WhatsApp Image 2026-08-26 at 12.41.55 (1)
ARTICLEDISASTER RELIEF

Ketika Tanah Tak Lagi Tenang: Mereka yang Masih Bertahan di Tengah Gempa NTT

NUSA TENGGARA TIMUR — Ada masa ketika rumah bukan lagi tempat paling aman untuk pulang.

Bagi sebagian warga Nusa Tenggara Timur, masa itu datang pada 15 Agustus 2026, ketika gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah mereka.

Guncangan itu terjadi dalam hitungan detik. Namun bagi masyarakat yang mengalaminya, dampaknya tidak berhenti ketika bumi kembali tenang.

Rumah-rumah mengalami kerusakan. Warga berlarian menyelamatkan diri. Keluarga mencari satu sama lain di tengah kepanikan. Dan ketika guncangan berhenti, sebagian dari mereka justru memilih tetap berada di luar rumah.

Bukan karena tidak ingin pulang.

Tetapi karena takut.

Gempa susulan yang masih terjadi membuat sebagian warga memilih bertahan di tenda, bahkan ketika rumah mereka masih berdiri dan secara kasatmata tampak baik.

Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Sebagian dari mereka kehilangan rasa aman.

Rumah hancur akibat gempa

Beberapa Detik yang Mengubah Segalanya

Gempa tidak memberi banyak waktu untuk bersiap.

Ketika bumi berguncang, yang terpikir adalah menyelamatkan diri dan mencari orang-orang yang dicintai.

Barang-barang bisa ditinggalkan. Rumah bisa dipikirkan kemudian.

Yang penting adalah keluar dan tetap hidup.

Namun setelah guncangan berhenti, kenyataan mulai terlihat.

Ada rumah yang rusak.

Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.

Ada mereka yang harus meninggalkan rumah dan membawa apa yang sempat diselamatkan.

Dan ada masyarakat yang kini harus tidur di bawah tenda, menunggu keadaan benar-benar aman.

Berdasarkan data terkini, gempa tersebut menyebabkan 100 orang meninggal dunia, 1.298 orang mengalami luka-luka, dan 336 orang di antaranya mengalami luka berat.

Sebanyak 150.576 warga terpaksa mengungsi.

Tetapi angka-angka itu tidak pernah benar-benar mampu menceritakan seluruh kehilangan.

Karena di balik satu angka kematian, ada keluarga yang kehilangan seseorang yang mereka cintai.

Di balik satu angka pengungsi, ada keluarga yang harus meninggalkan kehidupan yang mereka kenal.

Dan di balik mereka yang terluka, ada perjuangan untuk pulih ketika keadaan di sekitarnya sendiri belum kembali normal.

Posko Pengungsian

Mereka Masih Tinggal di Tenda

Bagi masyarakat terdampak, gempa utama mungkin telah berlalu.

Namun ketakutan belum.

Gempa susulan masih terjadi. Setiap getaran dapat kembali mengingatkan mereka pada hari ketika kehidupan berubah.

Sampai saat ini gempa setiap hari masih ada dan masih menghantui warga yang ada di sana, sehingga mereka harus tinggal di tenda, walaupun ada warga yang rumahnya masih bagus, ujar Agil Cahyo Manembah, salah satu staf program Humanity First Indonesia.

Ada sesuatu yang sulit dibayangkan dari kondisi tersebut.

Memiliki rumah, tetapi tidak berani tidur di dalamnya.

Memiliki tempat untuk pulang, tetapi belum memiliki keberanian untuk kembali.

Karena setelah bencana, rasa aman tidak selalu bisa dibangun kembali secepat sebuah bangunan.

Bantuan yang Belum Sampai kepada Semua Orang

Di sejumlah wilayah, warga mendirikan posko-posko pengungsian kecil hingga tingkat dusun.

Mereka bertahan dengan apa yang tersedia. Namun tidak semua lokasi mudah dijangkau.

Akses yang belum sepenuhnya pulih membuat distribusi bantuan belum merata. Karena itu, kebutuhan bahan pokok menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak.

Bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat di sana adalah kebutuhan bahan pokok. Masih banyak yang belum mendapat bantuan karena akses yang belum 100 persen pulih, sehingga bantuan belum merata,” kata Agil.

Namun kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada makanan.

Kesehatan menjadi kebutuhan lain yang harus diperhatikan. Begitu pula dukungan psikologis bagi masyarakat yang terus menghadapi ketakutan akibat gempa susulan.

Bencana tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat.

Sebagian luka tinggal dalam ingatan.

Dan ketika bumi kembali berguncang, rasa takut itu dapat kembali hadir.

Menempuh Jarak untuk Menjangkau Mereka

Di tengah keterbatasan akses, Humanity First Indonesia memilih untuk bergerak mendekati masyarakat.

Tim melakukan assessment, berkoordinasi dengan relawan lokal, kemudian menyisir wilayah-wilayah yang membutuhkan bantuan.

Perjalanan menuju sejumlah titik membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.

Sebanyak 15 relawan terlibat dalam respons kemanusiaan tersebut. Humanity First Indonesia juga berkolaborasi dengan Komunitas Bolonga Boys, komunitas lokal yang membantu menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.

Tim bergerak menuju Posko Golosalonto, Desa Itejaya, Kecamatan Riung, kemudian melanjutkan respons ke Dusun Goloite, Desa Itejaya, Kecamatan Riung.

Respons berikutnya berlanjut menuju wilayah Nagekeo.

Yang dibawa adalah kebutuhan-kebutuhan dasar:

Beras, susu, air mineral, mi instan, telur, Energen, sayur-sayuran, sabun mandi, sabun cuci, popok bayi, perlengkapan perempuan, serta pakaian layak pakai.

Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun di tengah situasi ketika kehidupan sehari-hari belum kembali normal, kebutuhan sederhana dapat memiliki arti yang besar.

Makanan membantu keluarga bertahan.

Perlengkapan bayi memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.

Perlengkapan kebersihan membantu masyarakat menjaga kesehatan di tengah kondisi pengungsian.

Dan kehadiran orang-orang yang datang membawa bantuan menyampaikan satu pesan penting:

Ada yang tahu bahwa mereka sedang membutuhkan pertolongan.

Bantuan logistik untuk para pengungsi

“Mereka Merasa Memiliki Keluarga Jauh”

Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota, jarak bukan hanya persoalan geografis.

Jarak juga dapat berarti keterbatasan akses terhadap bantuan.

Karena itu, kehadiran bantuan dari tempat lain memiliki arti tersendiri bagi mereka.

Agil menggambarkan makna kehadiran tersebut dengan sederhana.

Makna kehadiran Humanity First atau bantuan apa pun dari mana saja bagi mereka adalah sebuah nyawa. Mereka merasa berada di sebuah pulau kecil di wilayah timur yang jauh dari kota besar. Bantuan sekecil apa pun bagi mereka sangat berarti. Mereka merasa memiliki keluarga jauh, orang yang peduli terhadap mereka, walaupun berada di tempat yang jauh.

Bagi orang yang memberikan bantuan, apa yang diberikan mungkin terasa kecil.

Sebungkus beras.

Satu dus air mineral.

Satu paket kebutuhan bayi.

Namun bagi orang yang sedang kehilangan banyak hal, bantuan itu membawa pesan yang jauh lebih besar.

Bahwa mereka diketahui.

Bahwa mereka dipedulikan.

Bahwa jarak tidak membuat mereka dilupakan.

Karena Pemulihan Tidak Terjadi Dalam Sehari

Hingga saat ini, bantuan Humanity First Indonesia telah menjangkau tiga wilayah dan tiga titik posko, dengan total bantuan sebanyak Rp.9.009.304,-.

Namun perjalanan belum selesai.

Masih ada wilayah yang perlu disisir. Masih ada masyarakat yang belum mendapatkan bantuan secara merata. Masih ada kebutuhan kesehatan dan psikologis yang harus diperhatikan.

Dan masih ada warga yang memilih tidur di tenda karena belum berani mempercayai rumahnya sendiri.

Humanity First Indonesia berkomitmen untuk terus melanjutkan respons kemanusiaan bersama relawan dan komunitas lokal.

Kita akan terus menyisir lokasi yang memang membutuhkan dan kurang mendapat bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Agil.

Namun upaya tersebut membutuhkan dukungan lebih luas.

Respons kemanusiaan tidak dapat berjalan sendiri. Kebutuhan yang besar membutuhkan dukungan dari banyak pihak—relawan, komunitas lokal, lembaga kemanusiaan, dan para donatur.

Sebab setelah gempa, ada kehidupan yang harus dibangun kembali.

Ada rumah yang harus diperbaiki.

Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.

Ada anak-anak yang harus kembali merasa aman.

Dan ada hati yang perlahan harus diyakinkan bahwa kehidupan akan kembali berjalan.

Gempa mungkin hanya mengguncang mereka selama beberapa detik.

Namun untuk kembali merasa aman, mereka membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Maka selama masih ada warga yang menunggu bantuan, selama masih ada keluarga yang bertahan di dalam tenda, dan selama masih ada mereka yang belum terjangkau—

kemanusiaan harus terus menemukan jalan untuk datang.

Karena terkadang, sebuah bantuan tidak hanya membawa makanan.

Ia membawa kabar bahwa mereka masih diingat.

Bahwa mereka tidak dilupakan.

Dan bahwa di tempat yang jauh sekalipun, masih ada yang memilih untuk peduli.

WhatsApp Image 2026-08-26 at 12.29.26
DISASTER RELIEFPRESS RELEASE

Di Tengah Duka Gempa NTT, Humanity First Indonesia Terus Hadir bagi Warga Terdampak

NUSA TENGGARA TIMUR — Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat terdampak. Dalam hitungan detik, guncangan gempa memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman.

Bagi sebagian masyarakat, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini tidak lagi dapat ditempati. Bahkan bagi warga yang rumahnya masih berdiri dan tampak baik, rasa aman belum sepenuhnya kembali. Gempa susulan yang masih terjadi setiap hari membuat sebagian warga memilih tetap tinggal di tenda karena khawatir kembali ke rumah.

Berdasarkan data terkini, sebanyak 100 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sebanyak 1.298 orang mengalami luka-luka, dengan 336 orang di antaranya mengalami luka berat. Sementara itu, 150.576 warga terpaksa mengungsi akibat kerusakan rumah dan masih tingginya intensitas gempa susulan.

Posko Pengungsian

Di sejumlah wilayah, masyarakat membangun posko-posko pengungsian sederhana, termasuk hingga tingkat dusun. Dalam kondisi terbatas, mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari menghadapi ketakutan yang belum berakhir.

Bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat di sana adalah kebutuhan bahan pokok. Masih banyak yang belum mendapat bantuan karena akses yang belum 100 persen pulih, sehingga bantuan belum merata. Tidak hanya sembako, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan yang tidak kalah penting adalah bantuan psikologis untuk mereka. Sampai saat ini gempa masih terjadi setiap hari dan masih menghantui warga, sehingga mereka harus tinggal di tenda, walaupun ada warga yang rumahnya masih bagus” ujar Agil Cahyo Manembah, salah satu staf program Humanity First Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Humanity First Indonesia. Sejak gempa terjadi, Humanity First Indonesia berkoordinasi dengan relawan lokal, memantau perkembangan situasi, serta melakukan assessment untuk mengetahui kebutuhan masyarakat secara langsung.

Hasil assessment menunjukkan bahwa banyak warga terdampak berada di posko-posko pengungsian kecil yang tersebar hingga tingkat dusun. Kondisi tersebut membuat penyaluran bantuan perlu dilakukan secara langsung agar dapat menjangkau masyarakat yang belum memperoleh bantuan secara merata.

Berdasarkan kebutuhan di lapangan, Humanity First Indonesia memfokuskan respons tahap awal pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam beberapa hari terakhir, tim dan relawan telah bergerak menuju sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Posko Golosalonto, Desa Itejaya, Kecamatan Riung, serta Dusun Goloite, Desa Itejaya, Kecamatan Riung. Respons kemanusiaan kemudian terus dilanjutkan menuju wilayah Nagekeo.

Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam. Sebanyak 15 relawan terlibat dalam respons tersebut, dengan Humanity First Indonesia berkolaborasi bersama komunitas lokal Komunitas Bolonga Boys untuk membantu menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.

Dengan total penerima manfaat saat ini 113 kepala keluarga di desa Goloite dan 46 kepala keluarga di desa Nagekeo. Bantuan yang disalurkan meliputi beras, susu, air mineral, mi instan, telur, Energen, sayur-sayuran, sabun mandi, sabun cuci, popok bayi, perlengkapan perempuan, serta pakaian layak pakai.

Warga Kec. Riung yang mendapatkan bantuan logistik

Bagi masyarakat yang sedang bertahan di pengungsian, bantuan tersebut bukan sekadar kebutuhan logistik. Kehadiran bantuan menjadi bentuk dukungan bagi keluarga-keluarga yang tengah berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

Bagi Agil, kehadiran bantuan memiliki arti yang jauh lebih besar bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat kota dan masih menghadapi keterbatasan akses.

Makna kehadiran Humanity First atau bantuan apa pun dari mana saja bagi mereka adalah sebuah nyawa. Mereka merasa berada di sebuah pulau kecil di wilayah timur yang jauh dari kota besar. Bantuan sekecil apa pun bagi mereka sangat berarti. Mereka merasa memiliki keluarga jauh, orang yang peduli terhadap mereka, walaupun berada di tempat yang jauh, ungkapnya.

Hingga saat ini, bantuan Humanity First Indonesia telah menjangkau tiga wilayah dan tiga titik posko pengungsian, dengan total bantuan sebanyak Rp. 9.009.304,-.

Namun, respons kemanusiaan ini belum berakhir. Masih terdapat wilayah yang membutuhkan bantuan dan masyarakat yang belum terjangkau secara merata karena keterbatasan akses.

Humanity First Indonesia berkomitmen untuk terus menyisir wilayah-wilayah terdampak dan mengidentifikasi lokasi yang masih membutuhkan bantuan, khususnya masyarakat yang belum atau masih minim mendapatkan dukungan.

Kita akan terus menyisir lokasi yang memang membutuhkan dan kurang mendapat bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana. Tetapi tentu kami membutuhkan bantuan dana dari para donatur untuk mendukung aksi kemanusiaan ini,ujar Agil.

Bagi masyarakat terdampak, proses pemulihan tidak berhenti ketika guncangan utama berakhir. Ketika gempa susulan masih terjadi, rasa takut masih menyelimuti, dan rumah belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman untuk kembali, perjuangan untuk bangkit masih panjang.

Karena itu, dukungan kemanusiaan masih sangat dibutuhkan, bukan hanya dalam bentuk bahan pokok, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan dukungan psikologis bagi masyarakat yang terus hidup dalam ketakutan akibat gempa susulan.

Humanity First Indonesia akan terus melanjutkan respons kemanusiaan bersama relawan dan komunitas lokal untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Sebab bagi mereka yang berada jauh dari pusat kota dan memiliki akses bantuan yang masih terbatas, sebuah bantuan kecil dapat memiliki arti yang begitu besar: sebuah tanda bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa masih ada yang peduli, dan bahwa mereka tidak harus menghadapi masa sulit ini sendirian.

ft image terima kasih
GLOBAL HEALTHKLINIK REHMATKNOWLEDGE FOR LIFENEWSORPHAN CARE

Terima Kasih Sobat Kemanusiaan, Sedekah Anda Hadirkan Harapan bagi Banyak Kehidupan

Di setiap senyum penerima manfaat, tersimpan kebaikan hati Sobat Kemanusiaan yang memilih untuk berbagi. Setiap sedekah yang dititipkan bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga menjadi harapan, semangat, dan bukti bahwa kepedulian masih tumbuh di tengah masyarakat.

Berkat kepercayaan dan kepedulian para Sobat Kemanusiaan, berbagai program kemanusiaan dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan. Mulai dari bantuan pangan, layanan kesehatan, pendidikan hingga respons kebencanaan, seluruhnya menjadi wujud nyata dari semangat gotong royong dalam menebarkan kebaikan.

LKSA Hasanah Kautsar

Salah satu kabar menggembirakan datang dari LKSA Hasanah Kautsar. Berkat dukungan dari Sobat Kemanusiaan, keluarga besar LKSA kini bertambah dengan hadirnya dua anak asuh yaitu Cinta Ramadhani yang berasal dari Bangka Belitung dan Muhammad Alif dari Cianjur. Kehadiran mereka menjadi amanah baru yang akan terus didampingi agar dapat tumbuh, belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.

Dua anak asuh baru di LKSA Hasanah Kautsar

Tak hanya itu, semangat belajar anak-anak LKSA Hasanah Kautsar juga membuahkan prestasi yang membanggakan. Faisya Almas berhasil meraih peringkat 1, Suraiya Salsabila Azzahra meraih peringkat 2, Muhammad Wildan meraih peringkat 3, dan Aininur Alifah Qolbi meraih peringkat 4 di sekolah masing-masing.

Semangat belajar anak-anak Rumah Belajar Namorambe pun tak kalah membanggakan. Eginta Perbina Gr Sembiring berhasil meraih peringkat 1, Najma Masiha berhasil meraih peringkat 2, Alona Sesilia Br Ginting berhasil meraih peringkat 2, dan Cahaya Br Sipayung berhasil meraih peringkat 3 di sekolah masing-masing.

3 anak didik Rumah Belajar Namorambe yang meraih Juara Kelas

Prestasi ini menjadi bukti bahwa setiap kebaikan yang diberikan turut membuka jalan bagi anak-anak untuk terus berkembang dan menggapai cita-cita.

Klinik Rehmat Gunungkidul

Kabar baik juga datang dari layanan kesehatan yang terus berkembang berkat dukungan Sobat Kemanusiaan, Klinik Rehmat. Hingga Juni, jumlah kunjungan pasien telah mencapai 50 kunjungan, mencerminkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang diberikan.

Berbagai pelayanan kesehatan telah diberikan, di antaranya tindakan sirkumsisi kepada 4 pasien, perawatan luka modern kepada 3 pasien, intra-articular injection kepada 2 pasien, layanan immune booster kepada 7 pasien, serta home care kepada 2 pasien.

Salah satu pasien sirkumsisi (sunatan) di Klinik Rehmat

Setiap layanan yang diberikan merupakan wujud nyata bahwa sedekah yang dititipkan telah menghadirkan akses kesehatan yang lebih baik dan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.

Sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan, kami menyampaikan apresiasi kepada para Sobat Kemanusiaan yang telah mempercayakan sedekahnya untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.

Apresiasi kami sampaikan kepada:

1INNE YULIANE17RIZKI-KHADIJAH-REHANAH33MUHAMMAD ANWAR
2TAHIR HADIWIJOYO18KHALIDA JAMILAH34TAHIRA RETNO SUKMA KASIH
3MIRATI WENINGTIAS19PIR ZADA ALAM GIR35YUYUN ISKONDIYAH
4ALTO OMAR20NURSITI SURIASIH36LELY DAMITA
5HERYANI21FATHAN ABDUSSALAM37NURUN NISA SALEH
6NADYA SIDDIQA22AHMAD MARDIANA SOFYAN38WASEEM AHMED
7MUNEEBA ACHMAD23MANSOOR AHMAD ZAHID39SUSI PARIDAWATI
8A. REGITA CAHYANI24M. ANAHDI SHOLIHIN40AZIZ ZARKASY
9AZEEMA SHAFA RABBANI25DWI HARYANTO41ASEP DARMAWAN
10NINA SJAFWAN26DANY KUSUMA PUTRI42FITRIA RAHMAWATI
11NORI KEDARSARI27IRWAN TAFRIDJA43SUTJI LESTARI
12DIAN EKAWATI28HAURA MAHDIYYA44HAIDAR AHMAD
13MUHAMAD ARIF MAKATITA29RAFIKA SETIASIH45YAQUB AHMAD IRFANI
14SUSAN ASMARANI30FAKIH AHMAD46NASIR HAYAT
15ANITA SETYAWATI31TASYAFIR47ARSALAN AHMAD
16AMATUN NASIER32EVA RAHAYU48NURHASANAH

dan seluruh Sobat Kemanusiaan lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.

Setiap kontribusi dari Sobat Kemanusiaan memiliki arti yang begitu besar. Bagi penerima manfaat, sedekah bukan sekadar bantuan materi melainkan menjadi penyemangat untuk bangkit, bertahan dan melanjutkan kehidupan dengan penuh harapan.

Dari setiap kebaikan, lahir manfaat nyata yang membantu keluarga, mendukung pendidikan anak, menghadirkan layanan kesehatan, hingga meringankan beban masyarakat terdampak bencana. Setiap rupiah yang disedekahkan telah menjelma menjadi kebermanfaatan yang nyata.

Kami percaya bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya dan akan selalu menginspirasi kebaikan lainnya. Ketika satu tangan memberi, banyak tangan lainnya akan merasakan manfaatnya.

Semoga setiap sedekah yang telah ditunaikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dilipatgandakan pahalanya, diberikan keberkahan dalam rezeki, kesehatan, serta kemudahan dalam setiap langkah kehidupan.

Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan kebaikan ini. Mari terus melangkah bersama, memperluas manfaat dan menghadirkan harapan bagi lebih banyak saudara yang membutuhkan.

Karena bersama Sobat Kemanusiaan, setiap kebaikan akan selalu berarti.

WhatsApp Image 2026-07-16 at 08.28.04
GLOBAL HEALTHKNOWLEDGE FOR LIFEORPHAN CAREPRESS RELEASE

Gerakan Sedekah Kemanusiaan “Berkat”: Menghadirkan Harapan Melalui Setiap Kebaikan

Gerakan Sedekah untuk Kemanusiaan

Setiap kebaikan yang ditunaikan melalui sedekah tidak hanya menghadirkan bantuan, namun melahirkan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan. Karena dibalik setiap kebaikan selalu memiliki cerita.

Ada senyum yang kembali merekah, harapan yang kembali menyala dan mimpi yang kembali mereka rajut untuk diwujudkan. Ada keluarga yang kembali memiliki harapan, anak-anak yang dapat melanjutkan pendidikan serta masyarakat yang mampu bangkit dari berbagai keterbatasan.

Humanity First Indonesia menghadirkan sebuah Gerakan Sedekah Kemanusiaan bertemakan “Berkat: Buah Cerita Penerima Manfaat”, sebuah gerakan yang mengangkat kisah nyata sebagai bukti bahwa kepedulian mampu menghadirkan perubahan.

Melalui gerakan ini, bersama sobat kemanusiaan dapat melihat secara nyata bagaimana sedekah menjadi jalan hadirnya keberkahan bagi banyak kehidupan. Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi dari perubahan nyata yang dirasakan oleh mereka yang menerima manfaat.

Berbagai kisah inspiratif dari para penerima manfaat dihadirkan sebagai pengingat bahwa inti dari aksi kemanusiaan adalah menghadirkan manfaat bagi sesama manusia.

Mereka bukan hanya sosok yang menerima bantuan, namun mereka juga saksi hidup bahwa sedekah memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Dari perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari, memperoleh akses pendidikan, hingga kembali memiliki harapan untuk bangkit dari keterbatasan. Setiap kisah dari mereka menjadi refleksi nyata dari manfaat yang lahir berkat kepedulian sobat kemanusiaan.

“Berkat: Buah Cerita Penerima Manfaat” ingin mengajak sobat kemanusiaan melihat sedekah dari sudut pandang yang lebih dekat dan lebih bermakna. Sobat kemanusiaan telah menjadi bagian dari rantai kebaikan yang tidak pernah terputus.

Tidak hanya sekadar tentang angka atau jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi tentang kehidupan yang tersentuh, keluarga yang kembali tersenyum dan masa depan mereka yang perlahan dibangun kembali melalui uluran tangan sobat kemanusiaan.

Lebih dari sekadar menyampaikan cerita, Gerakan Sedekah Kemanusiaan juga membawa pesan-pesan mengenai keutamaan sedekah. Setiap donasi yang diberikan merupakan wujud kepedulian yang tidak hanya meringankan beban sesama, namun juga memperkuat nilai-nilai empati, solidaritas, dan gotong royong.

Setiap sedekah, sekecil apa pun, memiliki dampak besar dalam membantu mereka yang sedang menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ketika satu tangan memilih untuk berbagi, akan lahir lebih banyak harapan yang menyala dan lebih banyak kehidupan yang berubah.

Melalui langkah kecil yang dilakukan bersama, kebaikan akan terus bertumbuh menjadi berkah yang dirasakan oleh semakin banyak orang. Sebab, ketika kepedulian dipertemukan dengan aksi nyata, lahirlah cerita-cerita kemanusiaan yang akan terus hidup dan menginspirasi.

Dibalik setiap uluran tangan sobat kemanusiaan, selalu ada cerita tentang harapan yang hidup kembali, masa depan yang mulai dibangun dan kemanusiaan yang terus tumbuh. Bersama Sobat Kemanusiaan, Gerakan Sedekah Kemanusiaan akan terus menghadirkan lebih banyak kisah, lebih banyak harapan dan lebih banyak keberkahan bagi sesama.

Setiap sedekah dari sobat kemanusiaan menanamkan harapan bagi kehidupan mereka yang lebih baik di masa depan.

IMG_20260125_165508
DISASTER RELIEFPRESS RELEASE

Humanity First Fokuskan Program Tanggap Darurat Fase II pada Pemulihan Pendidikan Anak

Di tengah proses pemulihan pasca bencana, anak-anak menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian berkelanjutan, khususnya dalam menjaga keberlangsungan pendidikan mereka. Menyadari hal tersebut, HF melalui Program Tanggap Darurat Fase II memfokuskan intervensi pada pemulihan pendidikan anak-anak terdampak bencana di Aceh Tamiang. Selama seminggu Tim HF telah hadir di Aceh Tamiang untuk assesment dan mempersiapkan program bantuan ini.

Program ini dilaksanakan melalui penyaluran bantuan alat tulis dan perlengkapan sekolah sebagai bagian dari upaya mendukung anak-anak agar dapat kembali mengikuti aktivitas belajar dengan lebih baik. HF memandang bahwa pemulihan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan darurat, tetapi juga mencakup penguatan kembali rutinitas, rasa aman, dan semangat belajar anak pasca bencana.

Bantuan perlengkapan sekolah untuk anak-anak di Aceh Tamiang.

Di Aceh Tamiang, bantuan perlengkapan sekolah menjadi langkah konkret untuk membantu anak-anak kembali ke ruang belajar dengan kesiapan yang lebih layak, sekaligus meringankan beban keluarga terdampak. Buku, alat tulis, dan perlengkapan sekolah diharapkan dapat menjadi sarana pendukung agar anak-anak tidak tertinggal dalam proses pendidikan mereka.

Adapun bantuan perlengkapan sekolah yang disalurkan terdiri dari 550 tas sekolah, 5.500 buku tulis, 1.650 pensil, 550 pulpen, 550 penghapus, dan 550 penggaris. Selain itu, HF juga menyalurkan alat peraga pembelajaran Bahasa Inggris dan Matematika sebanyak 15 set, 2 unit globe, 2 atlas, 2 papan tulis besar, 24 spidol papan tulis, serta 12 penghapus papan tulis untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Pelaksanaan program ini merupakan hasil kolaborasi HF bersama para donatur Sobat Kemanusiaan yang terus memberikan dukungan dalam proses pemulihan pasca bencana. Partisipasi masyarakat menjadi elemen penting dalam memperkuat upaya pemulihan yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya bagi kelompok anak.

Melalui Program Tanggap Darurat Fase II ini, HF berharap dapat berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak terdampak bencana serta mendukung proses pemulihan sosial yang lebih menyeluruh.

HF mengajak masyarakat untuk terus mengambil bagian dalam ikhtiar kemanusiaan ini, agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar, tumbuh, dan menatap masa depan dengan harapan.

WhatsApp Image 2025-10-03 at 14.47.52
ARTICLEKNOWLEDGE FOR LIFE

Rumah Belajar HF SaTuTiBa (Satu Tungku, Tiga Batu) Menyalakan Api Harapan dari Fakfak Papua.

Di sebuah sudut Fakfak-Papua, terbitlah sebuah cahaya sederhana namun hangat. Cahaya itu lahir dari semangat berbagi dan kecintaan terhadap pendidikan serta kemanusiaan. Dari tangan Bapak Hafidz Bahansubu dan Ibu Mutia Siddiqa, bersama Humanity First Indonesia, berdirilah sebuah rumah belajar yang diberi nama SaTuTiBa – Satu Tungku, Tiga Batu.
Nama ini bukan sekadar nama. Ia lahir dari filosofi kearifan lokal masyarakat Fakfak: satu tungku, tiga batu. Sebuah simbol kebersamaan, keseimbangan, dan persatuan. Tungku tidak akan berdiri tegak tanpa tiga batu penopang, dan kehidupan tidak akan kokoh tanpa nilai-nilai yang menopang manusia di dalamnya.

Kegiatan di Rumah Belajar SaTuTiBa Fakfak

Dengan filosofi itu, SaTuTiBa hadir membawa tiga pijakan utama:

Batu Pertama: Pendidikan dan Literasi
Di sini, anak-anak Papua menemukan ruang untuk membaca, menulis, dan belajar yang bertujuan membangun semangat literasi. Selain itu, sebagai pendampingan belajar anak-anak untuk pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Batu Kedua: Budaya dan Karakter
SaTuTiBa tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan akar. Anak-anak tumbuh dengan kebanggaan pada tradisi, seni, dan warisan leluhur mereka. Karakter dibentuk bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan nilai, kejujuran, dan kebersahajaan.

Batu Ketiga: Kebersamaan dan Spiritualitas

SaTuTiBa menjadi ruang inklusif. Sebuah tempat di mana anak-anak, orang tua, relawan, dan masyarakat berjalan beriringan. Di sini, kebersamaan adalah kekuatan, dan spiritualitas adalah cahaya yang menuntun setiap langkah.
Lebih dari sekadar rumah belajar, SATUTIBA adalah identitas baru untuk pendidikan di kampung Lusi Peri, Fakfak Papua Barat.

Seorang anak yang sedang menulis

Ia adalah tungku kecil yang menyalakan api harapan. Api yang menghangatkan hati anak-anak, membangun keberanian untuk bermimpi, dan menyalakan tekad agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berilmu, dan berakar budaya.

SaTuTiBa ingin dikenal bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai simbol perubahan. Dari Fakfak-Papua, ia mengirimkan pesan ke seluruh Indonesia bahwa:

Pendidikan yang berakar pada budaya, bernafas kebersamaan, dan berjiwa kemanusiaan akan melahirkan generasi yang kuat.

Featured Image Klinik Rehmat 1
ARTICLEGLOBAL HEALTHKLINIK REHMAT

Peresmian Klinik Rehmat: Persembahan 20 Tahun Humanity First untuk Indonesia

Klinik Rehmat lahir sebagai wujud nyata dari semangat “20 Tahun HF Untuk Indonesia”, ini merupakan sebuah pengabdian bagi bangsa Indonesia.

 

Semangat Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini menjadi momentum bersejarah bagi Humanity First Indonesia. Setelah 20 tahun hadir melayani kemanusiaan, membantu tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan, kini Humanity First Indonesia mempersembahkan sebuah harapan baru yaitu Klinik Rehmat.

Tepat di bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Klinik Rehmat diresmikan bukan sekadar sebagai fasilitas kesehatan, tetapi juga sebagai simbol pengharapan, kasih sayang, dan dedikasi untuk masyarakat. Pada berdirinya Klinik Rehmat, Humanity First Indonesia meneguhkan komitmennya untuk terus melayani dan mendampingi masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan. Klinik ini diharapkan menjadi tempat di mana setiap orang dapat merasakan sentuhan kemanusiaan, perhatian, dan pelayanan yang penuh kasih.

Logo Klinik Rehmat

Peresmian ini adalah ungkapan syukur atas 20 tahun perjalanan Humanity First Indonesia yang telah berjuang di berbagai bencana, layanan kesehatan, pendidikan,Pengadaan Air Bersih, Kepedulian Anak Yatim dan program lainnya. Kini, langkah itu semakin kokoh dengan hadirnya Klinik Rehmat, sebagai hadiah kemerdekaan untuk bangsa tercinta.

Peresmian pun menjadi moment spesial karena akan dihadiri oleh Chairman HF Internasional, Chairman HF USA, Chairman Board of Trustees dan juga Chairman HF Indonesia sendiri yang tentunya akan menambah kemeriahan perayaan “20 Tahun Humanity First Indonesia untuk Indonesia”. Sekaligus 30 Tahun HF Internasional.

Copy of DSC00438
ARTICLE

20 Tahun Humanity First Indonesia dalam Data

Humanity First Indonesia telah berusia 20 tahun pasca-berdiri tahun 2004. Selama 20 tahun tersebut, berbagai program-program kemanusiaan telah dilakukan HF Indonesia, meliputi Bantuan Kebencanaan (Disaster Relief), Perawatan Komunitas (Community Care), Perawatan Anak Yatim (Orphan Care), Air untuk Kehidupan (Water for Life), Ketahanan Pangan (Food Security), Pengetahuan untuk Kehidupan (Knowledge for Life), Kesehatan Global (Global Health), dan Anugerah Penglihatan (Gift of Sight). Program-program tersebut seirama dengan agenda pembangunan global dalam wujud Sustainable Development Goals (SDGs).

Humanity First Indonesia berkomitmen akan selalu menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dengan tidak memandang suku, ras, agama maupun antar golongan (SARA) dalam setiap aksi pelayanan kemanusiaan. Dari tahun ke tahun, kinerja dan cakupan misi kemanusiaan HF Indonesia semakin meluas hingga menjangkau bukan hanya daerah-daerah terpencil di Pulau Jawa, tetapi juga Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua. Kemajuan tersebut dapat dilihat melalui kinerja HF Indonesia hingga tahun 2025 ini.

Sampai tahun 2025, implementasi berbagai program kemanusiaan HF Indonesia dilakukan di 12 daerah di Indonesia, meliputi Aceh, Medan, dan Nias di Pulau Sumatera. Lalu Banten, Tangerang, Jakarta, Bandung, Indramayu, dan Jogja di Pulau Jawa. Kemudian juga ada daerah di NTB, NTT dan Papua. Lalu terdapat lebih dari 110 ribu individu penerima manfaat program-program HF Indonesia tersebut. Bahkan melalui program-program kesehatan, tercatat lebih dari 16.000 pasien yang telah terobati. Dengan status HF Indonesia sebagai organisasi kemanusiaan dan non-pemerintah, maka kinerja dan berbagai hasil misi kemanusiaan HF Indonesia ini demikian patut diapresiasi.

Tindak balik akselerasi kinerja HF Indonesia terjadi pasca-revitalisasi lembaga tahun 2014. Program HF Indonesia tidak lagi hanya berkutat pada aspek tanggap bencana, tetapi juga program-program kemanusiaan lainnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial lainnya. Peran dan kontribusi tersebut secara tematik sebagai berikut :

Anak-anak yang sedang belajar di Rumah Belajar Namorambe

Bidang Pendidikan : Peran dan kontribusi HF Indonesia pada bidang pendidikan dapat dilihat melalui program Knowledge For Life dan Orphan Care. Dari tahun 2015 hingga sekarang, lebih kurang terdapat 1.900 anak penerima manfaat melalui program ini, terutama didapatkan oleh peserta didik. Diawali pada tahun 2015, salah satu implementasi program ini berupa membangun gerakan Maluku Membaca. Selama program ini berjalan, lebih dari 500 siswa di Maluku terlibat. Program ini juga membagikan 560 buku untuk siswa-siswa, serta melakukan perpustakaan keliling di 3 Sekolah Dasar. Dari program Knowledge For Life, hadir beberapa turunannya seperti Taman Baca Keta dengan tercatat telah memberikan manfaat akses literasi kepada lebih dari 50 anak dan Rumah Belajar Namorambe yang telah memberikan manfaat bimbingan belajar di daerah Deli Serdang sebanyak 40 anak. Pada bidang Pendidikan, juga yang menjadi program utama Humanity First Indonesia yaitu Orphan Care. Program ini adalah wujud nyata HF dalam merawat dan menjaga generasi masa depan dengan memberikan kehidupan, pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak yang kurang beruntung dalam segi latar belakang individu. Sedikitnya ada 2 Panti Asuhan yang telah mendapatkan manfaat dari program Orphan Care ini yaitu program Kakak Asuh pada Panti Asuhan Nurul Ikhwan di Tangerang Selatan dan LKSA Hasanah Kautsar di Tasikmalaya yang selama ini masih berjalan dengan baik dan telah mengasuh dan merawat 30 anak-anak berprestasi.

Anak Asuh yang sedang belajar bersama Kakak Asuh di LKSA Hasanah Kautsar

Bidang Kesehatan : Melalui program global health, HF Indonesia fokus kepada pembangunan fasilitas rumah sakit dan klinik baru, melatih dokter, menyediakan persediaan dan sumber daya medis, serta menawarkan posko medis penjangkauan. Kontribusi HF Indonesia terhadap sektor kesehatan masyarakat dapat dilihat melalui keberadaan Klinik Asih Sasama. Klinik ini dibangun sejak tahun 2014 di Desa Ngloro, Gunungkidul, DIY Yogyakarta.

Klinik Asih Sasama

Klinik Asih Sasama memberikan layanan medis umum kepada masyarakat luas dengan biaya yang disesuaikan dengan kemampuan finansial pasien. Kondisi tersebut dapat dilihat melalui data dari tahun 2015-2023, klinik ini telah melayani lebih dari 29 ribu masyarakat berobat. Dari tahun ke tahun, jumlah pasien klinik Asih Sasama cenderung meningkat, bahkan konsisten di angka 3.000 – 5.000 pasien setiap tahunnya.

Setiap tahunnya, klinik ini terus berupa meningkatkan kualitas layanannya. Meskipun baru 1 tahun berdiri, di tahun 2015, Klinik Asih Sasama bahkan telah menangani 4.622 pasien di Desa Ngloro. Selain melakukan pelayanan kesehatan secara umum, Klinik Asih Sasama juga melakukan penyuluhan bagi para orangtua berkaitan dengan pola asuh dan mental anak. Pada tahun 2016, klinik ini memiliki 8.820 kunjungan masyarakat berobat. Dari kunjungan tersebut, terdapat 4.472 pasien. Layanan medis yang diberikan kepada pasien dalam bentuk tindakan medis umum meliputi: Injeksi, Cek darah (HB, Glukosa, Asam Urat, Kolesterol), Nebulizer, Infus, Asering, EKG, GV dan Hecting.

Dokter dan Perawat yang sedang melakukan perawatan di Klinik Asih Sasama

Seiring berjalannya waktu, hingga tahun 2022, kontribusi Klinik Asih Sasama semakin massif dan berkembang. Pada tahun 2022, layanan kesehatan klinik tersebut sudah terbagi atas poliklinik umum, gigi, kebidanan, dan perawatan rumah. Di tahun 2022 ini, tercatat ada 3.045 pasien yang berobat di Klinik Asih Sasama. Sebagian besar, yakni 2.924 pasien, merupakan pasien umum, kemudian sisanya 6 pasien gigi, dan 115 pasien bidan. Hingga tahun 2023, jumlah pasien yang berobat di Klinik Asih Sasama sebanyak lebih dari 16.000 pasien terlayani.

Kemudian HF Indonesia juga pernah memiliki program GiveBlood berbentuk sebuah platform donor darah yang mempertemukan dan menghubungkan para pencari donor dengan relawan pendonor darah secara langsung. Terdapat fitur-fitur dalam aplikasi ini yang memudahkan pengguna. Platform ini hadir sebagai sebuah solusi dari kesulitannya masyarakat dalam mencari donor darah, terutama untuk masyarakat dengan penyakit yang memerlukan donor darah rutin sebagai pengobatannya. Para pencari donor bahkan juga bisa mencari pendonor darah dalam radius 20 km dari lokasi pencari donor. Platform ini telah memiliki 2.900 pengguna, 2.200 di dalamnya merupakan pengguna aktif. Secara umum tercatat lebih dari 10.000 kantong labu donor darah selama program ini berjalan.

Bidang Tanggap Bencana : Signifikansi peran HF Indonesia dalam tanggap bencana di Indonesia dapat dilihat melalui berbagai misi kemanusiaan yang dilakukan dalam membantu korban bencana. Dari tahun 2015 hingga 2023, berdasarkan akumulasi laporan HF Indonesia, lebih dari 60.000 penerima manfaat. Bantuan tersebut dilakukan melalui mobilisasi relawan, logistik, dan jejaring lokal. Akumulasi bantuan tersebut membuat HF Indonesia mampu menjangkau wilayah-wilayah terdampak yang sering kali luput dari perhatian media maupun bantuan pemerintah. Kemudian pada tahun 2016 HF Indonesia berupaya memperkuat jaringan serta pengadaan aset untuk kegiatan tanggap darurat untuk menunjang upaya penanganan korban bencana alam. Tanggap bencana HF Indonesia semakin massif terlibat dalam misi-misi kemanusiaan, seperti gempa bumi, banjir bandang dan tanah longsor. Dalam misi kemanusiaan tersebut, HF Indonesia telah melibatkan 20 dokter, 16 Perawat dan lebih dari 250 relawan.

Seorang relawan bersama korban bencana gempa Cianjur pada tahun 2022

Tanggap bencana yang dilakukan HF Indonesia hadir dalam setiap tahunnya dan terus berkembang, serta gigih dalam menjalankan misi kemanusiaannya. HF Indonesia hadir melalui program Disaster relief ini, tercatat sebanyak lebih dari 18 Kabupaten yang terdampak bencana telah menerima bantuan manfaat berupa sandang dan pangan.

Bidang Ketahanan Pangan : Gerakan Ketahanan Pangan dalam program Food Security telah berjalan hingga saat ini melalui beberapa program turunan seperti pembagian sembako saat dunia menghadapi fenomena Covid-19 dan #HFBerkurban. Pada masa fenomena wabah Covid-19, HF Indonesia aktif responsif memberikan manfaat pembagian masker, hand sanitizer dan juga sembako untuk membantu mereka yang terkena dampak pelemahan ekonomi dan kekurangan akses pangan. Tercatat lebih dari 6000 paket sembako telah dibagikan di 40 lokasi di berbagai daerah di Indonesia. Sejak tahun 2018, kegiatan HF Berkurban telah menjadi salah satu program rutin hari Raya Idul Adha. Lokasi penerima manfaat yang dipilih adalah lokasi yang paling membutuhkan bantuan, yaitu daerah yang sedang maupun telah terdampak bencana, dan 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Gerakan ini merupakan kerja sama antara Humanity First USA sebagai pendonor dan HF Indonesia sebagai pelaksana.

Pembagian daging hewan kurban

#HFBerkurban juga terintegrasi dengan Disaster Relief dalam menyasar korban bencana yang kekurangan pangan, sehingga pembagian daging sapi kurban didistribusikan untuk korban bencana. Selain itu, secara keseluruhan sebanyak 16.000 kantong daging pada #HFBerkurban yang tersebar bagi penerima manfaat di 27 kabupaten di Indonesia.

Berbahagia saat pertama kali mendapatkan air bersih

Bidang Sanitasi dan Air : Humanity First Indonesia melalui program Water For Life untuk mengadakan atau melakukan perbaikan pompa air, akses MCK, dan sanitasi untuk menyediakan air minum yang bersih dan aman ke desa-desa terpencil di daerah tertinggal di Indonesia. Hal ini adalah bentuk dari HF Indonesia dalam mengurangi permasalahan minimnya fasilitas air bersih dan sanitasi lingkungan yang memadai. Selama 7 tahun program ini berjalan, sebanyak lebih dari 15 desa telah terbangun fasilitas MCK dan fasilitas pompa air bersih dengan berdampak langsung kepada 5000 penerima manfaat. Ketersediaan dan akses air bersih juga menjadi fokus HF Indonesia dalam fokus kesehatan.

Humanity First Indonesia akan selalu menjaga asa kebermanfaatan bagi masyarakat luas. Nilai kemanusian adalah bentuk luhur pengabdian kepada Yang Maha Kuasa untuk memperkuat hubungan dengan-Nya. Selama 20 tahun berdiri hingga sekarang, spirit itu akan selalu berdiri tegak dan berjalan beriringan bersama para penerima manfaat, para donatur, para relawan dan para pengurus yang berdedikasi untuk menciptakan Indonesia yang ramah, damai dan penuh kasih sayang.

Greetings Ramadhan
ARTICLE

Meraih Ketakwaan adalah Karunia Terindah di Bulan Ramadan

Seorang pria yang sedang beribadah di masjid

Ramadan adalah bulan yang istimewa bagi umat Muslim. Setelah berbulan-bulan menjalani aktivitas duniawi, Allah Ta’ala hanya meminta satu bulan untuk kita meninggalkan urusan duniawi, berpuasa, dan memperbanyak ibadah di bulan Ramadan.

Seharusnya umat Muslim bersyukur karena masih dipertemukan dengan bulan Ramadan yang mulia dan penuh berkah. Pada bulan suci ini, umat Islam memperoleh berbagai karunia Ramadan yang tak terhingga. Di bulan inilah jalinan dan hubungan spiritual kita dengan Allah Ta’ala dapat ditingkatkan. Melalui memperbanyak ibadah, kita dapat meraih karunia Ramadhan, yaitu menjadi umat yang bertakwa. Banyak karunia yang dapat diraih jika kita menjalankan ibadah di bulan ini dengan sungguh-sungguh, terutama dalam menjalankan ibadah puasa.

Puasa di bulan Ramadan merupakan keistimewaan yang diwajibkan dan menjadi ritual khusus di antara bulan-bulan lainnya. Selain sebagai bentuk ketaatan kita kepada perintah Allah, berpuasa juga merupakan bentuk pengendalian diri dan kepedulian. Selain dilarang melakukan perbuatan tercela dan diajarkan untuk bersabar menahan hawa nafsu, puasa juga mengajarkan kepedulian dan empati terhadap sesama. Oleh karena itu, di bulan Ramadan kita dianjurkan untuk memperbanyak amal baik.

Ibadah puasa adalah ibadah multidimensional yang meliputi aspek moral, sosial, dan spiritual. Puasa tidak hanya membentuk pribadi yang saleh secara personal, tetapi juga saleh secara sosial. Ada dua semangat dalam berpuasa: pertama, semangat mendidik diri agar meraih ketakwaan; kedua, semangat mengembangkan kebaikan sosial. Semangat kedua ini menjadi modal dan dasar dari ketakwaan. Oleh karena itu, berpuasa di bulan Ramadan merupakan upaya membentuk kehidupan yang tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai ritual kemanusiaan agar tercapai ketakwaan. Ketakwaan adalah karunia Ramadan yang paling utama. Maka dari itu, di bulan Ramadan kita harus berusaha menjalankan amalan ibadah dan amal baik, bahkan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

Humanity First Indonesia mengajak Sobat Kemanusiaan untuk bersama-sama mengejar karunia Ramadan. Selain memperbanyak ibadah dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh, Humanity First mengajak Sobat Kemanusiaan untuk melakukan amal baik melalui program-programnya. Salah satunya adalah program menyantuni anak yatim piatu di bulan Ramadan. Bulan ini, Humanity First memfokuskan perhatian untuk membangun kepedulian terhadap anak-anak yatim di Panti Asuhan Hasanah Kautsar.

Kurma (Karunia Ramadan)

Melalui program khusus Ramadan, yaitu “Kurma” (Karunia Ramadan), Sobat Kemanusiaan diajak untuk melakukan amal saleh terhadap sesama agar dapat meraih karunia Ramadan, yaitu ketakwaan.

Dengan beribadah dan berbagi kebaikan, semoga kita semua dapat meraih karunia Ramadan yang paling utama: menjadi insan yang bertakwa. Mari manfaatkan bulan suci ini sebagai momentum mempererat hubungan dengan Allah dan memperluas kepedulian terhadap sesama.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita semua dimampukan untuk meraih berkah dan ketakwaan di bulan Ramadan ini.

featured img
ARTICLE

Jadilah Sumber Kedamaian, Kasih Sayang, & Kemanusiaan di Ramadan Ini

Ramadan kembali hadir, membawa serta cahaya keberkahan dan kesempatan bagi setiap insan untuk memperbaiki diri. Bulan di mana setiap Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, bukan hanya melalui ibadah, tetapi juga melalui semangat pengorbanan dan kebaikan kepada sesama. Saat Ramadan tiba, kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri untuk lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih peduli terhadap orang lain.

Tangan relawan yang sedang memberi hadiah kecil

Pengorbanan dalam Ramadan juga berarti menyisihkan sebagian dari apa yang kita miliki untuk mereka yang lebih membutuhkan. Saat berbuka puasa dengan hidangan yang cukup, ada banyak orang di luar sana yang mungkin hanya memiliki sepotong roti atau bahkan harus menahan lapar lebih lama. Ramadan mengajarkan kepedulian, mengajak setiap muslim untuk berbagi, baik dalam bentuk makanan, sedekah, atau bahkan sekadar kebaikan kecil yang bisa meringankan beban orang lain.  

Inilah bulan di mana tangan yang memberi akan selalu lebih mulia daripada tangan yang menerima

 

Namun, Ramadan bukan hanya tentang pengorbanan, tetapi juga tentang menebar kebaikan dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun. Setiap langkah kecil menuju perbuatan baik memiliki nilai yang berlipat ganda. Sebuah senyuman tulus, kata-kata yang menenangkan, atau sekadar membantu seseorang dalam kesulitannya, semua itu menjadi amal yang tidak ternilai. Ini adalah bulan di mana setiap orang diajak untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, untuk lebih sabar, lebih penyayang, dan lebih ikhlas dalam berbuat baik tanpa mengharapkan balasan apa pun selain ridha-Nya. 

Suka cita dalam bersilaturahmi.

Ramadan juga menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama. Sering kali, dalam kesibukan sehari-hari, kita lupa untuk menjaga silaturahmi, lupa untuk meminta maaf atau memaafkan, dan lupa untuk menunjukkan rasa sayang kepada keluarga dan teman. Di bulan yang penuh rahmat ini, kita diajak untuk membuka hati, untuk memperbaiki hubungan yang renggang, dan untuk menebarkan kedamaian di sekitar kita.  

Karena menjadi sumber kedamaian tidak selalu berarti melakukan hal besar—kadang, cukup dengan memberikan maaf, memahami tanpa menghakimi, dan menghadirkan ketulusan dalam setiap pertemuan.

 

Lebih dari itu, Ramadan adalah saat yang tepat untuk membentuk kebiasaan baik yang dapat kita lanjutkan di bulan-bulan berikutnya. Kebaikan yang kita lakukan selama Ramadan seharusnya tidak berhenti begitu saja saat bulan ini berakhir. Justru, ini adalah awal dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik—kehidupan yang lebih penuh dengan empati, kepedulian, dan keikhlasan dalam berbagi.   Karena sejatinya, makna Ramadan tidak hanya terletak pada ibadah ritual semata, tetapi juga pada bagaimana kita menjadikannya sebagai titik awal untuk menjadi manusia yang lebih peduli, lebih lembut hatinya, dan lebih mampu menghadirkan kebaikan di dunia.

Maka, sambutlah Ramadan dengan hati yang lapang dan semangat yang menyala. Jadikan bulan suci ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, menebarkan kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang bagaimana kita menjadi manusia yang lebih baik—

Jadilah manusia yang membawa kedamaian, kasih sayang, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap langkah kehidupan.