Ketika Tanah Tak Lagi Tenang: Mereka yang Masih Bertahan di Tengah Gempa NTT
NUSA TENGGARA TIMUR — Ada masa ketika rumah bukan lagi tempat paling aman untuk pulang.
Bagi sebagian warga Nusa Tenggara Timur, masa itu datang pada 15 Agustus 2026, ketika gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah mereka.
Guncangan itu terjadi dalam hitungan detik. Namun bagi masyarakat yang mengalaminya, dampaknya tidak berhenti ketika bumi kembali tenang.
Rumah-rumah mengalami kerusakan. Warga berlarian menyelamatkan diri. Keluarga mencari satu sama lain di tengah kepanikan. Dan ketika guncangan berhenti, sebagian dari mereka justru memilih tetap berada di luar rumah.
Bukan karena tidak ingin pulang.
Tetapi karena takut.
Gempa susulan yang masih terjadi membuat sebagian warga memilih bertahan di tenda, bahkan ketika rumah mereka masih berdiri dan secara kasatmata tampak baik.
Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Sebagian dari mereka kehilangan rasa aman.

Beberapa Detik yang Mengubah Segalanya
Gempa tidak memberi banyak waktu untuk bersiap.
Ketika bumi berguncang, yang terpikir adalah menyelamatkan diri dan mencari orang-orang yang dicintai.
Barang-barang bisa ditinggalkan. Rumah bisa dipikirkan kemudian.
Yang penting adalah keluar dan tetap hidup.
Namun setelah guncangan berhenti, kenyataan mulai terlihat.
Ada rumah yang rusak.
Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.
Ada mereka yang harus meninggalkan rumah dan membawa apa yang sempat diselamatkan.
Dan ada masyarakat yang kini harus tidur di bawah tenda, menunggu keadaan benar-benar aman.
Berdasarkan data terkini, gempa tersebut menyebabkan 100 orang meninggal dunia, 1.298 orang mengalami luka-luka, dan 336 orang di antaranya mengalami luka berat.
Sebanyak 150.576 warga terpaksa mengungsi.
Tetapi angka-angka itu tidak pernah benar-benar mampu menceritakan seluruh kehilangan.
Karena di balik satu angka kematian, ada keluarga yang kehilangan seseorang yang mereka cintai.
Di balik satu angka pengungsi, ada keluarga yang harus meninggalkan kehidupan yang mereka kenal.
Dan di balik mereka yang terluka, ada perjuangan untuk pulih ketika keadaan di sekitarnya sendiri belum kembali normal.

Mereka Masih Tinggal di Tenda
Bagi masyarakat terdampak, gempa utama mungkin telah berlalu.
Namun ketakutan belum.
Gempa susulan masih terjadi. Setiap getaran dapat kembali mengingatkan mereka pada hari ketika kehidupan berubah.
“Sampai saat ini gempa setiap hari masih ada dan masih menghantui warga yang ada di sana, sehingga mereka harus tinggal di tenda, walaupun ada warga yang rumahnya masih bagus,” ujar Agil Cahyo Manembah, salah satu staf program Humanity First Indonesia.
Ada sesuatu yang sulit dibayangkan dari kondisi tersebut.
Memiliki rumah, tetapi tidak berani tidur di dalamnya.
Memiliki tempat untuk pulang, tetapi belum memiliki keberanian untuk kembali.
Karena setelah bencana, rasa aman tidak selalu bisa dibangun kembali secepat sebuah bangunan.
Bantuan yang Belum Sampai kepada Semua Orang
Di sejumlah wilayah, warga mendirikan posko-posko pengungsian kecil hingga tingkat dusun.
Mereka bertahan dengan apa yang tersedia. Namun tidak semua lokasi mudah dijangkau.
Akses yang belum sepenuhnya pulih membuat distribusi bantuan belum merata. Karena itu, kebutuhan bahan pokok menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak.
“Bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat di sana adalah kebutuhan bahan pokok. Masih banyak yang belum mendapat bantuan karena akses yang belum 100 persen pulih, sehingga bantuan belum merata,” kata Agil.
Namun kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada makanan.
Kesehatan menjadi kebutuhan lain yang harus diperhatikan. Begitu pula dukungan psikologis bagi masyarakat yang terus menghadapi ketakutan akibat gempa susulan.
Bencana tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat.
Sebagian luka tinggal dalam ingatan.
Dan ketika bumi kembali berguncang, rasa takut itu dapat kembali hadir.
Menempuh Jarak untuk Menjangkau Mereka
Di tengah keterbatasan akses, Humanity First Indonesia memilih untuk bergerak mendekati masyarakat.
Tim melakukan assessment, berkoordinasi dengan relawan lokal, kemudian menyisir wilayah-wilayah yang membutuhkan bantuan.
Perjalanan menuju sejumlah titik membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.
Sebanyak 15 relawan terlibat dalam respons kemanusiaan tersebut. Humanity First Indonesia juga berkolaborasi dengan Komunitas Bolonga Boys, komunitas lokal yang membantu menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.
Tim bergerak menuju Posko Golosalonto, Desa Itejaya, Kecamatan Riung, kemudian melanjutkan respons ke Dusun Goloite, Desa Itejaya, Kecamatan Riung.
Respons berikutnya berlanjut menuju wilayah Nagekeo.
Yang dibawa adalah kebutuhan-kebutuhan dasar:
Beras, susu, air mineral, mi instan, telur, Energen, sayur-sayuran, sabun mandi, sabun cuci, popok bayi, perlengkapan perempuan, serta pakaian layak pakai.
Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun di tengah situasi ketika kehidupan sehari-hari belum kembali normal, kebutuhan sederhana dapat memiliki arti yang besar.
Makanan membantu keluarga bertahan.
Perlengkapan bayi memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.
Perlengkapan kebersihan membantu masyarakat menjaga kesehatan di tengah kondisi pengungsian.
Dan kehadiran orang-orang yang datang membawa bantuan menyampaikan satu pesan penting:
Ada yang tahu bahwa mereka sedang membutuhkan pertolongan.

“Mereka Merasa Memiliki Keluarga Jauh”
Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota, jarak bukan hanya persoalan geografis.
Jarak juga dapat berarti keterbatasan akses terhadap bantuan.
Karena itu, kehadiran bantuan dari tempat lain memiliki arti tersendiri bagi mereka.
Agil menggambarkan makna kehadiran tersebut dengan sederhana.
“Makna kehadiran Humanity First atau bantuan apa pun dari mana saja bagi mereka adalah sebuah nyawa. Mereka merasa berada di sebuah pulau kecil di wilayah timur yang jauh dari kota besar. Bantuan sekecil apa pun bagi mereka sangat berarti. Mereka merasa memiliki keluarga jauh, orang yang peduli terhadap mereka, walaupun berada di tempat yang jauh.”
Bagi orang yang memberikan bantuan, apa yang diberikan mungkin terasa kecil.
Sebungkus beras.
Satu dus air mineral.
Satu paket kebutuhan bayi.
Namun bagi orang yang sedang kehilangan banyak hal, bantuan itu membawa pesan yang jauh lebih besar.
Bahwa mereka diketahui.
Bahwa mereka dipedulikan.
Bahwa jarak tidak membuat mereka dilupakan.
Karena Pemulihan Tidak Terjadi Dalam Sehari
Hingga saat ini, bantuan Humanity First Indonesia telah menjangkau tiga wilayah dan tiga titik posko, dengan total bantuan sebanyak Rp.9.009.304,-.
Namun perjalanan belum selesai.
Masih ada wilayah yang perlu disisir. Masih ada masyarakat yang belum mendapatkan bantuan secara merata. Masih ada kebutuhan kesehatan dan psikologis yang harus diperhatikan.
Dan masih ada warga yang memilih tidur di tenda karena belum berani mempercayai rumahnya sendiri.
Humanity First Indonesia berkomitmen untuk terus melanjutkan respons kemanusiaan bersama relawan dan komunitas lokal.
“Kita akan terus menyisir lokasi yang memang membutuhkan dan kurang mendapat bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Agil.
Namun upaya tersebut membutuhkan dukungan lebih luas.
Respons kemanusiaan tidak dapat berjalan sendiri. Kebutuhan yang besar membutuhkan dukungan dari banyak pihak—relawan, komunitas lokal, lembaga kemanusiaan, dan para donatur.
Sebab setelah gempa, ada kehidupan yang harus dibangun kembali.
Ada rumah yang harus diperbaiki.
Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ada anak-anak yang harus kembali merasa aman.
Dan ada hati yang perlahan harus diyakinkan bahwa kehidupan akan kembali berjalan.
Gempa mungkin hanya mengguncang mereka selama beberapa detik.
Namun untuk kembali merasa aman, mereka membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Maka selama masih ada warga yang menunggu bantuan, selama masih ada keluarga yang bertahan di dalam tenda, dan selama masih ada mereka yang belum terjangkau—
kemanusiaan harus terus menemukan jalan untuk datang.
Karena terkadang, sebuah bantuan tidak hanya membawa makanan.
Ia membawa kabar bahwa mereka masih diingat.
Bahwa mereka tidak dilupakan.
Dan bahwa di tempat yang jauh sekalipun, masih ada yang memilih untuk peduli.








Melalui dua program binaannya, LKSA Hasanah Kautsar di Tasikmalaya dan Rumah Belajar Namorambe, Humanity First Indonesia memperingati Hari Anak Nasional 2026 sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pemenuhan hak anak melalui pendidikan, pengasuhan, perlindungan, dan pemberdayaan.

























