Tag: ntt

WhatsApp Image 2026-09-08 at 09.41.15
ARTICLECERITA KEMANUSIAANDISASTER RELIEF

Di Tengah Luka yang Sama, Rudi Memilih Membantu

Rudi bersama anak yang tertimpa reruntuhan akibat gempa

Bangunan-bangunan yang roboh menjadi pemandangan pertama yang dilihat Ferdinandus Djawa Logo, atau yang akrab disapa Rudi, ketika tiba di lokasi terdampak gempa Nusa Tenggara Timur.

Rumah yang sebelumnya menjadi tempat pulang dan berkumpul bersama keluarga, kini sebagian hanya menyisakan puing. Di sejumlah tempat, warga kehilangan tempat tinggal. Ada yang terluka akibat tertimpa reruntuhan. Ada pula keluarga yang harus kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Bagi Rudi, menyaksikan semua itu dari dekat bukanlah hal yang mudah.

“Yang pertama kali saya lihat ketika tiba di lokasi gempa adalah bangunan-bangunan yang roboh. Rasanya seperti tidak sanggup melihat semuanya. Tetapi yang paling membekas bagi saya adalah penderitaan para pengungsi, baik secara fisik maupun mental,” tutur Rudi.

Namun, ada satu hal yang membuat perjalanan Rudi sebagai relawan terasa berbeda.

Ia bukan hanya datang untuk melihat dampak bencana. Ia juga menjadi bagian dari mereka yang merasakan guncangannya.

Meski turut terdampak, Rudi memilih mengesampingkan sejenak apa yang ia rasakan dan berjalan menuju mereka yang kondisinya jauh lebih berat.

“Walaupun kami juga terkena dampak gempa, kami masih menyempatkan diri untuk membantu mereka yang kondisinya lebih parah dari kami. Bagi saya pribadi, menjadi relawan adalah salah satu hal paling berharga dalam hidup,” katanya.

Dari Satu Posko ke Posko Lainnya

Perjalanan sebagai relawan membawa Rudi mendatangi satu posko ke posko lainnya.

Di sanalah ia melihat bahwa gempa tidak hanya meninggalkan bangunan yang runtuh.

Ada keluarga yang kehilangan rumah. Ada warga yang terluka karena tertimpa reruntuhan. Ada pula mereka yang harus menerima kenyataan kehilangan anggota keluarga.

Gempa susulan yang masih terjadi membuat rasa takut belum sepenuhnya pergi. Namun, di tengah keadaan tersebut, kehidupan tetap berusaha berjalan.

Rudi melihat beberapa warga tetap berusaha bekerja di sela-sela kondisi yang belum pulih. Anak-anak yang belum dapat menjalani kegiatan sekolah seperti biasanya pun mencoba tetap belajar secara mandiri dengan segala keterbatasan yang ada di posko pengungsian.

Pemandangan itulah yang begitu membekas dalam ingatannya.

Namun, dari orang-orang yang sedang kehilangan itu pula Rudi justru menemukan kekuatan.

“Walaupun dalam keadaan terpukul, mereka masih bisa tersenyum dan memiliki semangat untuk kembali bangkit. Di titik itulah saya justru semakin semangat menjadi relawan,” ungkapnya.

Bagi Rudi, senyum yang ia temui di pengungsian bukan sekadar senyum biasa.

Sebab ia tahu, di balik senyum itu ada kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian tentang bagaimana kehidupan akan berjalan setelah semuanya berubah.

Relawan Pun Bisa Merasa Lelah

Menjadi relawan tidak membuat Rudi kebal terhadap rasa lelah.

Ada saat ketika tubuh terasa berat. Ada kesedihan setelah menyaksikan kondisi warga dari dekat. Bahkan, pernah muncul perasaan seolah dirinya tidak sanggup lagi melanjutkan.

“Sebagai manusia tentu ada rasa lelah, sedih, bahkan terkadang merasa sudah tidak sanggup lagi. Tetapi semua itu bukan menjadi halangan untuk tetap semangat,” tuturnya.

Setiap kali rasa itu datang, Rudi kembali mengingat orang-orang yang ditemuinya.

Mereka yang kehilangan lebih banyak darinya, tetapi masih berusaha menjalani hari.

Mereka yang rumahnya runtuh, tetapi semangatnya untuk bangkit tidak ikut terkubur bersama puing-puing.

Rudi datang sebagai relawan untuk memberikan bantuan. Namun tanpa disadarinya, orang-orang yang ia temui justru memberikan sesuatu kepadanya: pelajaran tentang keteguhan.

Hidup Tidak Pernah Benar-Benar Kita Miliki

Ada satu kesadaran yang kemudian tumbuh dalam diri Rudi setelah melihat begitu banyak kehidupan berubah hanya dalam waktu singkat.

Tentang betapa rapuhnya apa yang selama ini dianggap akan selalu ada.

Rumah, harta, kenyamanan, dan rutinitas sehari-hari dapat berubah dalam sekejap.

“Dari situ saya sadar bahwa hidup ini tidak ada yang permanen. Semuanya hanyalah titipan. Kita harus banyak bersyukur dan menyempatkan diri untuk peduli kepada sesama, karena kita hidup tidak sendiri,” kata Rudi.

Menjadi relawan akhirnya bukan sekadar tentang membagikan bantuan.

Bagi Rudi, kesempatan membantu penyaluran donasi Humanity First Indonesia menjadi pengalaman yang akan selalu ia ingat.

“Terima kasih kepada Pak Agil dan tim Humanity First yang sudah mempercayai saya dan teman-teman untuk membagikan donasi. Banyak hal yang bisa saya ambil dari pengalaman ini,” ungkapnya.

Ketika Berita Berlalu, Perjuangan Mereka Belum Selesai

Hari-hari terus berjalan sejak gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur.

Namun bagi banyak warga terdampak, berlalunya waktu belum berarti kehidupan telah kembali seperti semula.

Kebutuhan masyarakat masih besar. Warga yang kehilangan atau mengalami kerusakan tempat tinggal masih harus menghadapi proses pemulihan. Kebutuhan dasar, kebutuhan anak-anak, hingga dukungan bagi keluarga untuk perlahan menata kembali kehidupan masih diperlukan.

Bagi mereka, bangkit bukan perkara satu atau dua hari.

Ketika kabar mengenai bencana perlahan tidak lagi memenuhi layar kita, masih ada keluarga yang menjalani hari di tengah keterbatasan. Masih ada anak-anak yang menunggu kehidupan mereka kembali berjalan sebagaimana mestinya. Masih ada orang-orang yang harus mengumpulkan keberanian sedikit demi sedikit untuk memulai kembali dari apa yang tersisa.

Karena itu, Rudi berharap kepedulian kepada masyarakat terdampak tidak ikut berhenti.

“Hidup selalu berdampingan. Teruslah berbagi karena berbagi itu indah. Tetap semangat menjalani hidup dan bangkit dari keterpurukan. Warga yang masih bertahan di sini sangat mengharapkan bantuan dan dukungan dari kita semua. Jangan lupa mendoakan mereka agar selalu sehat dan kuat, serta semoga keadaan ini segera berakhir,” pesannya.

Gempa mungkin terjadi hanya dalam hitungan waktu.

Tetapi pemulihan membutuhkan perjalanan yang jauh lebih panjang.

Sobat Kemanusiaan, hari ini saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur masih membutuhkan uluran tangan kita.

Mari sisihkan sebagian rezeki untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak dan membersamai mereka dalam perjalanan untuk kembali bangkit.

Mungkin bagi kita, apa yang diberikan terasa sederhana.

Namun bagi keluarga yang sedang mencoba memulai kembali kehidupan dari tengah kehilangan, satu bantuan dapat membawa pesan yang jauh lebih besar:

Kalian tidak sendiri.

Mari terus hadir untuk NTT.

Mari kirimkan doa terbaik, sekaligus wujudkan kepedulian melalui aksi nyata.

Salurkan donasi terbaik Sobat Kemanusiaan melalui Humanity First Indonesia untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.

Sebab dari Rudi kita kembali belajar satu hal sederhana—

Kita hidup tidak sendiri. Maka, jangan biarkan mereka berjuang sendiri.

WhatsApp Image 2026-08-26 at 12.29.26
DISASTER RELIEFPRESS RELEASE

Di Tengah Duka Gempa NTT, Humanity First Indonesia Terus Hadir bagi Warga Terdampak

NUSA TENGGARA TIMUR — Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat terdampak. Dalam hitungan detik, guncangan gempa memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman.

Bagi sebagian masyarakat, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini tidak lagi dapat ditempati. Bahkan bagi warga yang rumahnya masih berdiri dan tampak baik, rasa aman belum sepenuhnya kembali. Gempa susulan yang masih terjadi setiap hari membuat sebagian warga memilih tetap tinggal di tenda karena khawatir kembali ke rumah.

Berdasarkan data terkini, sebanyak 100 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sebanyak 1.298 orang mengalami luka-luka, dengan 336 orang di antaranya mengalami luka berat. Sementara itu, 150.576 warga terpaksa mengungsi akibat kerusakan rumah dan masih tingginya intensitas gempa susulan.

Posko Pengungsian

Di sejumlah wilayah, masyarakat membangun posko-posko pengungsian sederhana, termasuk hingga tingkat dusun. Dalam kondisi terbatas, mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari menghadapi ketakutan yang belum berakhir.

“Bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat di sana adalah kebutuhan bahan pokok. Masih banyak yang belum mendapat bantuan karena akses yang belum 100 persen pulih, sehingga bantuan belum merata. Tidak hanya sembako, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan yang tidak kalah penting adalah bantuan psikologis untuk mereka. Sampai saat ini gempa masih terjadi setiap hari dan masih menghantui warga, sehingga mereka harus tinggal di tenda, walaupun ada warga yang rumahnya masih bagus” ujar Agil Cahyo Manembah, salah satu staf program Humanity First Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Humanity First Indonesia. Sejak gempa terjadi, Humanity First Indonesia berkoordinasi dengan relawan lokal, memantau perkembangan situasi, serta melakukan assessment untuk mengetahui kebutuhan masyarakat secara langsung.

Hasil assessment menunjukkan bahwa banyak warga terdampak berada di posko-posko pengungsian kecil yang tersebar hingga tingkat dusun. Kondisi tersebut membuat penyaluran bantuan perlu dilakukan secara langsung agar dapat menjangkau masyarakat yang belum memperoleh bantuan secara merata.

Berdasarkan kebutuhan di lapangan, Humanity First Indonesia memfokuskan respons tahap awal pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam beberapa hari terakhir, tim dan relawan telah bergerak menuju sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Posko Golosalonto, Desa Itejaya, Kecamatan Riung, serta Dusun Goloite, Desa Itejaya, Kecamatan Riung. Respons kemanusiaan kemudian terus dilanjutkan menuju wilayah Nagekeo.

Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam. Sebanyak 15 relawan terlibat dalam respons tersebut, dengan Humanity First Indonesia berkolaborasi bersama komunitas lokal Komunitas Bolonga Boys untuk membantu menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.

Dengan total penerima manfaat saat ini 113 kepala keluarga di desa Goloite dan 46 kepala keluarga di desa Nagekeo. Bantuan yang disalurkan meliputi beras, susu, air mineral, mi instan, telur, Energen, sayur-sayuran, sabun mandi, sabun cuci, popok bayi, perlengkapan perempuan, serta pakaian layak pakai.

Warga Kec. Riung yang mendapatkan bantuan logistik

Bagi masyarakat yang sedang bertahan di pengungsian, bantuan tersebut bukan sekadar kebutuhan logistik. Kehadiran bantuan menjadi bentuk dukungan bagi keluarga-keluarga yang tengah berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

Bagi Agil, kehadiran bantuan memiliki arti yang jauh lebih besar bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat kota dan masih menghadapi keterbatasan akses.

“Makna kehadiran Humanity First atau bantuan apa pun dari mana saja bagi mereka adalah sebuah nyawa. Mereka merasa berada di sebuah pulau kecil di wilayah timur yang jauh dari kota besar. Bantuan sekecil apa pun bagi mereka sangat berarti. Mereka merasa memiliki keluarga jauh, orang yang peduli terhadap mereka, walaupun berada di tempat yang jauh,” ungkapnya.

Hingga saat ini, bantuan Humanity First Indonesia telah menjangkau tiga wilayah dan tiga titik posko pengungsian, dengan total bantuan sebanyak Rp. 9.009.304,-.

Namun, respons kemanusiaan ini belum berakhir. Masih terdapat wilayah yang membutuhkan bantuan dan masyarakat yang belum terjangkau secara merata karena keterbatasan akses.

Humanity First Indonesia berkomitmen untuk terus menyisir wilayah-wilayah terdampak dan mengidentifikasi lokasi yang masih membutuhkan bantuan, khususnya masyarakat yang belum atau masih minim mendapatkan dukungan.

“Kita akan terus menyisir lokasi yang memang membutuhkan dan kurang mendapat bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana. Tetapi tentu kami membutuhkan bantuan dana dari para donatur untuk mendukung aksi kemanusiaan ini,” ujar Agil.

Bagi masyarakat terdampak, proses pemulihan tidak berhenti ketika guncangan utama berakhir. Ketika gempa susulan masih terjadi, rasa takut masih menyelimuti, dan rumah belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman untuk kembali, perjuangan untuk bangkit masih panjang.

Karena itu, dukungan kemanusiaan masih sangat dibutuhkan, bukan hanya dalam bentuk bahan pokok, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan dukungan psikologis bagi masyarakat yang terus hidup dalam ketakutan akibat gempa susulan.

Humanity First Indonesia akan terus melanjutkan respons kemanusiaan bersama relawan dan komunitas lokal untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Sebab bagi mereka yang berada jauh dari pusat kota dan memiliki akses bantuan yang masih terbatas, sebuah bantuan kecil dapat memiliki arti yang begitu besar: sebuah tanda bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa masih ada yang peduli, dan bahwa mereka tidak harus menghadapi masa sulit ini sendirian.

AirBersihNTT-01
PRESS RELEASE

Berbagi kebaikan di bulan Ramadan, Humanity First Indonesia melakukan pengeboran air di berbagai titik di NTT untuk akses air bersih bagi warga

Di bulan Ramadan, selain berpuasa, kita diajarkan untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Humanity First Indonesia mengajak Sobat kemanusiaan untuk melakukan kebaikan melalui program Air Bersih untuk NTT.

Program ini termasuk dalam program Water For Life. Pada kiprahnya, Water For Life telah dilakukan mulai tahun 2005, sejak Humanity First (HF) Indonesia berdiri. Selain Water For Life, HF Indonesia juga memiliki berbagai program kemanusiaan lainnya, seperti Orphan care, Knowledge For Life, Food Security, dan Global Health. Program Water For Life sendiri telah berhasil memberikan manfaat di berbagai wilayah, di antaranya Aceh, Nias, Gunungkidul, Bogor, Palu dan yang kini yang sedang dikerjakan, yaitu di Nusa Tenggara Timur (NTT).

NTT menjadi target lokasi program Water For Life berdasarkan assessment yang dilakukan oleh tim HF Indonesia, baik melalui studi literatur maupun survey langsung di lapangan. Saat ini, kondisi NTT masih sangat kesulitan air bersih, terutama saat memasuki musim kemarau. NTT merupakan provinsi dengan musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan dengan provinsi lainnya serta memiliki tingkat curah hujan yang rendah. Kondisi wilayahnya yang merupakan bebatuan keras, ditambah pengaruh sosial budaya dan masalah manajemen PDAM yang belum tuntas, juga menjadi beberapa faktor sulitnya ketersediaan air bersih di NTT.

Selain itu, banyak masyarakat NTT yang masih berpenghasilan rendah, sehingga kesulitan dalam melakukan pengeboran air karena membutuhkan biaya yang besar, dengan rentang harga 50 hingga 100 juta, tergantung dari lokasi. Oleh karena itu, warga NTT harus membeli air bersih yang mengkocek uang sebesar 300-400 ribu per bulan. Bahkan, biaya untuk beli air bersih lebih mahal dari biaya makan di sana.

Program “Air Bersih untuk NTT” akan melakukan pengeboran air di lima titik, dengan lokasi sebagai berikut:
📍Kab. Kupang
📍Kab. TTU
📍Desa Tanadjawa Dusun 3 kampung Prema Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua
📍 Desa Hallapadji Dusun 4 Kampung Raya Bawa Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua
📍Jl. Bunderan PU Desa TDM Jalur 3

Kami mengajak Sobat Kemanusiaan untuk bergabung bersama-sama wujudkan akses air bersih yang layak bagi masyarakat NTT sebagai bentuk kebaikan yang akan kita lakukan di bulan Ramadan 💙, melalui:

https://humanityfirst.id/campaign/air-bersih-untuk-ntt