Category: DISASTER RELIEF

WhatsApp Image 2026-08-26 at 12.41.55 (1)
ARTICLEDISASTER RELIEF

Ketika Tanah Tak Lagi Tenang: Mereka yang Masih Bertahan di Tengah Gempa NTT

NUSA TENGGARA TIMUR — Ada masa ketika rumah bukan lagi tempat paling aman untuk pulang.

Bagi sebagian warga Nusa Tenggara Timur, masa itu datang pada 15 Agustus 2026, ketika gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah mereka.

Guncangan itu terjadi dalam hitungan detik. Namun bagi masyarakat yang mengalaminya, dampaknya tidak berhenti ketika bumi kembali tenang.

Rumah-rumah mengalami kerusakan. Warga berlarian menyelamatkan diri. Keluarga mencari satu sama lain di tengah kepanikan. Dan ketika guncangan berhenti, sebagian dari mereka justru memilih tetap berada di luar rumah.

Bukan karena tidak ingin pulang.

Tetapi karena takut.

Gempa susulan yang masih terjadi membuat sebagian warga memilih bertahan di tenda, bahkan ketika rumah mereka masih berdiri dan secara kasatmata tampak baik.

Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Sebagian dari mereka kehilangan rasa aman.

Rumah hancur akibat gempa

Beberapa Detik yang Mengubah Segalanya

Gempa tidak memberi banyak waktu untuk bersiap.

Ketika bumi berguncang, yang terpikir adalah menyelamatkan diri dan mencari orang-orang yang dicintai.

Barang-barang bisa ditinggalkan. Rumah bisa dipikirkan kemudian.

Yang penting adalah keluar dan tetap hidup.

Namun setelah guncangan berhenti, kenyataan mulai terlihat.

Ada rumah yang rusak.

Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.

Ada mereka yang harus meninggalkan rumah dan membawa apa yang sempat diselamatkan.

Dan ada masyarakat yang kini harus tidur di bawah tenda, menunggu keadaan benar-benar aman.

Berdasarkan data terkini, gempa tersebut menyebabkan 100 orang meninggal dunia, 1.298 orang mengalami luka-luka, dan 336 orang di antaranya mengalami luka berat.

Sebanyak 150.576 warga terpaksa mengungsi.

Tetapi angka-angka itu tidak pernah benar-benar mampu menceritakan seluruh kehilangan.

Karena di balik satu angka kematian, ada keluarga yang kehilangan seseorang yang mereka cintai.

Di balik satu angka pengungsi, ada keluarga yang harus meninggalkan kehidupan yang mereka kenal.

Dan di balik mereka yang terluka, ada perjuangan untuk pulih ketika keadaan di sekitarnya sendiri belum kembali normal.

Posko Pengungsian

Mereka Masih Tinggal di Tenda

Bagi masyarakat terdampak, gempa utama mungkin telah berlalu.

Namun ketakutan belum.

Gempa susulan masih terjadi. Setiap getaran dapat kembali mengingatkan mereka pada hari ketika kehidupan berubah.

Sampai saat ini gempa setiap hari masih ada dan masih menghantui warga yang ada di sana, sehingga mereka harus tinggal di tenda, walaupun ada warga yang rumahnya masih bagus, ujar Agil Cahyo Manembah, salah satu staf program Humanity First Indonesia.

Ada sesuatu yang sulit dibayangkan dari kondisi tersebut.

Memiliki rumah, tetapi tidak berani tidur di dalamnya.

Memiliki tempat untuk pulang, tetapi belum memiliki keberanian untuk kembali.

Karena setelah bencana, rasa aman tidak selalu bisa dibangun kembali secepat sebuah bangunan.

Bantuan yang Belum Sampai kepada Semua Orang

Di sejumlah wilayah, warga mendirikan posko-posko pengungsian kecil hingga tingkat dusun.

Mereka bertahan dengan apa yang tersedia. Namun tidak semua lokasi mudah dijangkau.

Akses yang belum sepenuhnya pulih membuat distribusi bantuan belum merata. Karena itu, kebutuhan bahan pokok menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak.

Bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat di sana adalah kebutuhan bahan pokok. Masih banyak yang belum mendapat bantuan karena akses yang belum 100 persen pulih, sehingga bantuan belum merata,” kata Agil.

Namun kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada makanan.

Kesehatan menjadi kebutuhan lain yang harus diperhatikan. Begitu pula dukungan psikologis bagi masyarakat yang terus menghadapi ketakutan akibat gempa susulan.

Bencana tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat.

Sebagian luka tinggal dalam ingatan.

Dan ketika bumi kembali berguncang, rasa takut itu dapat kembali hadir.

Menempuh Jarak untuk Menjangkau Mereka

Di tengah keterbatasan akses, Humanity First Indonesia memilih untuk bergerak mendekati masyarakat.

Tim melakukan assessment, berkoordinasi dengan relawan lokal, kemudian menyisir wilayah-wilayah yang membutuhkan bantuan.

Perjalanan menuju sejumlah titik membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.

Sebanyak 15 relawan terlibat dalam respons kemanusiaan tersebut. Humanity First Indonesia juga berkolaborasi dengan Komunitas Bolonga Boys, komunitas lokal yang membantu menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.

Tim bergerak menuju Posko Golosalonto, Desa Itejaya, Kecamatan Riung, kemudian melanjutkan respons ke Dusun Goloite, Desa Itejaya, Kecamatan Riung.

Respons berikutnya berlanjut menuju wilayah Nagekeo.

Yang dibawa adalah kebutuhan-kebutuhan dasar:

Beras, susu, air mineral, mi instan, telur, Energen, sayur-sayuran, sabun mandi, sabun cuci, popok bayi, perlengkapan perempuan, serta pakaian layak pakai.

Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun di tengah situasi ketika kehidupan sehari-hari belum kembali normal, kebutuhan sederhana dapat memiliki arti yang besar.

Makanan membantu keluarga bertahan.

Perlengkapan bayi memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.

Perlengkapan kebersihan membantu masyarakat menjaga kesehatan di tengah kondisi pengungsian.

Dan kehadiran orang-orang yang datang membawa bantuan menyampaikan satu pesan penting:

Ada yang tahu bahwa mereka sedang membutuhkan pertolongan.

Bantuan logistik untuk para pengungsi

“Mereka Merasa Memiliki Keluarga Jauh”

Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota, jarak bukan hanya persoalan geografis.

Jarak juga dapat berarti keterbatasan akses terhadap bantuan.

Karena itu, kehadiran bantuan dari tempat lain memiliki arti tersendiri bagi mereka.

Agil menggambarkan makna kehadiran tersebut dengan sederhana.

Makna kehadiran Humanity First atau bantuan apa pun dari mana saja bagi mereka adalah sebuah nyawa. Mereka merasa berada di sebuah pulau kecil di wilayah timur yang jauh dari kota besar. Bantuan sekecil apa pun bagi mereka sangat berarti. Mereka merasa memiliki keluarga jauh, orang yang peduli terhadap mereka, walaupun berada di tempat yang jauh.

Bagi orang yang memberikan bantuan, apa yang diberikan mungkin terasa kecil.

Sebungkus beras.

Satu dus air mineral.

Satu paket kebutuhan bayi.

Namun bagi orang yang sedang kehilangan banyak hal, bantuan itu membawa pesan yang jauh lebih besar.

Bahwa mereka diketahui.

Bahwa mereka dipedulikan.

Bahwa jarak tidak membuat mereka dilupakan.

Karena Pemulihan Tidak Terjadi Dalam Sehari

Hingga saat ini, bantuan Humanity First Indonesia telah menjangkau tiga wilayah dan tiga titik posko, dengan total bantuan sebanyak Rp.9.009.304,-.

Namun perjalanan belum selesai.

Masih ada wilayah yang perlu disisir. Masih ada masyarakat yang belum mendapatkan bantuan secara merata. Masih ada kebutuhan kesehatan dan psikologis yang harus diperhatikan.

Dan masih ada warga yang memilih tidur di tenda karena belum berani mempercayai rumahnya sendiri.

Humanity First Indonesia berkomitmen untuk terus melanjutkan respons kemanusiaan bersama relawan dan komunitas lokal.

Kita akan terus menyisir lokasi yang memang membutuhkan dan kurang mendapat bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Agil.

Namun upaya tersebut membutuhkan dukungan lebih luas.

Respons kemanusiaan tidak dapat berjalan sendiri. Kebutuhan yang besar membutuhkan dukungan dari banyak pihak—relawan, komunitas lokal, lembaga kemanusiaan, dan para donatur.

Sebab setelah gempa, ada kehidupan yang harus dibangun kembali.

Ada rumah yang harus diperbaiki.

Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.

Ada anak-anak yang harus kembali merasa aman.

Dan ada hati yang perlahan harus diyakinkan bahwa kehidupan akan kembali berjalan.

Gempa mungkin hanya mengguncang mereka selama beberapa detik.

Namun untuk kembali merasa aman, mereka membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Maka selama masih ada warga yang menunggu bantuan, selama masih ada keluarga yang bertahan di dalam tenda, dan selama masih ada mereka yang belum terjangkau—

kemanusiaan harus terus menemukan jalan untuk datang.

Karena terkadang, sebuah bantuan tidak hanya membawa makanan.

Ia membawa kabar bahwa mereka masih diingat.

Bahwa mereka tidak dilupakan.

Dan bahwa di tempat yang jauh sekalipun, masih ada yang memilih untuk peduli.

WhatsApp Image 2026-08-26 at 12.29.26
DISASTER RELIEFPRESS RELEASE

Di Tengah Duka Gempa NTT, Humanity First Indonesia Terus Hadir bagi Warga Terdampak

NUSA TENGGARA TIMUR — Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat terdampak. Dalam hitungan detik, guncangan gempa memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman.

Bagi sebagian masyarakat, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini tidak lagi dapat ditempati. Bahkan bagi warga yang rumahnya masih berdiri dan tampak baik, rasa aman belum sepenuhnya kembali. Gempa susulan yang masih terjadi setiap hari membuat sebagian warga memilih tetap tinggal di tenda karena khawatir kembali ke rumah.

Berdasarkan data terkini, sebanyak 100 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sebanyak 1.298 orang mengalami luka-luka, dengan 336 orang di antaranya mengalami luka berat. Sementara itu, 150.576 warga terpaksa mengungsi akibat kerusakan rumah dan masih tingginya intensitas gempa susulan.

Posko Pengungsian

Di sejumlah wilayah, masyarakat membangun posko-posko pengungsian sederhana, termasuk hingga tingkat dusun. Dalam kondisi terbatas, mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari menghadapi ketakutan yang belum berakhir.

Bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat di sana adalah kebutuhan bahan pokok. Masih banyak yang belum mendapat bantuan karena akses yang belum 100 persen pulih, sehingga bantuan belum merata. Tidak hanya sembako, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan yang tidak kalah penting adalah bantuan psikologis untuk mereka. Sampai saat ini gempa masih terjadi setiap hari dan masih menghantui warga, sehingga mereka harus tinggal di tenda, walaupun ada warga yang rumahnya masih bagus” ujar Agil Cahyo Manembah, salah satu staf program Humanity First Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Humanity First Indonesia. Sejak gempa terjadi, Humanity First Indonesia berkoordinasi dengan relawan lokal, memantau perkembangan situasi, serta melakukan assessment untuk mengetahui kebutuhan masyarakat secara langsung.

Hasil assessment menunjukkan bahwa banyak warga terdampak berada di posko-posko pengungsian kecil yang tersebar hingga tingkat dusun. Kondisi tersebut membuat penyaluran bantuan perlu dilakukan secara langsung agar dapat menjangkau masyarakat yang belum memperoleh bantuan secara merata.

Berdasarkan kebutuhan di lapangan, Humanity First Indonesia memfokuskan respons tahap awal pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam beberapa hari terakhir, tim dan relawan telah bergerak menuju sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Posko Golosalonto, Desa Itejaya, Kecamatan Riung, serta Dusun Goloite, Desa Itejaya, Kecamatan Riung. Respons kemanusiaan kemudian terus dilanjutkan menuju wilayah Nagekeo.

Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam. Sebanyak 15 relawan terlibat dalam respons tersebut, dengan Humanity First Indonesia berkolaborasi bersama komunitas lokal Komunitas Bolonga Boys untuk membantu menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.

Dengan total penerima manfaat saat ini 113 kepala keluarga di desa Goloite dan 46 kepala keluarga di desa Nagekeo. Bantuan yang disalurkan meliputi beras, susu, air mineral, mi instan, telur, Energen, sayur-sayuran, sabun mandi, sabun cuci, popok bayi, perlengkapan perempuan, serta pakaian layak pakai.

Warga Kec. Riung yang mendapatkan bantuan logistik

Bagi masyarakat yang sedang bertahan di pengungsian, bantuan tersebut bukan sekadar kebutuhan logistik. Kehadiran bantuan menjadi bentuk dukungan bagi keluarga-keluarga yang tengah berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

Bagi Agil, kehadiran bantuan memiliki arti yang jauh lebih besar bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat kota dan masih menghadapi keterbatasan akses.

Makna kehadiran Humanity First atau bantuan apa pun dari mana saja bagi mereka adalah sebuah nyawa. Mereka merasa berada di sebuah pulau kecil di wilayah timur yang jauh dari kota besar. Bantuan sekecil apa pun bagi mereka sangat berarti. Mereka merasa memiliki keluarga jauh, orang yang peduli terhadap mereka, walaupun berada di tempat yang jauh, ungkapnya.

Hingga saat ini, bantuan Humanity First Indonesia telah menjangkau tiga wilayah dan tiga titik posko pengungsian, dengan total bantuan sebanyak Rp. 9.009.304,-.

Namun, respons kemanusiaan ini belum berakhir. Masih terdapat wilayah yang membutuhkan bantuan dan masyarakat yang belum terjangkau secara merata karena keterbatasan akses.

Humanity First Indonesia berkomitmen untuk terus menyisir wilayah-wilayah terdampak dan mengidentifikasi lokasi yang masih membutuhkan bantuan, khususnya masyarakat yang belum atau masih minim mendapatkan dukungan.

Kita akan terus menyisir lokasi yang memang membutuhkan dan kurang mendapat bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana. Tetapi tentu kami membutuhkan bantuan dana dari para donatur untuk mendukung aksi kemanusiaan ini,ujar Agil.

Bagi masyarakat terdampak, proses pemulihan tidak berhenti ketika guncangan utama berakhir. Ketika gempa susulan masih terjadi, rasa takut masih menyelimuti, dan rumah belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman untuk kembali, perjuangan untuk bangkit masih panjang.

Karena itu, dukungan kemanusiaan masih sangat dibutuhkan, bukan hanya dalam bentuk bahan pokok, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan dukungan psikologis bagi masyarakat yang terus hidup dalam ketakutan akibat gempa susulan.

Humanity First Indonesia akan terus melanjutkan respons kemanusiaan bersama relawan dan komunitas lokal untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Sebab bagi mereka yang berada jauh dari pusat kota dan memiliki akses bantuan yang masih terbatas, sebuah bantuan kecil dapat memiliki arti yang begitu besar: sebuah tanda bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa masih ada yang peduli, dan bahwa mereka tidak harus menghadapi masa sulit ini sendirian.

IMG_20260125_165508
DISASTER RELIEFPRESS RELEASE

Humanity First Fokuskan Program Tanggap Darurat Fase II pada Pemulihan Pendidikan Anak

Di tengah proses pemulihan pasca bencana, anak-anak menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian berkelanjutan, khususnya dalam menjaga keberlangsungan pendidikan mereka. Menyadari hal tersebut, HF melalui Program Tanggap Darurat Fase II memfokuskan intervensi pada pemulihan pendidikan anak-anak terdampak bencana di Aceh Tamiang. Selama seminggu Tim HF telah hadir di Aceh Tamiang untuk assesment dan mempersiapkan program bantuan ini.

Program ini dilaksanakan melalui penyaluran bantuan alat tulis dan perlengkapan sekolah sebagai bagian dari upaya mendukung anak-anak agar dapat kembali mengikuti aktivitas belajar dengan lebih baik. HF memandang bahwa pemulihan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan darurat, tetapi juga mencakup penguatan kembali rutinitas, rasa aman, dan semangat belajar anak pasca bencana.

Bantuan perlengkapan sekolah untuk anak-anak di Aceh Tamiang.

Di Aceh Tamiang, bantuan perlengkapan sekolah menjadi langkah konkret untuk membantu anak-anak kembali ke ruang belajar dengan kesiapan yang lebih layak, sekaligus meringankan beban keluarga terdampak. Buku, alat tulis, dan perlengkapan sekolah diharapkan dapat menjadi sarana pendukung agar anak-anak tidak tertinggal dalam proses pendidikan mereka.

Adapun bantuan perlengkapan sekolah yang disalurkan terdiri dari 550 tas sekolah, 5.500 buku tulis, 1.650 pensil, 550 pulpen, 550 penghapus, dan 550 penggaris. Selain itu, HF juga menyalurkan alat peraga pembelajaran Bahasa Inggris dan Matematika sebanyak 15 set, 2 unit globe, 2 atlas, 2 papan tulis besar, 24 spidol papan tulis, serta 12 penghapus papan tulis untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Pelaksanaan program ini merupakan hasil kolaborasi HF bersama para donatur Sobat Kemanusiaan yang terus memberikan dukungan dalam proses pemulihan pasca bencana. Partisipasi masyarakat menjadi elemen penting dalam memperkuat upaya pemulihan yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya bagi kelompok anak.

Melalui Program Tanggap Darurat Fase II ini, HF berharap dapat berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak terdampak bencana serta mendukung proses pemulihan sosial yang lebih menyeluruh.

HF mengajak masyarakat untuk terus mengambil bagian dalam ikhtiar kemanusiaan ini, agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar, tumbuh, dan menatap masa depan dengan harapan.

head-artikel banjir aceh
ARTICLEDISASTER RELIEF

Humanity First Indonesia Terus Bergerak, Membawa Harapan di Tengah Luka Bencana Sumatra dan Aceh

Relawan berjalan mendistribusikan bantuan ke titip korban bencana di Aceh [HF Indonesia/red.]

Humanity First Indonesia Terus Bergerak,

Membawa Harapan di Tengah Luka Bencana Sumatra dan Aceh

Banjir dan longsor dahsyat yang menghantam Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir November 2025 telah menjadi salah satu bencana paling tragis dalam beberapa tahun terakhir.

Hujan ekstrem yang tak kunjung reda membuat sungai-sungai meluap, bendungan jebol, dan desa-desa terendam hingga atap rumah.

Akibatnya, ratusan ribu warga terpaksa mengungsi dalam kondisi minim penerangan, akses terputus, serta ketersediaan makanan yang sangat terbatas.

Banyak anak mengalami trauma mendalam, sementara para orang tua berjuang mempertahankan hidup di tengah ketidakpastian yang mencekam.

HF Indonesia memberikan trauma healing kepada anak-anak korban bencana. [HF Indonesia/red.]

Hingga 11 Desember 2025, tercatat sekitar 990 jiwa meninggal dunia, lebih dari 5.000 orang luka-luka, dan ratusan lainnya masih dalam pencarian. Hampir 834 ribu warga terpaksa mengungsi, sementara kerusakan meluas mencakup sekitar 157.900 rumah, lebih dari 1.200 fasilitas umum, 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, dan 498 jembatan yang kini tinggal puing.

Di tengah derita itu, Humanity First Indonesia hadir menjadi salah satu organisasi yang melakukan respon tanggap darurat bencana sebagai tumpuan harapan.

Momen membagikan bantuan makanan cepat saji di tengah korban bencana di Aceh. [HF Indonesia/red.]

Relawan-relawan lokal kami di Sumatra Barat dan Sumatra Utara bergerak cepat sejak hari pertama, menembus wilayah terdampak untuk memberikan bantuan darurat.

Dukungan awal diberikan berupa makanan siap santap, perlengkapan bayi, snack, serta layanan trauma healing untuk anak-anak yang paling rentan secara emosional.

Dengan kekuatan 18 relawan di Sumatra Barat dan 15 relawan di Sumatra Utara, total 600 penerima manfaat telah dibantu: 400 orang menerima makanan, 50 keluarga menerima perlengkapan bayi, dan 150 anak mendapatkan terapi trauma serta makanan ringan.

Relawan sedang observasi dan belanja kebutuhan untuk bantuan korban bencana [HF Indonesia/red.]

Kepedulian Sobat Kemanusiaan pun mengalir deras. Hingga 11 Desember 2025 pukul 19.48, donasi untuk Tanggap Darurat Banjir Sumatra mencapai Rp 222.199.314, dan jumlah ini terus bertambah seiring aksi relawan di lapangan.

Respons Humanity First Indonesia terus diperluas. Pada 11 Desember 2025, tim dikirimkan ke Sumatra Utara dan Aceh di wilayah terdampak parah, khususnya di Aceh Tamiang untuk berkoordinasi dengan pos komando utama penanggulangan bencana.

HF Indonesia berkoordinasi dengan BNPB setempat dalam proses distribusi bantuan kemanusiaan. [HF Indonesia/red.]

Humanity First Indonesia diberi mandat membuka dapur umum, menyediakan layanan kesehatan, serta melakukan trauma healing bagi anak-anak.

Insya Allah, dapur umum akan menyajikan 500–1.000 porsi makanan setiap hari sesuai kebutuhan lapangan.

Selain itu, bantuan sembako juga sedang dipersiapkan untuk wilayah Langkat, Sumatra Utara, yang terdampak cukup parah.

Setiap langkah yang kami ambil adalah langkah bersama Anda. Dukungan Anda menghadirkan kekuatan dan harapan baru bagi para penyintas yang sedang berjuang keras untuk bangkit dari masa tersulit dalam hidup mereka.

Teruslah bersama kami. Mari ringankan beban saudara-saudara kita di Sumatra dan Aceh. Dengan empati, kasih, dan aksi nyata, kita pulihkan harapan mereka, setahap demi setahap, bersama Humanity First Indonesia. [HF Indonesia/red.]

Dapur Umum Bojongsari
ARTICLEDISASTER RELIEF

Suka Duka Dapur Umum HF dalam melayani makan sahur dan berbuka puasa korban banjir di Bojongsari

Pada hari kedua tanggap bencana banjir Bekasi, kekompakan dan semangat antara Tim HF dan relawan di Bojongsari terus terjaga seiring bertambahnya relawan yang datang dari berbagai daerah. Kali ini, sebanyak 7 relawan asal Tambun datang untuk membantu menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Masing-masing dari mereka ada yang melakukan pemotongan bahan-bahan bumbu, memasak nasi, menggoreng tahu, dan merebus 600 buah telur. Kelompok masak pada siang hari ini melakukan tugasnya untuk menyiapkan 600 makanan untuk berbuka puasa bagi para warga yang terdampak banjir. Setelah itu, kerja sama dibagi menjadi 3 grup; bagian pembungkusan lauk pauk, pembungkusan nasi dan distribusi. Proses ini berjalan dengan lancar dan tepat waktu, hingga pukul 16:30 WIB sebanyak 600 makanan telah terdistribusi ke beberapa kampung disekitar Desa Bojongsari.

Setelah makanan terdistribusi kepada para penerima manfaat, kelompok masak siang melakukan persiapan untuk berbuka puasa dan mulai menyiapkan beberapa bahan masakan untuk kelompok malam yang akan menyiapkan masakan untuk sahur.

Kelompok masak malam terdiri dari beberapa ibu-ibu dari Desa Bojongsari, serta 5 relawan dari Tambun. Kegiatan masak dimulai setelah salat tarawih berjamaah yang kebetulan lokasi dapur umum HF bertepatan disebelah Masjid Baitul Aman Cabang Bojong.

Kelompok masak malam juga terdiri dari 3 grup; ada yang membungkus nasi, membungkus gulai ayam dan pendistribusian. Sebelumnya gulai ayam sebanyak 600 porsi dimasak pada sore hari setelah pendistribusian masakan untuk berbuka. Oleh karena itu, ayam gulai yg sudah matang disimpan dan dibagi ke tiga belanga besar untuk dapat dibungkus pada malam hari.

Kerja sama tim dan komunikasi didalamnya berjalan dengan baik, kelompok yang dikomandoi oleh Kang Faqih mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ketika itu, ada salah satu relawan memberikan informasi bahwa salah satu belanga gulai ayam yang berisikan 200 potong ayam terlihat berbusa dan basi. Saat itu, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 WIB, Kang Faqih pun melakukan koordinasi dengan Kang Syahid (tim belanja) untuk mencari bahan makanan yang bisa dibeli untuk dimasak dalam waktu 1 jam. Situasi tersebut merupakan ujian bagi kelompok masak malam dan juga sebuah keyakinan pada Tuhan bahwa dalam situasi sesulit apapun, jika kita menyerahkan segalanya untuk Tuhan, maka Dia akan menolong kita.

Setelah Kang Faqih berembuk dan melakukan pertimbangan dengan kelompok masak, maka Kang Faqih meminta tim belanja untuk mencari telur di pasar terdekat sekitar Desa Bojongsari. Kang Syahid pun bergegas ke pasar untuk mencari toko yang masih buka, karena kondisi sudah dini hari. Situasi di dapur umum dapat ditangani karena mereka yakin pada dua hal, yaitu: niat mereka membantu pada sesama manusia akan diberikan kelancaran oleh Tuhan, dan ini adalah isyarat Tuhan bahwa jika mereka menyerahkan kesulitan kepada-Nya, maka Tuhan akan memberikan jalan kemudahan bagi mereka.

Bersamaan dengan hal diatas, Kang Syahid menemukan toko sembako yang masih buka 24 jam kemudian langsung memesan 200 buah telur untuk menggantikan 200 potong ayam gulai yang basi. Kang Faqih pun langsung membagi kelompok masak menjadi dua grup; bagian menggoreng telur orak arik dan bagian membungkus nasi dan lauk pauk. Relawan distribusi yang dipimpin oleh Pak Mubaligh Karim juga dikerahkan terlebih dahulu untuk membantu tim pembungkusan nasi. Proses masak dan pembungkusan berjalan cepat, terarah dan terukur dengan baik sehingga pukul 03:00 WIB 600 porsi makanan untuk sahur telah terbungkus dengan rapih dan siap untuk didistribusikan.

Pendistribusian makanan sahur dilakukan oleh sekitar lebih dari 20 relawan yang terdiri dari bapak-bapak asal Bojongsari dan 5 pemuda asal Tambun. Hal itu berjalan dengan baik hingga pukul 04:10 WIB sebanyak 600 paket makanan sahur telah terkirim kepada para penerima manfaat.

Kejadian ini memberikan makna dan arti bagi kelompok masak malam bahwa dimana ada kesulitan, maka keyakinan yang akan menjadi pegangan untuk bersandar kepada Yang Maha Kuasa dan ketika itulah tangan Tuhan bekerja untuk menolong mereka yang melakukan pekerjaan atas nama-Nya.


Kontributor: Shakeel Ahmad

DSC07584edit
ARTICLEDISASTER RELIEF

Dapur Umum HF: Menjaga Ibadah Puasa warga Desa Bojongsari

Banjir merendam sejumlah wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), Selasa (4/3). Banjir terjadi imbas hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.  Bekasi termasuk wilayah yang terdampak paling parah yang menyebabkan beberapa daerah di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan sekitarnya lumpuh. Sehingga kedua pemerintah Kota dan Kabupaten Bekasi menyatakan Tanggap Darurat Bencana. Situasi banjir kali ini cukup besar dan datangnya tiba – tiba dan sangat besar airnya. Hal ini disebabkan oleh meluapnya sungai Citarum juga karena kiriman air dari Bogor.

“Banjir datang cepat kak, awalnya sekitar pukul 17.00 air muncul dan membuat genangan, namun tidak besar ,hanya semata kaki.  Sekitar pukul 18.00  saat berbuka puasa tiba – tiba air meninggi sampai se-dada,” ujar Asif korban banjir di Desa Bojongsari, Kab. Bekasi.


Desa Bojongsari berada di kecamatan Kedungwaringin, Kab. Bekasi. Salah satu wilayah yang terdampak banjir cukup parah. Karena lokasi wilayahnya tidak jauh dengan Sungai Citarum.

Situasi banjir yang muncul mendadak membuat korban banjir kali ini tidak siap dan tidak sempat untuk menyelamatkan barang – barangnya.  Hingga kompor dan peralatan masak lainnya tidak bisa diselamatkan. Bencana di bulan Ramadhan membuat situasi berat, apalagi kondisi peralatan masak mereka terendam sehingga tidak dapat memasak untuk makan sahur dan berbuka. Mau beli pun susah, semua berdampak dan kondisi keuangan sulit. Mayoritas masyarakat Bojongsari adalah petani. 

“Alhamdulillah kaka dari Humanity First  datang membawa bantuan dan membuka Dapur Umum.  Sehingga puasa kami bisa terjaga karena terpenuhinya makanan untuk sahur dan berbuka puasa. Kami senang sekali”, ucap Asif sambil berjalan menyelusuri rumah yang terdampak banjir di Desa Bojongsari.


Humanity First Indonesia kali ini melakukan Tanggap darurat bencana banjir di Desa Bojongsari, Kec. Kedungwaringin.  Dalam aksi kali ini Humanity First Indonesia mendirikan dapur umum guna membantu pemenuhan makanan untuk sahur dan berbuka puasa korban banjir di Bojongsari, Tambun, Pengasinan, Cikarang Utara, dan Cikarang Timur.  Sebanyak 1200 nasi bungkus per-hari  kami melayani korban bencana banjir. 

Mari Dukung Humanity First Kali ini guna menjaga ibadah puasa korban mereka tetap terjaga.
thumbnail website dtc
ARTICLEDISASTER RELIEF

Menghadapi Bencana dengan Siaga: Kenapa Pelatihan Kebencanaan Itu Penting?

Ilustrasi Cincin Api Pasifik (Foto: National Geographic) 

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia. Terletak di Cincin Api Pasifik, Indonesia rentan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, hingga banjir dan tanah longsor. Kondisi geografis ini, ditambah dengan perubahan iklim yang semakin nyata, membuat pelatihan kebencanaan menjadi sangat penting bagi masyarakat.

Bencana sering kali datang tanpa peringatan. Pengetahuan dan keterampilan dasar untuk menghadapi situasi darurat dapat menjadi penyelamat nyawa. Sayangnya, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya kesiapsiagaan masih tergolong rendah. Banyak yang belum memahami bagaimana bertindak dengan cepat dan tepat ketika bencana terjadi, sehingga kerugian jiwa dan materi sering kali tidak dapat diminimalkan.
Pelatihan kebencanaan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang potensi risiko di daerah mereka, langkah-langkah mitigasi, serta cara merespons situasi darurat. Misalnya, pelatihan evakuasi saat gempa atau teknik pertolongan pertama dapat membantu individu bertahan dalam situasi kritis. Mengikuti pelatihan kebencanaan tidak hanya menjadi kewajiban moral tetapi juga investasi masa depan. Dengan memiliki masyarakat yang sadar risiko dan terlatih, Indonesia dapat mengurangi angka korban jiwa serta kerugian materi akibat bencana.

Melalui pelatihan kebencanaan, kita dapat membangun masyarakat yang tangguh bencana. Edukasi dan simulasi rutin yang melibatkan semua masyarakat akan menciptakan lingkungan yang lebih siap menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Kesadaran dan kesiapsiagaan adalah langkah pertama untuk menciptakan Indonesia yang lebih aman. Humanity First Indonesia telah lama berkomitmen untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Melalui berbagai program pelatihan dan kegiatan edukasi, HF berusaha memperkuat kapasitas individu dan komunitas agar lebih tanggap dan siap dalam situasi darurat. Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah pelatihan kebencanaan dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan serta keterampilan dalam menghadapi bencana alam.

Pelatihan Kebencanaan Daring 2022

Pada tahun 2022, di tengah pandemi COVID-19 yang masih membatasi pergerakan fisik, HF berhasil melaksanakan pelatihan kebencanaan secara daring. Meskipun dibatasi oleh jarak dan teknologi, pelatihan ini tetap berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan positif dari peserta. Dalam pelatihan daring tersebut, berbagai topik penting seperti manajemen bencana, respon tanggap darurat, hingga peran relawan itu sendiri disampaikan dengan cara yang interaktif dan mudah diakses. Meskipun dalam format online, semangat dan komitmen HF untuk memberikan pelatihan yang berkualitas tetap terasa kuat.

Kini, di tahun 2024, Humanity First Indonesia berencana untuk mengadakan pelatihan kebencanaan kembali, namun dengan format yang lebih memungkinkan interaksi langsung: secara offline. Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan perkembangan situasi dan pentingnya pengalaman praktis yang lebih nyata dalam menghadapi skenario bencana. Pelatihan offline ini dirancang untuk memberikan simulasi yang lebih mendalam, memungkinkan peserta untuk berlatih secara langsung dengan alat-alat kebencanaan dan berinteraksi langsung dengan para ahli di lapangan.

Dengan semangat yang sama, HF berharap dapat memperluas jangkauan pelatihan ini dan melibatkan lebih banyak individu serta komunitas di seluruh Indonesia, sehingga bersama-sama mengambil peran aktif dalam upaya ini demi melindungi diri, keluarga, dan komunitas dari ancaman bencana yang tidak dapat dihindari. Jadilah bagian dari solusi—ikuti pelatihan kebencanaan sekarang!

WhatsApp Image 2022-07-11 at 11.02.51 (1)
DISASTER RELIEFFOOD SECURITY

#HFBerkurban 2022: Sebungkus Cinta untuk Sesama dalam Perayaan Iduladha

Hari Raya Idul Adha sangat identik dengan pengamalan nilai-nilai pengorbanan serta menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan kemanusiaan. Berkurban menjadi manifestasi dari rasa syukur akan nikmat yang Allah SWT berikan kepada makhluk-Nya. 

Pada perayaan Iduladha tahun ini, HF Indonesia kembali mengadakan program #HFBerkurban.
#HFBerkurban merupakan program tahunan HF Indonesia yang secara khusus diadakan dalam merayakan Hari Raya Iduladha. Program ini telah dilaksanakan sejak tahun 2018 dengan bekerjasama dengan Humanity First USA. 

Berbeda dengan program-program berbagi hewan kurban lainnya, program #HFBerkurban memiliki keunikannya tersendiri. Dengan maksud memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi kemanusiaan, #HFBerkurban sengaja memilih lokasi-lokasi yang pernah terdampak bencana sebagai daerah penerima bantuan. 

Kegiatan #HFBerkurban 2022 di Balaigana, Kalimantan Barat

Hal tersebut turut membuktikan bahwa kepedulian yang diberikan HF Indonesia kepada masyarakat korban bencana tidak hanya terbatas pada saat bencana terjadi. Melainkan, HF Indonesia terus berupaya membantu dan membersamai korban untuk dapat melanjutkan hidup pasca terjadinya bencana.

Di tahun ke-4 pelaksanaan #HFBerkurban ini, hewan kurban yang disalurkan tidak hanya berasal dari kerjasama dengan Humanity First USA, tetapi juga dari HF Australia dan beberapa Sahabat HF.

“Alhamdulillah, tahun ini program HF berkurban mengalami kenaikan peminat. Tahun ini, jumlah hewan kurban yang dipercayakan oleh HF USA, HF AUS, dan para Sahabat HF mengalami kenaikan. Semoga kepercayaan para Sahabat HF dalam program ini dapat terus berlanjut dan kami dapat menyalurkan daging-daging hewan kurban ini ke daerah-daerah yang membutuhkan.”

Pak Kandali A. Lubis
Chairman HF Indonesia

Berkat kebaikan dan kemurahan hati Sahabat HF, #HFBerkurban 2022 dapat menyalurkan 2.025 bungkus daging kurban di 15 titik lokasi di berbagai daerah yang paling membutuhkan. Penyaluran kurban daging sapi dilakukan ke Balaigana, Pasaman, Lumajang, Serang, Pati, Gunung Kidul, Namorambe, Nganjuk, Penyelimau Jaya, Dompu, dan Jakarta. Sementara kurban daging kambing disalurkan ke Gorontalo, Luwu, Alor, dan Kp. Anam. Total penerima manfaat dari program #HFBerkurban tahun 2022 kurang lebih mencapai 6.075 orang.

Penyerahan daging #HFBerkurban untuk warga Gunungkidul, DIY Yogyakarta.

“Saya selaku pribadi dan Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah serta Relawan HFI merasa senang dan mengapresiasi kepedulian HF Indonesia dalam merespon korban banjir bandang di Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pada Senin, 11 Juli 2022 bertepatan hari kedua Iduladha 1443 H, HF Indonesia memberikan bantuan 1 ekor sapi untuk ibadah kurban. Daging kurban didistribusikan kepada masyarakat terdampak banjir. Kepedulian ini tidak saja menyentuh hati. Tetapi hewan kurban yang secara khusus diperuntukkan kepada masyarakat terdampak banjir ini memang satu-satunya hanya dari HF Indonesia. Karena itu, saya mewakili masyarakat terdampak sungguh mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada HF Indonesia. Sentuhan kemanusiaan ini sungguh sangat membesarkan hati.”

KH. Taslim Syahlan
Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah

Proses pemotongan daging #HFBerkurban di Pati, Jawa Tengah.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada seluruh Sahabat HF yang telah mempercayakan kurban Iduladha bersama HF Indonesia. Berkat kebaikan dan kemurahan hati Sahabat HF, saudara-saudara kita yang pernah terdampak bencana bisa menikmati daging kurban dan merasakan hangatnya perayaan Iduladha.

Semoga tidak berhenti di tahun ini, melainkan hingga tahun-tahun mendatang, program #HFBerkurban bisa terus dilaksanakan, agar hangatnya momen Hari Raya Iduladha bisa dirayakan dan dinikmati siapapun tanpa terkecuali.

Terus dukung HF Indonesia agar semakin maju dan dapat terus memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi kemanusiaan.

WhatsApp-Image-2022-07-21-at-9.23.34-AM
DISASTER RELIEF

Humanity First Indonesia Terjunkan Ratusan Relawan Bantu Korban Banjir Bandang Garut

Humanity First menerjunkan ratusan relawan untuk membantu meringankan masyarakat terdampak banjir bandang di Kabupaten Garut.

Koordinator Lapangan, Usama Ahmad Rizal, menyampaikan sedikitnya 150 relawan yang tergabung dalam Humanity First Indonesia melakukan aksi bersih-bersih di ratusan rumah, yang bertempat di dua lokasi, yakni Cimacan dan Ciwalen.

Tim Relawan HF Indonesia membersihkan lumpur di rumah-rumah warga

“Selama seminggu kedepan, Humanity First akan fokus membantu membersihkan material lumpur di rumah-rumah korban banjir bandang. Agar masyarakat bisa beraktivitas seperti semula,”

kata Rizal, Kamis (21/07/2022).

Rumah-rumah korban banjir bandang banyak yang kemasukan lumpur akibat terbawa air banjir. Bahkan ada beberapa rumah yang terendam air bercampur lumpur dengan ketinggian satu meter lebih, sehingga perlu penyemprotan menyeluruh agar bersih dari lumpur.

Selain membersihkan material banjir, Humanity First akan menyediakan air bersih untuk kebutuhan warga terdampak bencana.

“Dari hasil assessment yang dilakukan di tempat kejadian bencana, banyak kebutuhan yang sangat mendesak, salah satunya adalah ketersediaan air bersih. Dengan sinergi bersama, tentu dampak bencana dapat diatasi dengan baik dan cepat. Doa terbaik untuk para korban bencana banjir, dan mari kita bersama-sama bersolidaritas membantu meringankan para korban”

ujar Rizal.
Lumpur yang terbawa banjir bandang

Humanity First juga mendorong pemerintah untuk bersama-sama mempercepat proses evakuasi dan pemulihan pasca-banjir.

Selain itu, Humanity First juga mengajak kepada semua pihak untuk mendoakan para korban banjir sekaligus bersama-sama memberikan bantuan kemanusiaan.

Sementara itu, Vice Chairman Humanity First Indonesia, Ahmad Masihuddin, menyampaikan bahwa aksi tanggap darurat di Garut merupakan bagian dari program Gerakan Bersama Peduli Banjir Jawa.

“Selain di Garut, kita juga sedang melakukan aksi yang sama di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di Pati, berkolaborasi dengan berbagai komunitas lain, kita menyalurkan bantuan sebanyak 1 ton beras, 1.000 pcs minuman sachet, 5 karton mi instan, 50 perlengkapan mandi untuk warga Desa Tunjungrejo, Cebolek, Margoyos, dan Bulumanis, Kabupaten Pati, Jawa Tengah”

ungkap Masihuddin