunan 14 tahun.”

“Misal, ibu sama anak duduk. Tempat sampah ada di sebelahnya, anaknya makan eksrim, bungkus eskrimnya dibuang sembarangan sama anaknya, ibunya diam aja.”

Dengan harga tiket yang murah, di bawah lima ribu rupiah, Kebun Raya Ragunan dan Monas memang merupakan opsi liburan banyak, termasuk kelas menengah bawah. Saat mengelola kebersihan Ragunan, Dewi sempat memberlakukan kebijakan tiap pengunjung saat membeli tiket langsung dibekali kantong kresek. Saat mengobrol dengan kami, Dewi mengutarakan ide tentang edukasi kebersihan untuk anak-anak yang berwisata ke Monas.

PEMBAGIAN kerja petugas kebersihan Monas dibagi tiga waktu. Mulai dari pukul lima pagi hingga satu siang, pukul satu hingga sembilan malam, dan pukul sembilan malam hingga pukul lima pagi. Sisitem pembagian waktu kerja ini baru, sebelumnya mereka semua bekerja dari pukul lima pagi hingga tiga sore. Membersihkan sampah pengunjung malam hari. Dinilai tak efektif, karena ternyata sampah “diprodukasi” oleh pedagang dan pengunjung tak hanya malam hari, diberlakukan sistem pembagian kerja. Petugas kebersihan Monas bertambah, menjadi 400 dari sebelumnya 300 orang.

Dari pukul lima pagi Surtiwa bersama rekan-rekannya mulai membersihkan sampah sisa pesta akhir tahun. Relawan dari komunitas juga turut membantu. Dewi terlihat ikut menyapu bersama ibu-ibu petugas kebersihan dan relawan. Juga ada bantuan mobil penyapu. Sampah diangkut ke pintu utara gerbang Monas. Surtiwa menyebutnya gerbang Pertamina. Letaknya bersebrangan dengan gedung milik Pertamina. Di sanalah sampah biasa dikumpulkan kemudian diangkut.

Salah satu relawan bernama Vijay Kumar, membawa kantong plastik sampah. Ia relawan dari gerakan Pramuka. Ia bersama teman-temannya, sekitar seratus orang, bantu membersihkan Monas. Program rutin Pramuka DKI Jakarta, Vijay menyebut kegiatannya sebagai Pramuka Peduli. Tahun ini ada empat titik yang jadi sasaran Pramuka Peduli; Monas, Ragunan, Kota Tua dan Blok M. Ini adalah tahun ketiga Vijay merasakan ikut membersihkan sampah di Monas di tahun baru. Ia akui tahun ini agak lebih bersih. “Kalau jumlah tempat sampah mencukupilah, emang dasar masyaraktnya yang jorok.”

HARI ketiga di tahun baru, pedagang gerobak sudah masuk ke lapangan Monas lagi. Pengunjung masih padat, terlebih di antrian terowongan hendak naik ke puncak tugu Monas dan museumnya. Ada panggung acara menyambut Maulid Nabi yang diadakan oleh Majelis Rasulullah, majelis pengajian dengan massa yang besar di Jakarta dan sekitarnya, di lapangan sebelah utara. Monas terlihat lebih padat dengan pedagang gerobak dan panggung yang didirikan di lapangan.

Relawan dari Humanity First Indonesia (HFIdn), sebuah lembaga kemanusiaan yang bekerja untuk pengembangan sumber daya manusia dan penanganan bencana, melakukan mediasi dengan UPT Monas, Dewi yang menemui. Melaporkan kegiatan relawan membersihkan Monas 1 Januari lalu.

HFIdn menamai kegiatannya Clean the City. Kegiatan rutin membersihkan tempat-tempat publik kota. Tahun baru ini mereka mengadakan Clean the City  di empat kota: Jakarta, Bandung, Garut, Sukabumi. Di Jakarta, Monas adalah sasaran kegiatannya.

Ada sekira tiga ratus relawan HFIdn yang hadir dari Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Bogor berbaju biru, simbol warna organisasi mereka, yang ikut membersihkan Monas. Relawan mulai membersihkan Monas dari pukul lima pagi, subuh mereka berangkat dari tempat masing-masing. Sumber daya relawan merupakan kerja sama HFInd dengan organisasi pemuda Jemaat Ahmadiyah: Majelis Khudamul Ahmadiyah.

Saat mediasi dengan UPT Monas, kepala UPT Monas Rini Haryani tak bisa menemui. Kandali Ahmad, ketua Humanity First Indonesia berbincang dengan Rini via telepon. Pesan Rini masih sama seperti yang ia ungkapkan sebelum tahun baru ketika HFIdn meminta izin untuk ikut bantu membersihkan Monas, “Kalau ada yang bisa sumbang tempat sampah.”

Rini mengungkapkan ada kebutuhan 4000 tempat sampah untuk menunjang perawatan kebersihan di Monas. UPT Monas, yang saat ini bukan lagi perseroan — berada di bawah koordinasi langsung dengan sekretaris daerah- membuka kerjasama bagi donatur yang ingin menyumbang. Sebelumnya UPT Monas adalah perseroan terbatas di bawah dinas pariwisata.

Relawan HFIdn tak menjanjikan, tapi berupaya bantu mencari donatur yang berminat menyumbang tempat sampah di Monas. Melihat padatnya pengunjung, kebutuhan tempat sampah tinggi. Sementara tempat sampah yang ada tak mencukupi, selain perilaku pedagang dan pengunjung adalah masalah lain juga.

oleh: Fatimah Zahrah

Leave a Reply