Di Tengah Luka yang Sama, Rudi Memilih Membantu

Bangunan-bangunan yang roboh menjadi pemandangan pertama yang dilihat Ferdinandus Djawa Logo, atau yang akrab disapa Rudi, ketika tiba di lokasi terdampak gempa Nusa Tenggara Timur.
Rumah yang sebelumnya menjadi tempat pulang dan berkumpul bersama keluarga, kini sebagian hanya menyisakan puing. Di sejumlah tempat, warga kehilangan tempat tinggal. Ada yang terluka akibat tertimpa reruntuhan. Ada pula keluarga yang harus kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
Bagi Rudi, menyaksikan semua itu dari dekat bukanlah hal yang mudah.
“Yang pertama kali saya lihat ketika tiba di lokasi gempa adalah bangunan-bangunan yang roboh. Rasanya seperti tidak sanggup melihat semuanya. Tetapi yang paling membekas bagi saya adalah penderitaan para pengungsi, baik secara fisik maupun mental,” tutur Rudi.
Namun, ada satu hal yang membuat perjalanan Rudi sebagai relawan terasa berbeda.
Ia bukan hanya datang untuk melihat dampak bencana. Ia juga menjadi bagian dari mereka yang merasakan guncangannya.
Meski turut terdampak, Rudi memilih mengesampingkan sejenak apa yang ia rasakan dan berjalan menuju mereka yang kondisinya jauh lebih berat.
“Walaupun kami juga terkena dampak gempa, kami masih menyempatkan diri untuk membantu mereka yang kondisinya lebih parah dari kami. Bagi saya pribadi, menjadi relawan adalah salah satu hal paling berharga dalam hidup,” katanya.
Dari Satu Posko ke Posko Lainnya
Perjalanan sebagai relawan membawa Rudi mendatangi satu posko ke posko lainnya.
Di sanalah ia melihat bahwa gempa tidak hanya meninggalkan bangunan yang runtuh.
Ada keluarga yang kehilangan rumah. Ada warga yang terluka karena tertimpa reruntuhan. Ada pula mereka yang harus menerima kenyataan kehilangan anggota keluarga.
Gempa susulan yang masih terjadi membuat rasa takut belum sepenuhnya pergi. Namun, di tengah keadaan tersebut, kehidupan tetap berusaha berjalan.
Rudi melihat beberapa warga tetap berusaha bekerja di sela-sela kondisi yang belum pulih. Anak-anak yang belum dapat menjalani kegiatan sekolah seperti biasanya pun mencoba tetap belajar secara mandiri dengan segala keterbatasan yang ada di posko pengungsian.
Pemandangan itulah yang begitu membekas dalam ingatannya.
Namun, dari orang-orang yang sedang kehilangan itu pula Rudi justru menemukan kekuatan.
“Walaupun dalam keadaan terpukul, mereka masih bisa tersenyum dan memiliki semangat untuk kembali bangkit. Di titik itulah saya justru semakin semangat menjadi relawan,” ungkapnya.
Bagi Rudi, senyum yang ia temui di pengungsian bukan sekadar senyum biasa.
Sebab ia tahu, di balik senyum itu ada kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian tentang bagaimana kehidupan akan berjalan setelah semuanya berubah.
Relawan Pun Bisa Merasa Lelah
Menjadi relawan tidak membuat Rudi kebal terhadap rasa lelah.
Ada saat ketika tubuh terasa berat. Ada kesedihan setelah menyaksikan kondisi warga dari dekat. Bahkan, pernah muncul perasaan seolah dirinya tidak sanggup lagi melanjutkan.
“Sebagai manusia tentu ada rasa lelah, sedih, bahkan terkadang merasa sudah tidak sanggup lagi. Tetapi semua itu bukan menjadi halangan untuk tetap semangat,” tuturnya.
Setiap kali rasa itu datang, Rudi kembali mengingat orang-orang yang ditemuinya.
Mereka yang kehilangan lebih banyak darinya, tetapi masih berusaha menjalani hari.
Mereka yang rumahnya runtuh, tetapi semangatnya untuk bangkit tidak ikut terkubur bersama puing-puing.
Rudi datang sebagai relawan untuk memberikan bantuan. Namun tanpa disadarinya, orang-orang yang ia temui justru memberikan sesuatu kepadanya: pelajaran tentang keteguhan.
Hidup Tidak Pernah Benar-Benar Kita Miliki
Ada satu kesadaran yang kemudian tumbuh dalam diri Rudi setelah melihat begitu banyak kehidupan berubah hanya dalam waktu singkat.
Tentang betapa rapuhnya apa yang selama ini dianggap akan selalu ada.
Rumah, harta, kenyamanan, dan rutinitas sehari-hari dapat berubah dalam sekejap.
“Dari situ saya sadar bahwa hidup ini tidak ada yang permanen. Semuanya hanyalah titipan. Kita harus banyak bersyukur dan menyempatkan diri untuk peduli kepada sesama, karena kita hidup tidak sendiri,” kata Rudi.
Menjadi relawan akhirnya bukan sekadar tentang membagikan bantuan.
Bagi Rudi, kesempatan membantu penyaluran donasi Humanity First Indonesia menjadi pengalaman yang akan selalu ia ingat.
“Terima kasih kepada Pak Agil dan tim Humanity First yang sudah mempercayai saya dan teman-teman untuk membagikan donasi. Banyak hal yang bisa saya ambil dari pengalaman ini,” ungkapnya.
Ketika Berita Berlalu, Perjuangan Mereka Belum Selesai
Hari-hari terus berjalan sejak gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur.
Namun bagi banyak warga terdampak, berlalunya waktu belum berarti kehidupan telah kembali seperti semula.
Kebutuhan masyarakat masih besar. Warga yang kehilangan atau mengalami kerusakan tempat tinggal masih harus menghadapi proses pemulihan. Kebutuhan dasar, kebutuhan anak-anak, hingga dukungan bagi keluarga untuk perlahan menata kembali kehidupan masih diperlukan.
Bagi mereka, bangkit bukan perkara satu atau dua hari.
Ketika kabar mengenai bencana perlahan tidak lagi memenuhi layar kita, masih ada keluarga yang menjalani hari di tengah keterbatasan. Masih ada anak-anak yang menunggu kehidupan mereka kembali berjalan sebagaimana mestinya. Masih ada orang-orang yang harus mengumpulkan keberanian sedikit demi sedikit untuk memulai kembali dari apa yang tersisa.
Karena itu, Rudi berharap kepedulian kepada masyarakat terdampak tidak ikut berhenti.
“Hidup selalu berdampingan. Teruslah berbagi karena berbagi itu indah. Tetap semangat menjalani hidup dan bangkit dari keterpurukan. Warga yang masih bertahan di sini sangat mengharapkan bantuan dan dukungan dari kita semua. Jangan lupa mendoakan mereka agar selalu sehat dan kuat, serta semoga keadaan ini segera berakhir,” pesannya.
Gempa mungkin terjadi hanya dalam hitungan waktu.
Tetapi pemulihan membutuhkan perjalanan yang jauh lebih panjang.
Sobat Kemanusiaan, hari ini saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur masih membutuhkan uluran tangan kita.
Mari sisihkan sebagian rezeki untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak dan membersamai mereka dalam perjalanan untuk kembali bangkit.
Mungkin bagi kita, apa yang diberikan terasa sederhana.
Namun bagi keluarga yang sedang mencoba memulai kembali kehidupan dari tengah kehilangan, satu bantuan dapat membawa pesan yang jauh lebih besar:
Kalian tidak sendiri.
Mari terus hadir untuk NTT.
Mari kirimkan doa terbaik, sekaligus wujudkan kepedulian melalui aksi nyata.
Salurkan donasi terbaik Sobat Kemanusiaan melalui Humanity First Indonesia untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.
Sebab dari Rudi kita kembali belajar satu hal sederhana—
Kita hidup tidak sendiri. Maka, jangan biarkan mereka berjuang sendiri.



