Category: KNOWLEDGE FOR LIFE

anak-anak rumah belajar namorambe
KNOWLEDGE FOR LIFENEWSORPHAN CARE

Dari Tasikmalaya hingga Namorambe, Humanity First Indonesia Rayakan Hari Anak Nasional Bersama Anak-Anak Indonesia

Dari Tasikmalaya hingga Namorambe, Humanity First Indonesia Rayakan Hari Anak Nasional Bersama Anak-Anak Indonesia

By Deslia Nisrina Hanifa; Kontributor HF Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 — Di dua tempat yang berbeda, tawa anak-anak terdengar menghangatkan suasana. Menjadi peringatan Hari Anak Nasional, anak-anak Humanity First Indonesia merayakannya di LKSA Hasanah Kautsar dan Rumah Belajar Namorambe.

Di Tasikmalaya, anak-anak berkumpul dalam peringatan Hari Anak Nasional bersama Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Tasikmalaya. Sementara di Rumah Belajar Namorambe, Sumatera Utara, anak-anak mengisi hari dengan belajar, bermain, dan berkarya bersama para pengurus dan relawan Rumah Belajar Namorambe.

Meski berlangsung di lokasi yang berbeda, keduanya membawa semangat yang sama: menghadirkan ruang yang aman, penuh kasih sayang, dan memberi kesempatan bagi setiap anak untuk tumbuh, belajar, serta meraih cita-citanya.

Melalui dua program binaannya, LKSA Hasanah Kautsar di Tasikmalaya dan Rumah Belajar Namorambe, Humanity First Indonesia memperingati Hari Anak Nasional 2026 sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pemenuhan hak anak melalui pendidikan, pengasuhan, perlindungan, dan pemberdayaan.

Sebagai bagian dari peringatan Hari Anak Nasional, anak-anak asuh LKSA Hasanah Kautsar mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh KPAD Kota Tasikmalaya bersama berbagai unsur pemerintah, lembaga sosial, komunitas, dan masyarakat.

Beragam kegiatan edukatif dan interaktif mengajak anak-anak untuk mengenal hak-haknya, membangun rasa percaya diri, belajar bekerja sama, serta berani menyampaikan pendapat dalam lingkungan yang aman dan menyenangkan.

Ketua KPAD Kota Tasikmalaya, Rina Marlina, menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi seluruh elemen masyarakat.

“Kami ingin mengajak kepada semuanya bahwa sebetulnya kegiatan ini bukanlah hanya sekedar seremonial tahunan saja. Melainkan pengingat bagi kita semua bagaimana supaya kita memikirkan dan tetap konsisten dalam memperjuangkan pemenuhan anak-anak dan perlindungan anak khususnya di Kota Tasikmalaya” ujar Rina Marlina.

“Karena anak-anak adalah merupakan generasi bangsa yang dia sekarang sedang bertumbuh, sedang belajar dan membangun mimpi di hadapan kita semua”, lanjutnya.


Menurutnya, Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak, sehingga setiap anak dapat tumbuh tanpa rasa takut, memperoleh pendidikan yang layak, dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Semangat tersebut sejalan dengan komitmen Humanity First Indonesia dalam menghadirkan program-program yang mendukung tumbuh kembang anak. Melalui LKSA Hasanah Kautsar, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengasuhan, tetapi juga pendampingan pendidikan, pembinaan karakter, dan lingkungan yang mendorong mereka berkembang secara optimal.

Semangat Hari Anak Nasional juga terasa hangat di Rumah Belajar Namorambe, salah satu program pendidikan Humanity First Indonesia di Namorambe, Sumatera Utara.

Sejak pagi, anak-anak mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan kreativitas, membangun kepercayaan diri, sekaligus mempererat kebersamaan. Mulai dari aktivitas literasi, permainan edukatif, kegiatan pohon impian dan sidik jari sebagai simbol harapan dan cita-cita anak-anak, pembagian surat motivasi untuk anak hingga foto bersama sebagai penutup kegiatan, seluruh rangkaian acara menghadirkan suasana rumah belajar yang menyenangkan.

Bagi Humanity First Indonesia, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu, tetapi juga membangun karakter, kepedulian, dan harapan.

Agil Cahyo Manembah selaku staff program Humanity First Indonesia, menyampaikan bahwa setiap pertemuan bersama anak-anak merupakan kesempatan untuk menumbuhkan semangat belajar dan keyakinan bahwa mereka mampu meraih masa depan yang lebih baik.

“Kegiatan Hari Anak Nasional bukan sekadar mengisi waktu dengan permainan atau perlombaan. Kami ingin setiap aktivitas menjadi ruang belajar yang menyenangkan, tempat anak-anak membangun keberanian, bekerja sama, dan merasakan bahwa mereka dihargai. Itulah semangat yang terus kami hidupkan di Rumah Belajar Namorambe.”

“Bagi kami, Hari Anak Nasional bukan hanya tentang merayakan satu hari istimewa, tetapi tentang memastikan setiap anak pulang dengan senyum, pengalaman baru, dan semangat untuk terus belajar. Melalui Rumah Belajar Namorambe, kami ingin menghadirkan ruang yang aman dan menyenangkan, tempat anak-anak bebas bertanya, berkreasi, dan percaya bahwa mimpi mereka layak untuk diperjuangkan.” tambahnya.


Bagi anak-anak, Hari Anak Nasional menjadi momen yang penuh keceriaan. Bermain bersama teman-teman, belajar hal-hal baru, dan mendapat perhatian dari para relawan menjadi pengalaman yang menguatkan rasa percaya diri mereka.

Bagi Humanity First Indonesia, Hari Anak Nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa dibangun melalui perhatian yang diberikan kepada anak-anak hari ini.

Ahmad Masihuddin selaku Vice Chairman Humanity First Indonesia, menyampaikan bahwa melalui pendampingan di LKSA Hasanah Kautsar dan Rumah Belajar Namorambe, Humanity First Indonesia terus berupaya menghadirkan ruang yang aman bagi anak untuk belajar, bermain, bertumbuh, dan bermimpi.

“Ada sebuah pepatah kuno Afrika berbunyi: “Dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak”. Pepatah itu mengambarkan: “Membesarkan dan melindungi anak bukan hanya tugas orang tua kandung namun seluruh elemen masyarakat bertanggung jawab menciptakan ruang publik yang ramah anak dan aman untuk anak – anak”. Apa yang dikerjakan oleh Humanity First di LKSA Hasanah Kautsar dan di Rumah Belajar Namorambe merupakan kerja bersama dalam menjada masa depan anak bisa terus tercapai. Selamat Hari Anak Nasional”, ujarnya.


Dari Tasikmalaya hingga Namorambe, langkah-langkah kecil terus dilakukan setiap hari—mendampingi proses belajar, membangun kepercayaan diri, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membuka jalan bagi anak-anak untuk meraih cita-cita mereka.

Di Hari Anak Nasional ini, Humanity First Indonesia percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan untuk seorang anak akan meninggalkan jejak besar bagi masa depan. Sebab ketika seorang anak merasa dicintai, didengar, dan diberi kesempatan untuk bertumbuh, sesungguhnya harapan sedang ditanam—bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Indonesia.

ft image terima kasih
GLOBAL HEALTHKLINIK REHMATKNOWLEDGE FOR LIFENEWSORPHAN CARE

Terima Kasih Sobat Kemanusiaan, Sedekah Anda Hadirkan Harapan bagi Banyak Kehidupan

Di setiap senyum penerima manfaat, tersimpan kebaikan hati Sobat Kemanusiaan yang memilih untuk berbagi. Setiap sedekah yang dititipkan bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga menjadi harapan, semangat, dan bukti bahwa kepedulian masih tumbuh di tengah masyarakat.

Berkat kepercayaan dan kepedulian para Sobat Kemanusiaan, berbagai program kemanusiaan dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan. Mulai dari bantuan pangan, layanan kesehatan, pendidikan hingga respons kebencanaan, seluruhnya menjadi wujud nyata dari semangat gotong royong dalam menebarkan kebaikan.

LKSA Hasanah Kautsar

Salah satu kabar menggembirakan datang dari LKSA Hasanah Kautsar. Berkat dukungan dari Sobat Kemanusiaan, keluarga besar LKSA kini bertambah dengan hadirnya dua anak asuh yaitu Cinta Ramadhani yang berasal dari Bangka Belitung dan Muhammad Alif dari Cianjur. Kehadiran mereka menjadi amanah baru yang akan terus didampingi agar dapat tumbuh, belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.

Dua anak asuh baru di LKSA Hasanah Kautsar

Tak hanya itu, semangat belajar anak-anak LKSA Hasanah Kautsar juga membuahkan prestasi yang membanggakan. Faisya Almas berhasil meraih peringkat 1, Suraiya Salsabila Azzahra meraih peringkat 2, Muhammad Wildan meraih peringkat 3, dan Aininur Alifah Qolbi meraih peringkat 4 di sekolah masing-masing.

Semangat belajar anak-anak Rumah Belajar Namorambe pun tak kalah membanggakan. Eginta Perbina Gr Sembiring berhasil meraih peringkat 1, Najma Masiha berhasil meraih peringkat 2, Alona Sesilia Br Ginting berhasil meraih peringkat 2, dan Cahaya Br Sipayung berhasil meraih peringkat 3 di sekolah masing-masing.

3 anak didik Rumah Belajar Namorambe yang meraih Juara Kelas

Prestasi ini menjadi bukti bahwa setiap kebaikan yang diberikan turut membuka jalan bagi anak-anak untuk terus berkembang dan menggapai cita-cita.

Klinik Rehmat Gunungkidul

Kabar baik juga datang dari layanan kesehatan yang terus berkembang berkat dukungan Sobat Kemanusiaan, Klinik Rehmat. Hingga Juni, jumlah kunjungan pasien telah mencapai 50 kunjungan, mencerminkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang diberikan.

Berbagai pelayanan kesehatan telah diberikan, di antaranya tindakan sirkumsisi kepada 4 pasien, perawatan luka modern kepada 3 pasien, intra-articular injection kepada 2 pasien, layanan immune booster kepada 7 pasien, serta home care kepada 2 pasien.

Salah satu pasien sirkumsisi (sunatan) di Klinik Rehmat

Setiap layanan yang diberikan merupakan wujud nyata bahwa sedekah yang dititipkan telah menghadirkan akses kesehatan yang lebih baik dan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.

Sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan, kami menyampaikan apresiasi kepada para Sobat Kemanusiaan yang telah mempercayakan sedekahnya untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.

Apresiasi kami sampaikan kepada:

1INNE YULIANE17RIZKI-KHADIJAH-REHANAH33MUHAMMAD ANWAR
2TAHIR HADIWIJOYO18KHALIDA JAMILAH34TAHIRA RETNO SUKMA KASIH
3MIRATI WENINGTIAS19PIR ZADA ALAM GIR35YUYUN ISKONDIYAH
4ALTO OMAR20NURSITI SURIASIH36LELY DAMITA
5HERYANI21FATHAN ABDUSSALAM37NURUN NISA SALEH
6NADYA SIDDIQA22AHMAD MARDIANA SOFYAN38WASEEM AHMED
7MUNEEBA ACHMAD23MANSOOR AHMAD ZAHID39SUSI PARIDAWATI
8A. REGITA CAHYANI24M. ANAHDI SHOLIHIN40AZIZ ZARKASY
9AZEEMA SHAFA RABBANI25DWI HARYANTO41ASEP DARMAWAN
10NINA SJAFWAN26DANY KUSUMA PUTRI42FITRIA RAHMAWATI
11NORI KEDARSARI27IRWAN TAFRIDJA43SUTJI LESTARI
12DIAN EKAWATI28HAURA MAHDIYYA44HAIDAR AHMAD
13MUHAMAD ARIF MAKATITA29RAFIKA SETIASIH45YAQUB AHMAD IRFANI
14SUSAN ASMARANI30FAKIH AHMAD46NASIR HAYAT
15ANITA SETYAWATI31TASYAFIR47ARSALAN AHMAD
16AMATUN NASIER32EVA RAHAYU48NURHASANAH

dan seluruh Sobat Kemanusiaan lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.

Setiap kontribusi dari Sobat Kemanusiaan memiliki arti yang begitu besar. Bagi penerima manfaat, sedekah bukan sekadar bantuan materi melainkan menjadi penyemangat untuk bangkit, bertahan dan melanjutkan kehidupan dengan penuh harapan.

Dari setiap kebaikan, lahir manfaat nyata yang membantu keluarga, mendukung pendidikan anak, menghadirkan layanan kesehatan, hingga meringankan beban masyarakat terdampak bencana. Setiap rupiah yang disedekahkan telah menjelma menjadi kebermanfaatan yang nyata.

Kami percaya bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya dan akan selalu menginspirasi kebaikan lainnya. Ketika satu tangan memberi, banyak tangan lainnya akan merasakan manfaatnya.

Semoga setiap sedekah yang telah ditunaikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dilipatgandakan pahalanya, diberikan keberkahan dalam rezeki, kesehatan, serta kemudahan dalam setiap langkah kehidupan.

Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan kebaikan ini. Mari terus melangkah bersama, memperluas manfaat dan menghadirkan harapan bagi lebih banyak saudara yang membutuhkan.

Karena bersama Sobat Kemanusiaan, setiap kebaikan akan selalu berarti.

WhatsApp Image 2026-07-16 at 08.28.04
GLOBAL HEALTHKNOWLEDGE FOR LIFEORPHAN CAREPRESS RELEASE

Gerakan Sedekah Kemanusiaan “Berkat”: Menghadirkan Harapan Melalui Setiap Kebaikan

Gerakan Sedekah untuk Kemanusiaan

Setiap kebaikan yang ditunaikan melalui sedekah tidak hanya menghadirkan bantuan, namun melahirkan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan. Karena dibalik setiap kebaikan selalu memiliki cerita.

Ada senyum yang kembali merekah, harapan yang kembali menyala dan mimpi yang kembali mereka rajut untuk diwujudkan. Ada keluarga yang kembali memiliki harapan, anak-anak yang dapat melanjutkan pendidikan serta masyarakat yang mampu bangkit dari berbagai keterbatasan.

Humanity First Indonesia menghadirkan sebuah Gerakan Sedekah Kemanusiaan bertemakan “Berkat: Buah Cerita Penerima Manfaat”, sebuah gerakan yang mengangkat kisah nyata sebagai bukti bahwa kepedulian mampu menghadirkan perubahan.

Melalui gerakan ini, bersama sobat kemanusiaan dapat melihat secara nyata bagaimana sedekah menjadi jalan hadirnya keberkahan bagi banyak kehidupan. Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi dari perubahan nyata yang dirasakan oleh mereka yang menerima manfaat.

Berbagai kisah inspiratif dari para penerima manfaat dihadirkan sebagai pengingat bahwa inti dari aksi kemanusiaan adalah menghadirkan manfaat bagi sesama manusia.

Mereka bukan hanya sosok yang menerima bantuan, namun mereka juga saksi hidup bahwa sedekah memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Dari perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari, memperoleh akses pendidikan, hingga kembali memiliki harapan untuk bangkit dari keterbatasan. Setiap kisah dari mereka menjadi refleksi nyata dari manfaat yang lahir berkat kepedulian sobat kemanusiaan.

“Berkat: Buah Cerita Penerima Manfaat” ingin mengajak sobat kemanusiaan melihat sedekah dari sudut pandang yang lebih dekat dan lebih bermakna. Sobat kemanusiaan telah menjadi bagian dari rantai kebaikan yang tidak pernah terputus.

Tidak hanya sekadar tentang angka atau jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi tentang kehidupan yang tersentuh, keluarga yang kembali tersenyum dan masa depan mereka yang perlahan dibangun kembali melalui uluran tangan sobat kemanusiaan.

Lebih dari sekadar menyampaikan cerita, Gerakan Sedekah Kemanusiaan juga membawa pesan-pesan mengenai keutamaan sedekah. Setiap donasi yang diberikan merupakan wujud kepedulian yang tidak hanya meringankan beban sesama, namun juga memperkuat nilai-nilai empati, solidaritas, dan gotong royong.

Setiap sedekah, sekecil apa pun, memiliki dampak besar dalam membantu mereka yang sedang menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ketika satu tangan memilih untuk berbagi, akan lahir lebih banyak harapan yang menyala dan lebih banyak kehidupan yang berubah.

Melalui langkah kecil yang dilakukan bersama, kebaikan akan terus bertumbuh menjadi berkah yang dirasakan oleh semakin banyak orang. Sebab, ketika kepedulian dipertemukan dengan aksi nyata, lahirlah cerita-cerita kemanusiaan yang akan terus hidup dan menginspirasi.

Dibalik setiap uluran tangan sobat kemanusiaan, selalu ada cerita tentang harapan yang hidup kembali, masa depan yang mulai dibangun dan kemanusiaan yang terus tumbuh. Bersama Sobat Kemanusiaan, Gerakan Sedekah Kemanusiaan akan terus menghadirkan lebih banyak kisah, lebih banyak harapan dan lebih banyak keberkahan bagi sesama.

Setiap sedekah dari sobat kemanusiaan menanamkan harapan bagi kehidupan mereka yang lebih baik di masa depan.

PHOTO-2025-10-27-14-23-43
KNOWLEDGE FOR LIFE

Akses Adil dan Setara untuk Pendidikan pada “The Hidden Gems”

Seorang ibu bahagia melihat anaknya membaca

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2024) tentang Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat secara nasional menunjukan bahwa Provinsi Papua Barat menempati urutan ke-enam terendah dengan skor 59,29. Hal ini mengindikasikan kurangnya pada akses sumber bacaan, jumlah buku, akses internet hingga durasi membaca. Beberapa faktor tersebut menjadi perhatian khusus untuk lebih mengupayakan pada membuka akses seluas-luasnya dengan semangat kesetaraan dan keadilan terhadap sumber bacaan bagi masyarakat, khususnya untuk anak-anak berusia sekolah di Papua Barat. Masih pada hasil rilis yang sama, namun pada aspek Tingkat Pembangunan Literasi Masyarakat (BPS, 2024) secara nasional–Provinsi Papua Barat berada pada peringkat ke-tigabelas dengan skor 65,86 walaupun dalam tiga tahun terakhir Papua Barat selalu berada pada peringkat lima terbawah dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat.

Salah satu murid Rumah Belajar SaTuTiBa sedang menulis bermodalkan buku dan alat tulis

Berkaitan dengan hal tersebut, pengembangan dan peningkatan minat baca dan literasi juga penting melihat pada generasi muda dan anak-anak sebagai tolak ukur jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia secara umum untuk mengangkat derajat bangsa yang mengedepankan prinsip keadilan dan kesetaraan. Anak-anak di Papua Barat adalah generasi yang sama-sama menjadi bagian dari anak-anak Indonesia pada umumnya. Mereka berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam menjalankan Pendidikan yang dijamin oleh Negara. Hadirnya Humanity First melalui program Rumah Belajar Satutiba di Kabupaten Fak-Fak adalah wujud nyata untuk memberikan akses keadilan Pendidikan untuk anak-anak Papua. Mereka adalah emas yang tersembunyi bagi generasi masa depan bangsa. Rumah Belajar Satutiba Fak-Fak merupakan bentuk kasih sayang Humanity First pada anak-anak di Papua untuk menggenggam harapan mereka untuk melihat jendela dunia. Melalui kegiatan bimbingan belajar yang dilakukan rutin dan menggelar taman baca di setiap akhir pekan, Rumah Belajar Satutiba Fak-Fak memegang dengan tulus tangan lembut anak-anak Papua agar mereka siap menggapai cita-cita. Kini, giliran kamu berkesempatan untuk bersama-sama mendukung Rumah Belajar Satutiba Fak-Fak dalam menyediakan akses literasi demi pendidikan yang adil dan setara.

Ayo sobat, kita berperan mewujudkan kasih yang nyata pada kemajuan pendidikan yang adil dan setara bagi anak-anak Papua melalui https://humanityfirst.id/campaign/rumah-belajar-hf

fb95aa92-c44f-4a2e-b51f-f8bb84b370a4
CERITA KEMANUSIAANKNOWLEDGE FOR LIFE

Cahaya Kecil dari Kampung Lusi Peri

Kampung lusi peri, sebuah kampung yang sebetulnya tak cukup jauh dari pusat kota Fakfak, Papua Barat. Namun, meski tak cukup jauh, medan yang curam dan terjal menuju pusat kota, menjadikan anak-anak di Kampung Lusi Peri terbiasa memiliki “dunianya” di kampung sendiri, hingga tanpa disadari, menyajikan begitu banyak cerita.

Letak Kampung Lusi Peri

Keceriaan selalu terpancar di wajah mereka, meski berada dalam keterbatasan. Memang, sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan Papua nan jauh dari pusat Ibu Kota Jakarta memiliki berbagai keterbatasan yang jauh dibandingkan di sana atau bahkan dibandingkan kota-kota besar di Pulau Jawa. Namun dengan berbagai keterbatasan yang ada, tak menjadikan anak-anak di kampung Lusi Peri untuk lelah dan menyerah. Semangat belajar anak-anak di Kampung Lusi Peri begitu tinggi. Terlihat dari animo mereka ketika kami tawarkan untuk belajar les pelajaran sekolah gratis di Rumah Belajar kami. Sedikitnya dari 6 orang di hari pertama, saat ini sudah mencapai 20 orang. Vera, Daniel, Given, juga Celo, Rein, dan Kabatia menjadi pioner anak-anak di Kampung Lusi Peri. Mereka tak sulit diajari, bahkan mudah memahami. Tak kenal lelah, bahkan tetap hadir untuk belajar, meski dalam berbagai situasi.

Anak-anak Rumah Belajar SaTuTiBa

Begitu juga dengan keramahan dan kehangatan anak-anak di kampung Lusi Peri, begitu istimewa. Sapaan selamat pagi, siang, atau bahkan sore sekalipun terbiasa diucapkan oleh mereka, meski kami terbilang baru disini. Berawal dari malu-malu karna pertama bertemu, mereka tetap menyapa kami. Hingga saat ini, dengan wajah ceria penuh semangat, ketika kami berjumpa dengan mereka, mereka menyeru menyapa dengan semangat. “Pa Ustadzzz…! Bu guruuu” Kata sapaan akrab ini yang sering mereka serukan.

Pun dengan kepedulian, dan tak menjadikan perbedaan sebagai awal dari kebencian. Meski sekilas kami begitu berbeda dari mereka, kami tak merasa asing atau bahkan diasingkan. Belum lagi packaging kami yang memang islami, tak menjadikan mereka alergi, bahkan sebaliknya, begitu menghormati nilai-nilai dalam Agama kami.

Sebelum hingga sesudah belajar, do’a senantiasa dibacakan bersama di dalam hati. Begitu harmoni, tak ada canggung juga sungkan lagi, dengan keyakinannya masing-masing.

Kami baru memulai, menapaki jalan untuk “mencari” Tuhan di Tanah Papua, berupaya sedikit saja memberi setetes kebermanfaatan di Kampung Lusi Peri. Anak-anak hebat di Kampung Lusi Peri tentu banyak memiliki impian. Semoga kami dapat mendampingi, untuk merakit mimpi mereka.

 

Ditulis oleh:

Mutia Siddiqa, Pengajar Rumah Belajar HF SaTuTiBa

WhatsApp Image 2025-10-03 at 14.47.52
ARTICLEKNOWLEDGE FOR LIFE

Rumah Belajar HF SaTuTiBa (Satu Tungku, Tiga Batu) Menyalakan Api Harapan dari Fakfak Papua.

Di sebuah sudut Fakfak-Papua, terbitlah sebuah cahaya sederhana namun hangat. Cahaya itu lahir dari semangat berbagi dan kecintaan terhadap pendidikan serta kemanusiaan. Dari tangan Bapak Hafidz Bahansubu dan Ibu Mutia Siddiqa, bersama Humanity First Indonesia, berdirilah sebuah rumah belajar yang diberi nama SaTuTiBa – Satu Tungku, Tiga Batu.
Nama ini bukan sekadar nama. Ia lahir dari filosofi kearifan lokal masyarakat Fakfak: satu tungku, tiga batu. Sebuah simbol kebersamaan, keseimbangan, dan persatuan. Tungku tidak akan berdiri tegak tanpa tiga batu penopang, dan kehidupan tidak akan kokoh tanpa nilai-nilai yang menopang manusia di dalamnya.

Kegiatan di Rumah Belajar SaTuTiBa Fakfak

Dengan filosofi itu, SaTuTiBa hadir membawa tiga pijakan utama:

Batu Pertama: Pendidikan dan Literasi
Di sini, anak-anak Papua menemukan ruang untuk membaca, menulis, dan belajar yang bertujuan membangun semangat literasi. Selain itu, sebagai pendampingan belajar anak-anak untuk pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Batu Kedua: Budaya dan Karakter
SaTuTiBa tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan akar. Anak-anak tumbuh dengan kebanggaan pada tradisi, seni, dan warisan leluhur mereka. Karakter dibentuk bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan nilai, kejujuran, dan kebersahajaan.

Batu Ketiga: Kebersamaan dan Spiritualitas

SaTuTiBa menjadi ruang inklusif. Sebuah tempat di mana anak-anak, orang tua, relawan, dan masyarakat berjalan beriringan. Di sini, kebersamaan adalah kekuatan, dan spiritualitas adalah cahaya yang menuntun setiap langkah.
Lebih dari sekadar rumah belajar, SATUTIBA adalah identitas baru untuk pendidikan di kampung Lusi Peri, Fakfak Papua Barat.

Seorang anak yang sedang menulis

Ia adalah tungku kecil yang menyalakan api harapan. Api yang menghangatkan hati anak-anak, membangun keberanian untuk bermimpi, dan menyalakan tekad agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berilmu, dan berakar budaya.

SaTuTiBa ingin dikenal bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai simbol perubahan. Dari Fakfak-Papua, ia mengirimkan pesan ke seluruh Indonesia bahwa:

Pendidikan yang berakar pada budaya, bernafas kebersamaan, dan berjiwa kemanusiaan akan melahirkan generasi yang kuat.