Tag: Serving Mankind

WhatsApp Image 2026-08-26 at 12.41.55 (1)
ARTICLEDISASTER RELIEF

Ketika Tanah Tak Lagi Tenang: Mereka yang Masih Bertahan di Tengah Gempa NTT

NUSA TENGGARA TIMUR — Ada masa ketika rumah bukan lagi tempat paling aman untuk pulang.

Bagi sebagian warga Nusa Tenggara Timur, masa itu datang pada 15 Agustus 2026, ketika gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah mereka.

Guncangan itu terjadi dalam hitungan detik. Namun bagi masyarakat yang mengalaminya, dampaknya tidak berhenti ketika bumi kembali tenang.

Rumah-rumah mengalami kerusakan. Warga berlarian menyelamatkan diri. Keluarga mencari satu sama lain di tengah kepanikan. Dan ketika guncangan berhenti, sebagian dari mereka justru memilih tetap berada di luar rumah.

Bukan karena tidak ingin pulang.

Tetapi karena takut.

Gempa susulan yang masih terjadi membuat sebagian warga memilih bertahan di tenda, bahkan ketika rumah mereka masih berdiri dan secara kasatmata tampak baik.

Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Sebagian dari mereka kehilangan rasa aman.

Rumah hancur akibat gempa

Beberapa Detik yang Mengubah Segalanya

Gempa tidak memberi banyak waktu untuk bersiap.

Ketika bumi berguncang, yang terpikir adalah menyelamatkan diri dan mencari orang-orang yang dicintai.

Barang-barang bisa ditinggalkan. Rumah bisa dipikirkan kemudian.

Yang penting adalah keluar dan tetap hidup.

Namun setelah guncangan berhenti, kenyataan mulai terlihat.

Ada rumah yang rusak.

Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.

Ada mereka yang harus meninggalkan rumah dan membawa apa yang sempat diselamatkan.

Dan ada masyarakat yang kini harus tidur di bawah tenda, menunggu keadaan benar-benar aman.

Berdasarkan data terkini, gempa tersebut menyebabkan 100 orang meninggal dunia, 1.298 orang mengalami luka-luka, dan 336 orang di antaranya mengalami luka berat.

Sebanyak 150.576 warga terpaksa mengungsi.

Tetapi angka-angka itu tidak pernah benar-benar mampu menceritakan seluruh kehilangan.

Karena di balik satu angka kematian, ada keluarga yang kehilangan seseorang yang mereka cintai.

Di balik satu angka pengungsi, ada keluarga yang harus meninggalkan kehidupan yang mereka kenal.

Dan di balik mereka yang terluka, ada perjuangan untuk pulih ketika keadaan di sekitarnya sendiri belum kembali normal.

Posko Pengungsian

Mereka Masih Tinggal di Tenda

Bagi masyarakat terdampak, gempa utama mungkin telah berlalu.

Namun ketakutan belum.

Gempa susulan masih terjadi. Setiap getaran dapat kembali mengingatkan mereka pada hari ketika kehidupan berubah.

Sampai saat ini gempa setiap hari masih ada dan masih menghantui warga yang ada di sana, sehingga mereka harus tinggal di tenda, walaupun ada warga yang rumahnya masih bagus, ujar Agil Cahyo Manembah, salah satu staf program Humanity First Indonesia.

Ada sesuatu yang sulit dibayangkan dari kondisi tersebut.

Memiliki rumah, tetapi tidak berani tidur di dalamnya.

Memiliki tempat untuk pulang, tetapi belum memiliki keberanian untuk kembali.

Karena setelah bencana, rasa aman tidak selalu bisa dibangun kembali secepat sebuah bangunan.

Bantuan yang Belum Sampai kepada Semua Orang

Di sejumlah wilayah, warga mendirikan posko-posko pengungsian kecil hingga tingkat dusun.

Mereka bertahan dengan apa yang tersedia. Namun tidak semua lokasi mudah dijangkau.

Akses yang belum sepenuhnya pulih membuat distribusi bantuan belum merata. Karena itu, kebutuhan bahan pokok menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak.

Bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat di sana adalah kebutuhan bahan pokok. Masih banyak yang belum mendapat bantuan karena akses yang belum 100 persen pulih, sehingga bantuan belum merata,” kata Agil.

Namun kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada makanan.

Kesehatan menjadi kebutuhan lain yang harus diperhatikan. Begitu pula dukungan psikologis bagi masyarakat yang terus menghadapi ketakutan akibat gempa susulan.

Bencana tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat.

Sebagian luka tinggal dalam ingatan.

Dan ketika bumi kembali berguncang, rasa takut itu dapat kembali hadir.

Menempuh Jarak untuk Menjangkau Mereka

Di tengah keterbatasan akses, Humanity First Indonesia memilih untuk bergerak mendekati masyarakat.

Tim melakukan assessment, berkoordinasi dengan relawan lokal, kemudian menyisir wilayah-wilayah yang membutuhkan bantuan.

Perjalanan menuju sejumlah titik membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.

Sebanyak 15 relawan terlibat dalam respons kemanusiaan tersebut. Humanity First Indonesia juga berkolaborasi dengan Komunitas Bolonga Boys, komunitas lokal yang membantu menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.

Tim bergerak menuju Posko Golosalonto, Desa Itejaya, Kecamatan Riung, kemudian melanjutkan respons ke Dusun Goloite, Desa Itejaya, Kecamatan Riung.

Respons berikutnya berlanjut menuju wilayah Nagekeo.

Yang dibawa adalah kebutuhan-kebutuhan dasar:

Beras, susu, air mineral, mi instan, telur, Energen, sayur-sayuran, sabun mandi, sabun cuci, popok bayi, perlengkapan perempuan, serta pakaian layak pakai.

Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun di tengah situasi ketika kehidupan sehari-hari belum kembali normal, kebutuhan sederhana dapat memiliki arti yang besar.

Makanan membantu keluarga bertahan.

Perlengkapan bayi memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.

Perlengkapan kebersihan membantu masyarakat menjaga kesehatan di tengah kondisi pengungsian.

Dan kehadiran orang-orang yang datang membawa bantuan menyampaikan satu pesan penting:

Ada yang tahu bahwa mereka sedang membutuhkan pertolongan.

Bantuan logistik untuk para pengungsi

“Mereka Merasa Memiliki Keluarga Jauh”

Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota, jarak bukan hanya persoalan geografis.

Jarak juga dapat berarti keterbatasan akses terhadap bantuan.

Karena itu, kehadiran bantuan dari tempat lain memiliki arti tersendiri bagi mereka.

Agil menggambarkan makna kehadiran tersebut dengan sederhana.

Makna kehadiran Humanity First atau bantuan apa pun dari mana saja bagi mereka adalah sebuah nyawa. Mereka merasa berada di sebuah pulau kecil di wilayah timur yang jauh dari kota besar. Bantuan sekecil apa pun bagi mereka sangat berarti. Mereka merasa memiliki keluarga jauh, orang yang peduli terhadap mereka, walaupun berada di tempat yang jauh.

Bagi orang yang memberikan bantuan, apa yang diberikan mungkin terasa kecil.

Sebungkus beras.

Satu dus air mineral.

Satu paket kebutuhan bayi.

Namun bagi orang yang sedang kehilangan banyak hal, bantuan itu membawa pesan yang jauh lebih besar.

Bahwa mereka diketahui.

Bahwa mereka dipedulikan.

Bahwa jarak tidak membuat mereka dilupakan.

Karena Pemulihan Tidak Terjadi Dalam Sehari

Hingga saat ini, bantuan Humanity First Indonesia telah menjangkau tiga wilayah dan tiga titik posko, dengan total bantuan sebanyak Rp.9.009.304,-.

Namun perjalanan belum selesai.

Masih ada wilayah yang perlu disisir. Masih ada masyarakat yang belum mendapatkan bantuan secara merata. Masih ada kebutuhan kesehatan dan psikologis yang harus diperhatikan.

Dan masih ada warga yang memilih tidur di tenda karena belum berani mempercayai rumahnya sendiri.

Humanity First Indonesia berkomitmen untuk terus melanjutkan respons kemanusiaan bersama relawan dan komunitas lokal.

Kita akan terus menyisir lokasi yang memang membutuhkan dan kurang mendapat bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Agil.

Namun upaya tersebut membutuhkan dukungan lebih luas.

Respons kemanusiaan tidak dapat berjalan sendiri. Kebutuhan yang besar membutuhkan dukungan dari banyak pihak—relawan, komunitas lokal, lembaga kemanusiaan, dan para donatur.

Sebab setelah gempa, ada kehidupan yang harus dibangun kembali.

Ada rumah yang harus diperbaiki.

Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.

Ada anak-anak yang harus kembali merasa aman.

Dan ada hati yang perlahan harus diyakinkan bahwa kehidupan akan kembali berjalan.

Gempa mungkin hanya mengguncang mereka selama beberapa detik.

Namun untuk kembali merasa aman, mereka membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Maka selama masih ada warga yang menunggu bantuan, selama masih ada keluarga yang bertahan di dalam tenda, dan selama masih ada mereka yang belum terjangkau—

kemanusiaan harus terus menemukan jalan untuk datang.

Karena terkadang, sebuah bantuan tidak hanya membawa makanan.

Ia membawa kabar bahwa mereka masih diingat.

Bahwa mereka tidak dilupakan.

Dan bahwa di tempat yang jauh sekalipun, masih ada yang memilih untuk peduli.

WhatsApp Image 2026-08-26 at 12.29.26
DISASTER RELIEFPRESS RELEASE

Di Tengah Duka Gempa NTT, Humanity First Indonesia Terus Hadir bagi Warga Terdampak

NUSA TENGGARA TIMUR — Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat terdampak. Dalam hitungan detik, guncangan gempa memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman.

Bagi sebagian masyarakat, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini tidak lagi dapat ditempati. Bahkan bagi warga yang rumahnya masih berdiri dan tampak baik, rasa aman belum sepenuhnya kembali. Gempa susulan yang masih terjadi setiap hari membuat sebagian warga memilih tetap tinggal di tenda karena khawatir kembali ke rumah.

Berdasarkan data terkini, sebanyak 100 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sebanyak 1.298 orang mengalami luka-luka, dengan 336 orang di antaranya mengalami luka berat. Sementara itu, 150.576 warga terpaksa mengungsi akibat kerusakan rumah dan masih tingginya intensitas gempa susulan.

Posko Pengungsian

Di sejumlah wilayah, masyarakat membangun posko-posko pengungsian sederhana, termasuk hingga tingkat dusun. Dalam kondisi terbatas, mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari menghadapi ketakutan yang belum berakhir.

Bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat di sana adalah kebutuhan bahan pokok. Masih banyak yang belum mendapat bantuan karena akses yang belum 100 persen pulih, sehingga bantuan belum merata. Tidak hanya sembako, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan yang tidak kalah penting adalah bantuan psikologis untuk mereka. Sampai saat ini gempa masih terjadi setiap hari dan masih menghantui warga, sehingga mereka harus tinggal di tenda, walaupun ada warga yang rumahnya masih bagus” ujar Agil Cahyo Manembah, salah satu staf program Humanity First Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Humanity First Indonesia. Sejak gempa terjadi, Humanity First Indonesia berkoordinasi dengan relawan lokal, memantau perkembangan situasi, serta melakukan assessment untuk mengetahui kebutuhan masyarakat secara langsung.

Hasil assessment menunjukkan bahwa banyak warga terdampak berada di posko-posko pengungsian kecil yang tersebar hingga tingkat dusun. Kondisi tersebut membuat penyaluran bantuan perlu dilakukan secara langsung agar dapat menjangkau masyarakat yang belum memperoleh bantuan secara merata.

Berdasarkan kebutuhan di lapangan, Humanity First Indonesia memfokuskan respons tahap awal pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam beberapa hari terakhir, tim dan relawan telah bergerak menuju sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Posko Golosalonto, Desa Itejaya, Kecamatan Riung, serta Dusun Goloite, Desa Itejaya, Kecamatan Riung. Respons kemanusiaan kemudian terus dilanjutkan menuju wilayah Nagekeo.

Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam. Sebanyak 15 relawan terlibat dalam respons tersebut, dengan Humanity First Indonesia berkolaborasi bersama komunitas lokal Komunitas Bolonga Boys untuk membantu menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.

Dengan total penerima manfaat saat ini 113 kepala keluarga di desa Goloite dan 46 kepala keluarga di desa Nagekeo. Bantuan yang disalurkan meliputi beras, susu, air mineral, mi instan, telur, Energen, sayur-sayuran, sabun mandi, sabun cuci, popok bayi, perlengkapan perempuan, serta pakaian layak pakai.

Warga Kec. Riung yang mendapatkan bantuan logistik

Bagi masyarakat yang sedang bertahan di pengungsian, bantuan tersebut bukan sekadar kebutuhan logistik. Kehadiran bantuan menjadi bentuk dukungan bagi keluarga-keluarga yang tengah berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

Bagi Agil, kehadiran bantuan memiliki arti yang jauh lebih besar bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat kota dan masih menghadapi keterbatasan akses.

Makna kehadiran Humanity First atau bantuan apa pun dari mana saja bagi mereka adalah sebuah nyawa. Mereka merasa berada di sebuah pulau kecil di wilayah timur yang jauh dari kota besar. Bantuan sekecil apa pun bagi mereka sangat berarti. Mereka merasa memiliki keluarga jauh, orang yang peduli terhadap mereka, walaupun berada di tempat yang jauh, ungkapnya.

Hingga saat ini, bantuan Humanity First Indonesia telah menjangkau tiga wilayah dan tiga titik posko pengungsian, dengan total bantuan sebanyak Rp. 9.009.304,-.

Namun, respons kemanusiaan ini belum berakhir. Masih terdapat wilayah yang membutuhkan bantuan dan masyarakat yang belum terjangkau secara merata karena keterbatasan akses.

Humanity First Indonesia berkomitmen untuk terus menyisir wilayah-wilayah terdampak dan mengidentifikasi lokasi yang masih membutuhkan bantuan, khususnya masyarakat yang belum atau masih minim mendapatkan dukungan.

Kita akan terus menyisir lokasi yang memang membutuhkan dan kurang mendapat bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana. Tetapi tentu kami membutuhkan bantuan dana dari para donatur untuk mendukung aksi kemanusiaan ini,ujar Agil.

Bagi masyarakat terdampak, proses pemulihan tidak berhenti ketika guncangan utama berakhir. Ketika gempa susulan masih terjadi, rasa takut masih menyelimuti, dan rumah belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman untuk kembali, perjuangan untuk bangkit masih panjang.

Karena itu, dukungan kemanusiaan masih sangat dibutuhkan, bukan hanya dalam bentuk bahan pokok, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan dukungan psikologis bagi masyarakat yang terus hidup dalam ketakutan akibat gempa susulan.

Humanity First Indonesia akan terus melanjutkan respons kemanusiaan bersama relawan dan komunitas lokal untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Sebab bagi mereka yang berada jauh dari pusat kota dan memiliki akses bantuan yang masih terbatas, sebuah bantuan kecil dapat memiliki arti yang begitu besar: sebuah tanda bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa masih ada yang peduli, dan bahwa mereka tidak harus menghadapi masa sulit ini sendirian.

anak-anak rumah belajar namorambe
KNOWLEDGE FOR LIFENEWSORPHAN CARE

Dari Tasikmalaya hingga Namorambe, Humanity First Indonesia Rayakan Hari Anak Nasional Bersama Anak-Anak Indonesia

Dari Tasikmalaya hingga Namorambe, Humanity First Indonesia Rayakan Hari Anak Nasional Bersama Anak-Anak Indonesia

By Deslia Nisrina Hanifa; Kontributor HF Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 — Di dua tempat yang berbeda, tawa anak-anak terdengar menghangatkan suasana. Menjadi peringatan Hari Anak Nasional, anak-anak Humanity First Indonesia merayakannya di LKSA Hasanah Kautsar dan Rumah Belajar Namorambe.

Di Tasikmalaya, anak-anak berkumpul dalam peringatan Hari Anak Nasional bersama Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Tasikmalaya. Sementara di Rumah Belajar Namorambe, Sumatera Utara, anak-anak mengisi hari dengan belajar, bermain, dan berkarya bersama para pengurus dan relawan Rumah Belajar Namorambe.

Meski berlangsung di lokasi yang berbeda, keduanya membawa semangat yang sama: menghadirkan ruang yang aman, penuh kasih sayang, dan memberi kesempatan bagi setiap anak untuk tumbuh, belajar, serta meraih cita-citanya.

Melalui dua program binaannya, LKSA Hasanah Kautsar di Tasikmalaya dan Rumah Belajar Namorambe, Humanity First Indonesia memperingati Hari Anak Nasional 2026 sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pemenuhan hak anak melalui pendidikan, pengasuhan, perlindungan, dan pemberdayaan.

Sebagai bagian dari peringatan Hari Anak Nasional, anak-anak asuh LKSA Hasanah Kautsar mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh KPAD Kota Tasikmalaya bersama berbagai unsur pemerintah, lembaga sosial, komunitas, dan masyarakat.

Beragam kegiatan edukatif dan interaktif mengajak anak-anak untuk mengenal hak-haknya, membangun rasa percaya diri, belajar bekerja sama, serta berani menyampaikan pendapat dalam lingkungan yang aman dan menyenangkan.

Ketua KPAD Kota Tasikmalaya, Rina Marlina, menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi seluruh elemen masyarakat.

“Kami ingin mengajak kepada semuanya bahwa sebetulnya kegiatan ini bukanlah hanya sekedar seremonial tahunan saja. Melainkan pengingat bagi kita semua bagaimana supaya kita memikirkan dan tetap konsisten dalam memperjuangkan pemenuhan anak-anak dan perlindungan anak khususnya di Kota Tasikmalaya” ujar Rina Marlina.

“Karena anak-anak adalah merupakan generasi bangsa yang dia sekarang sedang bertumbuh, sedang belajar dan membangun mimpi di hadapan kita semua”, lanjutnya.


Menurutnya, Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak, sehingga setiap anak dapat tumbuh tanpa rasa takut, memperoleh pendidikan yang layak, dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Semangat tersebut sejalan dengan komitmen Humanity First Indonesia dalam menghadirkan program-program yang mendukung tumbuh kembang anak. Melalui LKSA Hasanah Kautsar, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengasuhan, tetapi juga pendampingan pendidikan, pembinaan karakter, dan lingkungan yang mendorong mereka berkembang secara optimal.

Semangat Hari Anak Nasional juga terasa hangat di Rumah Belajar Namorambe, salah satu program pendidikan Humanity First Indonesia di Namorambe, Sumatera Utara.

Sejak pagi, anak-anak mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan kreativitas, membangun kepercayaan diri, sekaligus mempererat kebersamaan. Mulai dari aktivitas literasi, permainan edukatif, kegiatan pohon impian dan sidik jari sebagai simbol harapan dan cita-cita anak-anak, pembagian surat motivasi untuk anak hingga foto bersama sebagai penutup kegiatan, seluruh rangkaian acara menghadirkan suasana rumah belajar yang menyenangkan.

Bagi Humanity First Indonesia, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu, tetapi juga membangun karakter, kepedulian, dan harapan.

Agil Cahyo Manembah selaku staff program Humanity First Indonesia, menyampaikan bahwa setiap pertemuan bersama anak-anak merupakan kesempatan untuk menumbuhkan semangat belajar dan keyakinan bahwa mereka mampu meraih masa depan yang lebih baik.

“Kegiatan Hari Anak Nasional bukan sekadar mengisi waktu dengan permainan atau perlombaan. Kami ingin setiap aktivitas menjadi ruang belajar yang menyenangkan, tempat anak-anak membangun keberanian, bekerja sama, dan merasakan bahwa mereka dihargai. Itulah semangat yang terus kami hidupkan di Rumah Belajar Namorambe.”

“Bagi kami, Hari Anak Nasional bukan hanya tentang merayakan satu hari istimewa, tetapi tentang memastikan setiap anak pulang dengan senyum, pengalaman baru, dan semangat untuk terus belajar. Melalui Rumah Belajar Namorambe, kami ingin menghadirkan ruang yang aman dan menyenangkan, tempat anak-anak bebas bertanya, berkreasi, dan percaya bahwa mimpi mereka layak untuk diperjuangkan.” tambahnya.


Bagi anak-anak, Hari Anak Nasional menjadi momen yang penuh keceriaan. Bermain bersama teman-teman, belajar hal-hal baru, dan mendapat perhatian dari para relawan menjadi pengalaman yang menguatkan rasa percaya diri mereka.

Bagi Humanity First Indonesia, Hari Anak Nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa dibangun melalui perhatian yang diberikan kepada anak-anak hari ini.

Ahmad Masihuddin selaku Vice Chairman Humanity First Indonesia, menyampaikan bahwa melalui pendampingan di LKSA Hasanah Kautsar dan Rumah Belajar Namorambe, Humanity First Indonesia terus berupaya menghadirkan ruang yang aman bagi anak untuk belajar, bermain, bertumbuh, dan bermimpi.

“Ada sebuah pepatah kuno Afrika berbunyi: “Dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak”. Pepatah itu mengambarkan: “Membesarkan dan melindungi anak bukan hanya tugas orang tua kandung namun seluruh elemen masyarakat bertanggung jawab menciptakan ruang publik yang ramah anak dan aman untuk anak – anak”. Apa yang dikerjakan oleh Humanity First di LKSA Hasanah Kautsar dan di Rumah Belajar Namorambe merupakan kerja bersama dalam menjada masa depan anak bisa terus tercapai. Selamat Hari Anak Nasional”, ujarnya.


Dari Tasikmalaya hingga Namorambe, langkah-langkah kecil terus dilakukan setiap hari—mendampingi proses belajar, membangun kepercayaan diri, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membuka jalan bagi anak-anak untuk meraih cita-cita mereka.

Di Hari Anak Nasional ini, Humanity First Indonesia percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan untuk seorang anak akan meninggalkan jejak besar bagi masa depan. Sebab ketika seorang anak merasa dicintai, didengar, dan diberi kesempatan untuk bertumbuh, sesungguhnya harapan sedang ditanam—bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Indonesia.

ft image terima kasih
GLOBAL HEALTHKLINIK REHMATKNOWLEDGE FOR LIFENEWSORPHAN CARE

Terima Kasih Sobat Kemanusiaan, Sedekah Anda Hadirkan Harapan bagi Banyak Kehidupan

Di setiap senyum penerima manfaat, tersimpan kebaikan hati Sobat Kemanusiaan yang memilih untuk berbagi. Setiap sedekah yang dititipkan bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga menjadi harapan, semangat, dan bukti bahwa kepedulian masih tumbuh di tengah masyarakat.

Berkat kepercayaan dan kepedulian para Sobat Kemanusiaan, berbagai program kemanusiaan dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan. Mulai dari bantuan pangan, layanan kesehatan, pendidikan hingga respons kebencanaan, seluruhnya menjadi wujud nyata dari semangat gotong royong dalam menebarkan kebaikan.

LKSA Hasanah Kautsar

Salah satu kabar menggembirakan datang dari LKSA Hasanah Kautsar. Berkat dukungan dari Sobat Kemanusiaan, keluarga besar LKSA kini bertambah dengan hadirnya dua anak asuh yaitu Cinta Ramadhani yang berasal dari Bangka Belitung dan Muhammad Alif dari Cianjur. Kehadiran mereka menjadi amanah baru yang akan terus didampingi agar dapat tumbuh, belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.

Dua anak asuh baru di LKSA Hasanah Kautsar

Tak hanya itu, semangat belajar anak-anak LKSA Hasanah Kautsar juga membuahkan prestasi yang membanggakan. Faisya Almas berhasil meraih peringkat 1, Suraiya Salsabila Azzahra meraih peringkat 2, Muhammad Wildan meraih peringkat 3, dan Aininur Alifah Qolbi meraih peringkat 4 di sekolah masing-masing.

Semangat belajar anak-anak Rumah Belajar Namorambe pun tak kalah membanggakan. Eginta Perbina Gr Sembiring berhasil meraih peringkat 1, Najma Masiha berhasil meraih peringkat 2, Alona Sesilia Br Ginting berhasil meraih peringkat 2, dan Cahaya Br Sipayung berhasil meraih peringkat 3 di sekolah masing-masing.

3 anak didik Rumah Belajar Namorambe yang meraih Juara Kelas

Prestasi ini menjadi bukti bahwa setiap kebaikan yang diberikan turut membuka jalan bagi anak-anak untuk terus berkembang dan menggapai cita-cita.

Klinik Rehmat Gunungkidul

Kabar baik juga datang dari layanan kesehatan yang terus berkembang berkat dukungan Sobat Kemanusiaan, Klinik Rehmat. Hingga Juni, jumlah kunjungan pasien telah mencapai 50 kunjungan, mencerminkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang diberikan.

Berbagai pelayanan kesehatan telah diberikan, di antaranya tindakan sirkumsisi kepada 4 pasien, perawatan luka modern kepada 3 pasien, intra-articular injection kepada 2 pasien, layanan immune booster kepada 7 pasien, serta home care kepada 2 pasien.

Salah satu pasien sirkumsisi (sunatan) di Klinik Rehmat

Setiap layanan yang diberikan merupakan wujud nyata bahwa sedekah yang dititipkan telah menghadirkan akses kesehatan yang lebih baik dan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.

Sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan, kami menyampaikan apresiasi kepada para Sobat Kemanusiaan yang telah mempercayakan sedekahnya untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.

Apresiasi kami sampaikan kepada:

1INNE YULIANE17RIZKI-KHADIJAH-REHANAH33MUHAMMAD ANWAR
2TAHIR HADIWIJOYO18KHALIDA JAMILAH34TAHIRA RETNO SUKMA KASIH
3MIRATI WENINGTIAS19PIR ZADA ALAM GIR35YUYUN ISKONDIYAH
4ALTO OMAR20NURSITI SURIASIH36LELY DAMITA
5HERYANI21FATHAN ABDUSSALAM37NURUN NISA SALEH
6NADYA SIDDIQA22AHMAD MARDIANA SOFYAN38WASEEM AHMED
7MUNEEBA ACHMAD23MANSOOR AHMAD ZAHID39SUSI PARIDAWATI
8A. REGITA CAHYANI24M. ANAHDI SHOLIHIN40AZIZ ZARKASY
9AZEEMA SHAFA RABBANI25DWI HARYANTO41ASEP DARMAWAN
10NINA SJAFWAN26DANY KUSUMA PUTRI42FITRIA RAHMAWATI
11NORI KEDARSARI27IRWAN TAFRIDJA43SUTJI LESTARI
12DIAN EKAWATI28HAURA MAHDIYYA44HAIDAR AHMAD
13MUHAMAD ARIF MAKATITA29RAFIKA SETIASIH45YAQUB AHMAD IRFANI
14SUSAN ASMARANI30FAKIH AHMAD46NASIR HAYAT
15ANITA SETYAWATI31TASYAFIR47ARSALAN AHMAD
16AMATUN NASIER32EVA RAHAYU48NURHASANAH

dan seluruh Sobat Kemanusiaan lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.

Setiap kontribusi dari Sobat Kemanusiaan memiliki arti yang begitu besar. Bagi penerima manfaat, sedekah bukan sekadar bantuan materi melainkan menjadi penyemangat untuk bangkit, bertahan dan melanjutkan kehidupan dengan penuh harapan.

Dari setiap kebaikan, lahir manfaat nyata yang membantu keluarga, mendukung pendidikan anak, menghadirkan layanan kesehatan, hingga meringankan beban masyarakat terdampak bencana. Setiap rupiah yang disedekahkan telah menjelma menjadi kebermanfaatan yang nyata.

Kami percaya bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya dan akan selalu menginspirasi kebaikan lainnya. Ketika satu tangan memberi, banyak tangan lainnya akan merasakan manfaatnya.

Semoga setiap sedekah yang telah ditunaikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dilipatgandakan pahalanya, diberikan keberkahan dalam rezeki, kesehatan, serta kemudahan dalam setiap langkah kehidupan.

Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan kebaikan ini. Mari terus melangkah bersama, memperluas manfaat dan menghadirkan harapan bagi lebih banyak saudara yang membutuhkan.

Karena bersama Sobat Kemanusiaan, setiap kebaikan akan selalu berarti.

WhatsApp Image 2026-07-16 at 08.28.04
GLOBAL HEALTHKNOWLEDGE FOR LIFEORPHAN CAREPRESS RELEASE

Gerakan Sedekah Kemanusiaan “Berkat”: Menghadirkan Harapan Melalui Setiap Kebaikan

Gerakan Sedekah untuk Kemanusiaan

Setiap kebaikan yang ditunaikan melalui sedekah tidak hanya menghadirkan bantuan, namun melahirkan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan. Karena dibalik setiap kebaikan selalu memiliki cerita.

Ada senyum yang kembali merekah, harapan yang kembali menyala dan mimpi yang kembali mereka rajut untuk diwujudkan. Ada keluarga yang kembali memiliki harapan, anak-anak yang dapat melanjutkan pendidikan serta masyarakat yang mampu bangkit dari berbagai keterbatasan.

Humanity First Indonesia menghadirkan sebuah Gerakan Sedekah Kemanusiaan bertemakan “Berkat: Buah Cerita Penerima Manfaat”, sebuah gerakan yang mengangkat kisah nyata sebagai bukti bahwa kepedulian mampu menghadirkan perubahan.

Melalui gerakan ini, bersama sobat kemanusiaan dapat melihat secara nyata bagaimana sedekah menjadi jalan hadirnya keberkahan bagi banyak kehidupan. Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi dari perubahan nyata yang dirasakan oleh mereka yang menerima manfaat.

Berbagai kisah inspiratif dari para penerima manfaat dihadirkan sebagai pengingat bahwa inti dari aksi kemanusiaan adalah menghadirkan manfaat bagi sesama manusia.

Mereka bukan hanya sosok yang menerima bantuan, namun mereka juga saksi hidup bahwa sedekah memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Dari perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari, memperoleh akses pendidikan, hingga kembali memiliki harapan untuk bangkit dari keterbatasan. Setiap kisah dari mereka menjadi refleksi nyata dari manfaat yang lahir berkat kepedulian sobat kemanusiaan.

“Berkat: Buah Cerita Penerima Manfaat” ingin mengajak sobat kemanusiaan melihat sedekah dari sudut pandang yang lebih dekat dan lebih bermakna. Sobat kemanusiaan telah menjadi bagian dari rantai kebaikan yang tidak pernah terputus.

Tidak hanya sekadar tentang angka atau jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi tentang kehidupan yang tersentuh, keluarga yang kembali tersenyum dan masa depan mereka yang perlahan dibangun kembali melalui uluran tangan sobat kemanusiaan.

Lebih dari sekadar menyampaikan cerita, Gerakan Sedekah Kemanusiaan juga membawa pesan-pesan mengenai keutamaan sedekah. Setiap donasi yang diberikan merupakan wujud kepedulian yang tidak hanya meringankan beban sesama, namun juga memperkuat nilai-nilai empati, solidaritas, dan gotong royong.

Setiap sedekah, sekecil apa pun, memiliki dampak besar dalam membantu mereka yang sedang menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ketika satu tangan memilih untuk berbagi, akan lahir lebih banyak harapan yang menyala dan lebih banyak kehidupan yang berubah.

Melalui langkah kecil yang dilakukan bersama, kebaikan akan terus bertumbuh menjadi berkah yang dirasakan oleh semakin banyak orang. Sebab, ketika kepedulian dipertemukan dengan aksi nyata, lahirlah cerita-cerita kemanusiaan yang akan terus hidup dan menginspirasi.

Dibalik setiap uluran tangan sobat kemanusiaan, selalu ada cerita tentang harapan yang hidup kembali, masa depan yang mulai dibangun dan kemanusiaan yang terus tumbuh. Bersama Sobat Kemanusiaan, Gerakan Sedekah Kemanusiaan akan terus menghadirkan lebih banyak kisah, lebih banyak harapan dan lebih banyak keberkahan bagi sesama.

Setiap sedekah dari sobat kemanusiaan menanamkan harapan bagi kehidupan mereka yang lebih baik di masa depan.

head_Pembagian daging Kurban di Aceh
ARTICLEFOOD SECURITY

Hewan Kurban HF Menjangkau Wilayah 3T, Menebar Bahagia Hingga ke Penjuru Negeri

Pembagian daging Kurban di Aceh (Sumber: dokumentasi HFIdn)

Hewan Kurban HF Menjangkau Wilayah 3T, Menebar Bahagia Hingga ke Penjuru Negeri

By Ahmad Masihudin; Vice Chairman HF Indonesia

Takbir menggema dari masjid-masjid, mengalun bersama semangat perayaan Idul Adha. Di banyak tempat, suara sapi dan kambing seolah menjadi bagian dari denyut kebahagiaan hari raya, hari ketika makna pengorbanan diterjemahkan menjadi kepedulian dan berbagi. Namun di balik gegap gempita itu, masih ada wilayah yang jauh dari hiruk pikuk kota, tempat sebagian masyarakat bahkan belum pernah merasakan nikmatnya daging kurban di meja mereka.

Berangkat dari kenyataan tersebut, HF tahun ini mengarahkan fokus distribusi hewan kurban ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), wilayah yang kerap dihuni masyarakat pra sejahtera, termasuk daerah dengan tingkat kerentanan sosial dan persoalan stunting. Di tempat-tempat yang jarang tersentuh distribusi besar, daging kurban bukan sekadar makanan, tetapi menjadi simbol hadirnya harapan dan rasa diperhatikan.

Tidak hanya menjangkau wilayah 3T, HF juga menyalurkan hewan kurban ke lokasi-lokasi terdampak bencana di Aceh Tamiang, serta ke titik-titik program kemanusiaan HF seperti Panti Hasanah Kausar, Klinik Rehmat, dan Rumah Belajar HF di Fakfak dan Sumatra Utara. Tempat di mana kehidupan dan semangat berbagi terus ditumbuhkan.

Bahagianya warga di Timor Tengah Selatan (TTS) saat menerima daging kurban. TTS merupakan salah satu desa yang terisolir di NTT (Sumber: dokumentasi HFIdn)

Tahun ini, amanah besar datang dari para shahibul qurban. Sebanyak 29 sapi dan 3 kambing berhasil dihimpun dan didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia, meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Sabu Raijua, Papua Barat, Papua Selatan, Sumatera Utara, hingga Aceh Tamiang dan kabupaten kecil lainnya di 32 wilayah. Rangkaian distribusi ini, sekitar 15.273 penerima manfaat merasakan langsung kehangatan Idul Adha melalui daging kurban yang dibagikan.

Amanah tersebut hadir dari dukungan para shohibul qurban yang mempercayakan kurbannya ke HF Indonesia, HF USA, HF Australia, dan HF Internasional yang juga mendistribusikan hewan kurbannya untuk didistribusikan di wilayah Indonesia. Sebuah kolaborasi lintas negara yang menyatukan kepedulian dalam satu tujuan yaitu menghadirkan kebahagiaan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian.

Di Kepulauan Sabu Raijua, salah satu penerima manfaat yang merupakan anak yatim piatu di panti asuhan menyampaikan rasa syukurnya dengan sederhana namun menyentuh:

“Senang mendapatkan daging kurban dari HF. Baru pertama kali mendapatkan daging kurban. Mudahan tahun depan ada lagi ya. Terima kasih HF dan selamat Idul Adha.”

Ucapan itu menjadi pengingat bahwa kadang sebuah potongan daging bukan hanya tentang rasa kenyang, tetapi tentang hadirnya rasa memiliki, harapan, dan kebahagiaan yang selama ini dinantikan

Di Papua, Timor Tengah Selatan, NTT, Aceh Tamiang, dan puluhan titik distribusi lainnya, hingga mencapai 32 lokasi penerima manfaat. Masyarakat menanti dengan antusias saat hewan kurban dipotong dan daging dibagikan. Senyum, rasa syukur, dan kebersamaan menjadi pemandangan yang berulang di setiap tempat.

Melalui program HF Berkurban, HF ingin mengajak lebih banyak orang memahami bahwa kebahagiaan Idul Adha tidak seharusnya berhenti di pusat kota. Ia layak tumbuh hingga ke wilayah paling jauh, menjangkau mereka yang membutuhkan, tanpa memandang agama, suku, maupun ras. Sebab pengorbanan yang diajarkan Nabi Ibrahim bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.

SERVING MANKIND

head-artikel banjir aceh
ARTICLEDISASTER RELIEF

Humanity First Indonesia Terus Bergerak, Membawa Harapan di Tengah Luka Bencana Sumatra dan Aceh

Relawan berjalan mendistribusikan bantuan ke titip korban bencana di Aceh [HF Indonesia/red.]

Humanity First Indonesia Terus Bergerak,

Membawa Harapan di Tengah Luka Bencana Sumatra dan Aceh

Banjir dan longsor dahsyat yang menghantam Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir November 2025 telah menjadi salah satu bencana paling tragis dalam beberapa tahun terakhir.

Hujan ekstrem yang tak kunjung reda membuat sungai-sungai meluap, bendungan jebol, dan desa-desa terendam hingga atap rumah.

Akibatnya, ratusan ribu warga terpaksa mengungsi dalam kondisi minim penerangan, akses terputus, serta ketersediaan makanan yang sangat terbatas.

Banyak anak mengalami trauma mendalam, sementara para orang tua berjuang mempertahankan hidup di tengah ketidakpastian yang mencekam.

HF Indonesia memberikan trauma healing kepada anak-anak korban bencana. [HF Indonesia/red.]

Hingga 11 Desember 2025, tercatat sekitar 990 jiwa meninggal dunia, lebih dari 5.000 orang luka-luka, dan ratusan lainnya masih dalam pencarian. Hampir 834 ribu warga terpaksa mengungsi, sementara kerusakan meluas mencakup sekitar 157.900 rumah, lebih dari 1.200 fasilitas umum, 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, dan 498 jembatan yang kini tinggal puing.

Di tengah derita itu, Humanity First Indonesia hadir menjadi salah satu organisasi yang melakukan respon tanggap darurat bencana sebagai tumpuan harapan.

Momen membagikan bantuan makanan cepat saji di tengah korban bencana di Aceh. [HF Indonesia/red.]

Relawan-relawan lokal kami di Sumatra Barat dan Sumatra Utara bergerak cepat sejak hari pertama, menembus wilayah terdampak untuk memberikan bantuan darurat.

Dukungan awal diberikan berupa makanan siap santap, perlengkapan bayi, snack, serta layanan trauma healing untuk anak-anak yang paling rentan secara emosional.

Dengan kekuatan 18 relawan di Sumatra Barat dan 15 relawan di Sumatra Utara, total 600 penerima manfaat telah dibantu: 400 orang menerima makanan, 50 keluarga menerima perlengkapan bayi, dan 150 anak mendapatkan terapi trauma serta makanan ringan.

Relawan sedang observasi dan belanja kebutuhan untuk bantuan korban bencana [HF Indonesia/red.]

Kepedulian Sobat Kemanusiaan pun mengalir deras. Hingga 11 Desember 2025 pukul 19.48, donasi untuk Tanggap Darurat Banjir Sumatra mencapai Rp 222.199.314, dan jumlah ini terus bertambah seiring aksi relawan di lapangan.

Respons Humanity First Indonesia terus diperluas. Pada 11 Desember 2025, tim dikirimkan ke Sumatra Utara dan Aceh di wilayah terdampak parah, khususnya di Aceh Tamiang untuk berkoordinasi dengan pos komando utama penanggulangan bencana.

HF Indonesia berkoordinasi dengan BNPB setempat dalam proses distribusi bantuan kemanusiaan. [HF Indonesia/red.]

Humanity First Indonesia diberi mandat membuka dapur umum, menyediakan layanan kesehatan, serta melakukan trauma healing bagi anak-anak.

Insya Allah, dapur umum akan menyajikan 500–1.000 porsi makanan setiap hari sesuai kebutuhan lapangan.

Selain itu, bantuan sembako juga sedang dipersiapkan untuk wilayah Langkat, Sumatra Utara, yang terdampak cukup parah.

Setiap langkah yang kami ambil adalah langkah bersama Anda. Dukungan Anda menghadirkan kekuatan dan harapan baru bagi para penyintas yang sedang berjuang keras untuk bangkit dari masa tersulit dalam hidup mereka.

Teruslah bersama kami. Mari ringankan beban saudara-saudara kita di Sumatra dan Aceh. Dengan empati, kasih, dan aksi nyata, kita pulihkan harapan mereka, setahap demi setahap, bersama Humanity First Indonesia. [HF Indonesia/red.]

WhatsApp Image 2025-12-02 at 15.38.09
ARTICLENEWS

Langkah Indonesia di Panggung Kemanusiaan Global: Sebuah Catatan dari Humanity First Internasional 2025

Huzoor (aba) saat pidato penutupan HF International Conference 2025 (kiri) dan pengurus HF Indonesia sedang menyimak dari Indonesia (kanan) [Screenshoot tayangan MTA/HF Indonesia]

Langkah Indonesia di Panggung Kemanusiaan Global

Sebuah Catatan dari Humanity First Internasional 2025

London, 28–30 November 2025

Pada perayaan 30 tahun perjalanan Humanity First Internasional, lebih dari 450 peserta dari 67 negara berkumpul dalam sebuah konferensi dunia untuk menguatkan kembali misi pengabdian kepada umat manusia. Konferensi ini mendapatkan kehormatan besar dengan kehadiran pimpinan tertinggi Jemaat Ahmadiyah, Khalifatul Masih V, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (aba), yang menyampaikan arahan dan doa yang begitu mendalam.

Dalam pidatonya, Huzoor (aba) menegaskan bahwa keberhasilan Humanity First tidak dapat dipisahkan dari dukungan Jemaat yang selalu setia menghayati ajaran Al-Qur’an dan Islam tentang pelayanan tanpa pamrih.

Hz. Mirza Masroor Ahmad (aba) memberikan inaugurasi di hadapan peserta Humanity First International Conference 2025, London [Makhzan Tasaweer Collection/HF Indonesia]

Beliau mengingatkan kembali perjalanan Humanity First dari pemasukan yang dahulu hanya ribuan pound hingga kini mencapai jutaan, dan beliau berdoa agar di masa mendatang dapat meningkat menjadi satu miliar pound, sehingga amal kebaikan dapat menjangkau lebih luas. “Humanity First bermula dari respons kebencanaan,” ujar beliau, “dan kini berkembang melayani beragam kebutuhan kemanusiaan lainnya.” Arahan ini menjadi dorongan luar biasa bagi seluruh peserta, termasuk delegasi Indonesia, untuk melangkah dengan semangat baru.

Tahun ini juga menjadi momen istimewa karena Humanity First memberikan penghargaan sebagai simbol apresiasi bagi individu-individu dari berbagai negara yang telah menunjukkan ketulusan, konsistensi, dan kasih sayang dalam pelayanan kemanusiaan.

Rombongan HF Indonesia saat tiba di Heathrow International Airport, 27/11/25 [HF Indonesia/KAL]

Konferensi Humanity First 2025 pun menjadi salah satu pencapaian paling berkesan dalam sejarah Humanity First Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia mengirimkan delegasi dalam jumlah terbesar dengan dukungan pembiayaan oleh HF Internasional. Membawa representasi yang membanggakan bagi Tanah Air: Kandali Achmad Lubis (Chairman HF Indonesia), Ahmad Masihuddin (Vice Chairman), Anton Baskoro (Direktur PT LKU), Dr. Raden Hari (Direktur Klinik Rehmat), Soraya Maria S (Kepala Divisi Kreatif & Marketing), dan Agil Cahyo Manembah (Staf Program). Keberangkatan enam utusan ini bukan hanya mewakili organisasi, tetapi juga menghadirkan harapan ribuan relawan, donatur, dan masyarakat Indonesia yang selama 20 tahun terakhir telah menjadi fondasi kokoh bagi HF Indonesia.

Bapak Kandali Achmad Lubis, Chairman Humanity First Indonesia menerima penghargaan dari Hz. Mirza Masroor Ahmad (aba) [Screenshoot tayangan MTA/Kaninda]

Nama Indonesia bergema berkali-kali dalam berbagai sesi konferensi, menandakan apresiasi dan pengakuan internasional atas kontribusi panjang HF Indonesia. Salah satu momen paling menggetarkan adalah ketika Bpk. Kandali Achmad Lubis dipanggil secara khusus untuk menjadi salah satu penerima penghargaan langsung dari Yang Mulia Huzoor (aba), sebuah kehormatan yang tidak hanya menandai dedikasi pribadinya, tetapi juga menegaskan posisi Humanity First Indonesia sebagai salah satu cabang yang dinilai berkembang kuat dan konsisten dalam pengabdian.

Penghargaan individu lainnya juga diberikan kepada anggota delegasi, termasuk Soraya Maria dan Ahmad Masihuddin.

Dalam suasana yang sangat menyentuh, Huzoor (aba) membacakan doa untuk menutup rangkaian sesi,

“Dengan ini, saya berdoa agar Allah Yang Mahakuasa menerima dan membalas semua kontribusi tulus dan layanan yang diberikan oleh anggota Humanity First selama 30 tahun terakhir… Mari berdoa bersama.”


Doa ini terasa seperti selimut yang menutup seluruh acara dengan rasa haru, mengikat setiap hati dalam kesadaran bahwa pelayanan kepada manusia adalah ibadah yang paling indah.

Chairman HF Indonesia menerima penghargaan atas partisipasi Indonesia dalam event WALK-RUN-BIKE Across the Globe for Humanity, 6-20 September 2025 [HF Indonesia/dr. Hari]

Konferensi tahun ini sekaligus menandai perjalanan 20 tahun Humanity First Indonesia dalam melayani bangsa. Dari bencana alam, krisis kemanusiaan, hingga layanan kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat di daerah terpencil, jejak panjang ini menjadi saksi bahwa Indonesia bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga kontributor aktif dalam panggung kemanusiaan dunia. Setiap apresiasi yang diterima di konferensi ini adalah buah dari keringat ribuan relawan, dari donatur yang dermawan, dari masyarakat Indonesia yang selalu membuka pintu bagi kolaborasi kebaikan.

Dengan membawa pulang inspirasi, arahan, dan doa dari Huzoor (aba), HF Indonesia kini melangkah dengan visi yang lebih besar: “Kemanusiaan untuk Indonesia.” Sebuah tekad untuk mempersembahkan pelayanan terbaik bagi negeri ini: membangun masyarakat yang lebih kuat, berdaya, dan terlindungi.

Dengan penuh harap, seluruh keluarga besar HF Indonesia memanjatkan doa: “Semoga Allah Ta’ala selalu menuntun langkah kami, menjadikan Humanity First Indonesia semakin besar dan mampu melayani lebih banyak jiwa yang membutuhkan.”

Perjalanan ini masih panjang, tetapi harapan tetap menyala. Dan selama ada tangan yang mau bekerja, hati yang mau peduli, dan doa yang tulus dipanjatkan, kemanusiaan akan selalu menemukan jalannya.

Mari terus berjalan bersama, melayani kemanusiaan dengan penuh kasih sayang.

PHOTO-2025-10-27-14-23-43
KNOWLEDGE FOR LIFE

Akses Adil dan Setara untuk Pendidikan pada “The Hidden Gems”

Seorang ibu bahagia melihat anaknya membaca

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2024) tentang Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat secara nasional menunjukan bahwa Provinsi Papua Barat menempati urutan ke-enam terendah dengan skor 59,29. Hal ini mengindikasikan kurangnya pada akses sumber bacaan, jumlah buku, akses internet hingga durasi membaca. Beberapa faktor tersebut menjadi perhatian khusus untuk lebih mengupayakan pada membuka akses seluas-luasnya dengan semangat kesetaraan dan keadilan terhadap sumber bacaan bagi masyarakat, khususnya untuk anak-anak berusia sekolah di Papua Barat. Masih pada hasil rilis yang sama, namun pada aspek Tingkat Pembangunan Literasi Masyarakat (BPS, 2024) secara nasional–Provinsi Papua Barat berada pada peringkat ke-tigabelas dengan skor 65,86 walaupun dalam tiga tahun terakhir Papua Barat selalu berada pada peringkat lima terbawah dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat.

Salah satu murid Rumah Belajar SaTuTiBa sedang menulis bermodalkan buku dan alat tulis

Berkaitan dengan hal tersebut, pengembangan dan peningkatan minat baca dan literasi juga penting melihat pada generasi muda dan anak-anak sebagai tolak ukur jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia secara umum untuk mengangkat derajat bangsa yang mengedepankan prinsip keadilan dan kesetaraan. Anak-anak di Papua Barat adalah generasi yang sama-sama menjadi bagian dari anak-anak Indonesia pada umumnya. Mereka berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam menjalankan Pendidikan yang dijamin oleh Negara. Hadirnya Humanity First melalui program Rumah Belajar Satutiba di Kabupaten Fak-Fak adalah wujud nyata untuk memberikan akses keadilan Pendidikan untuk anak-anak Papua. Mereka adalah emas yang tersembunyi bagi generasi masa depan bangsa. Rumah Belajar Satutiba Fak-Fak merupakan bentuk kasih sayang Humanity First pada anak-anak di Papua untuk menggenggam harapan mereka untuk melihat jendela dunia. Melalui kegiatan bimbingan belajar yang dilakukan rutin dan menggelar taman baca di setiap akhir pekan, Rumah Belajar Satutiba Fak-Fak memegang dengan tulus tangan lembut anak-anak Papua agar mereka siap menggapai cita-cita. Kini, giliran kamu berkesempatan untuk bersama-sama mendukung Rumah Belajar Satutiba Fak-Fak dalam menyediakan akses literasi demi pendidikan yang adil dan setara.

Ayo sobat, kita berperan mewujudkan kasih yang nyata pada kemajuan pendidikan yang adil dan setara bagi anak-anak Papua melalui https://humanityfirst.id/campaign/rumah-belajar-hf

WhatsApp Image 2025-10-03 at 14.47.52
ARTICLEKNOWLEDGE FOR LIFE

Rumah Belajar HF SaTuTiBa (Satu Tungku, Tiga Batu) Menyalakan Api Harapan dari Fakfak Papua.

Di sebuah sudut Fakfak-Papua, terbitlah sebuah cahaya sederhana namun hangat. Cahaya itu lahir dari semangat berbagi dan kecintaan terhadap pendidikan serta kemanusiaan. Dari tangan Bapak Hafidz Bahansubu dan Ibu Mutia Siddiqa, bersama Humanity First Indonesia, berdirilah sebuah rumah belajar yang diberi nama SaTuTiBa – Satu Tungku, Tiga Batu.
Nama ini bukan sekadar nama. Ia lahir dari filosofi kearifan lokal masyarakat Fakfak: satu tungku, tiga batu. Sebuah simbol kebersamaan, keseimbangan, dan persatuan. Tungku tidak akan berdiri tegak tanpa tiga batu penopang, dan kehidupan tidak akan kokoh tanpa nilai-nilai yang menopang manusia di dalamnya.

Kegiatan di Rumah Belajar SaTuTiBa Fakfak

Dengan filosofi itu, SaTuTiBa hadir membawa tiga pijakan utama:

Batu Pertama: Pendidikan dan Literasi
Di sini, anak-anak Papua menemukan ruang untuk membaca, menulis, dan belajar yang bertujuan membangun semangat literasi. Selain itu, sebagai pendampingan belajar anak-anak untuk pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Batu Kedua: Budaya dan Karakter
SaTuTiBa tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan akar. Anak-anak tumbuh dengan kebanggaan pada tradisi, seni, dan warisan leluhur mereka. Karakter dibentuk bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan nilai, kejujuran, dan kebersahajaan.

Batu Ketiga: Kebersamaan dan Spiritualitas

SaTuTiBa menjadi ruang inklusif. Sebuah tempat di mana anak-anak, orang tua, relawan, dan masyarakat berjalan beriringan. Di sini, kebersamaan adalah kekuatan, dan spiritualitas adalah cahaya yang menuntun setiap langkah.
Lebih dari sekadar rumah belajar, SATUTIBA adalah identitas baru untuk pendidikan di kampung Lusi Peri, Fakfak Papua Barat.

Seorang anak yang sedang menulis

Ia adalah tungku kecil yang menyalakan api harapan. Api yang menghangatkan hati anak-anak, membangun keberanian untuk bermimpi, dan menyalakan tekad agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berilmu, dan berakar budaya.

SaTuTiBa ingin dikenal bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai simbol perubahan. Dari Fakfak-Papua, ia mengirimkan pesan ke seluruh Indonesia bahwa:

Pendidikan yang berakar pada budaya, bernafas kebersamaan, dan berjiwa kemanusiaan akan melahirkan generasi yang kuat.